by

Parah ! Mahasiswa Depresi Usai Direkrut Kelompok Radikal

JAKARTA – Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan mengaku setelah membuka hotline pengaduan korban NII, dirinya mendapatkan banyak sekali laporan terkait korban dari aktifitas gerakan radikal.

Laporan masyarakat menurut Ken beragam, awalnya biasanya sikap intoleransi, menganggap dirinya paling bisa agama sementara yang lain/ beda pandangan salah, dan ada juga yang tiba tiba melawan orang tua, mengkafirkan orang lain di luar kelompoknya, menghilangkan barang elektronik atau kendaraan, meninggalkan sekolah, kampus dan pekerjaan.

Yang paling parah adalah mengalami gangguan kejiwaan.

“Ada yang stres, depresi, bahkan sampai gila karena tertekan dan penanganan yang salah,” ungkap Ken, hari ini.

Salah satu yang sampai depresi adalah Aminah (Nama Samaran) dia mahasiswa semester akhir di IPB. Menurut orang tuanya adalah anak yang berprestasi, penurut dan rajin Ibadah. Tapi tiba-tiba berubah setelah ikut kajian bersama kawan-kawan yang ternyata sekarang diketahui adalah jaringan kelompok radikal.

Awal diketahui dari perubahan perilaku sangat menonjol, biasanya pulang tepat waktu tiba-tiba ijin pulang larut malam terus alasan ada kegaiatan bersama temen-temen kampus, pembayaran biasa tepat tiba-tiba sering telat. Bahkan sering tidak dibayarkan sampai nunggak.

Tidak sampai disitu saja, biasanya penurut tiba-tiba sering melawan orang tua bahkan mengkafirkan orang tuanya.

“Puncaknya ketika ketangkap tangan mencuri barang berharga orang tua dan akhirnya orang tua emosi karena dia melawan dan orang tuanya kalap sampai anaknya di pukul sampai tersungkur,” jelas Ken lagi.

Melihat anaknya berubah drastis dan menyangka anaknya terkena gangguan Jin karena berubah drastis. Anaknya pada akhirnya di rumahkan, dipasung layaknya orang gila, hanya di dalam kamar. Menurut keluarga sempat di datangkan dukun, kata dukun anaknya kesambet jin di pohon besar pojokan makanya anaknya harus diruwat, dimandiin kembang tujuh rupa dan ritual ritual lain oleh mbah dukun.

Anaknya sudah pernah di bawa ke rumah sakit jiwa karena dianggap ada gangguan kejiawaan tapi tidak kunjung sembuh juga.

Kurang lebih sekitar satu setengah tahun kondisi anaknya di pasung di dalam kamar, ada perubahan negatif, katanya tiap hari rambut dicabutin satu persatu dan kini kepalanya botak.

Ketika Ken Setiawan datang dan menyapa dia merespon dan ditanya dengan bahasa NII, dia pun menjawab dengan gamblang, kapan dia direkrut, siapa yang rekrut, dimana markasnya, berapana infaknya disebutkan dengan lancar. Mereka punya bahasa komunikasi khusus yang tidak diketahui banyak orang.

“Misal, TL atau tilawan, MH atau Mushahadatul Hijrah, Nuqson sama dengan lagi nggak punya duit, Amnu sama dengan waspada karena lagi tidak aman dan lain lain,” kata Ken lagi.

Menurut Ken, ini salah satu polemik, artinya bahwa orang tua memang melakukan hal karena kecintaan dan rasa sayang terhadap anak, tapi penanganan yang salah justru akan menjadikan anak tertekan, bukan tercerahkan. Anak itu sebenarnya menginginkan dialog. Kalau memang dianggap salah dimana letak salahnya dan mana yang dianggap benar.

“Kalau hanya dihakimi sepihak tanpa diberikan solusi, mustahil akan berubah pemikiranya. Anak yang masuk kelompok radikal itu bukan seperti orang dihipnotis, misal ditabok pundaknya lalu lupa segalanya,” sebutnya.

Mereka itu mendapatkan materi baru tentang sebuah pandangan hidup yang diyakini sebuah kebenaran karena sugesti yang dia dapatkan itu berdasarkan Al Quran.

“Jadi mereka yakini Al Quran pasti benar, siapa melawan mereka pasti salah,” ucapnya.

Jadi kalau hanya dihakimi dia akan semakin jauh, dan dia tidak akan mau kalah debat dengan siapapun termasuk dengan ulama/ kyai diluar kelompok mereka sebab siapapun itu kalau di luar kelompoknya adalah orang kafir. Lebih fatalnya lagi, menurut Ken adalah dengan munculnya issu radikalisme, cuci otak, hiptotis dll banyak orang tua melarang anaknya untuk belajar agama disekolah maupun di kampus.

Pernah suatu kali Ken diundang di seluruh mahasiswa baru di Undip Semarang, sekitar 6000 mahasiswa pesertanya dan pada saat paparan, Ken mencoba bertanya ke mahasiswa.

“Siapa yang tidak boleh belajar agama di kampus oleh orang tua? Separuh lebih mereka tunjuk jari dan ditanya 5 orang mahasiswa dibarisan depan jawabannya sama. Katanya takut bila anaknya masuk kelompok radikal, ini masalah baru bila anak jauh dari agama maka akan dekat dengan pergaulan bebas, narkoba dll,” jelas Ken.

Menurut Ken, orang bila sudah teradikalisasi pemikiranya maka dia akan menjadi orang yang intoleransi. Dia tidak bisa menerima perbedaan, pokoknya yang benar hanya dia dan kelompoknya sementara yang berbeda pandangan salah semua.

“Hanya dia yang benar dan yang lain salah,” bebernya lagi.

Ketika orang sudah intoleransi dan teradikalisasi pemikiranya, menurut Ken itu seperti buah yang sudah matang, tinggal petik. Artinya orang yang sudah teradikalisasi pemikiran bila ketemu dengan pelaku bom, maka tinggal poles sedikit dia bisa melakukan bom, sesuatu hal yang diluar nalar tapi dianggap sebuah jihad yang konon akan mendapatkan tujuh puluh dua bidadari dan surga tanpa hisap bersama keluarga.

“Kelompok radikal menganggap semua yang diluar kelompoknya adalah musuh dan lawan, dan masalahnya kita tidak menganggap mereka lawan. Mereka 24 jam bergerak menyebarkan kebencian terhadap negara dan pemerintah karena menganggap pemerintah adalah taghut karena sumber hukumnya bukan Al Quran, melainkan Indonesia hukumnya Pancasila yang UUD nya KUHP peninggalan Belanda, jadi harus diganti dengan negara Islam/ Khilafah Islam,” jelasnya.

Mereka kini bersatu, apapun organisasinya kalau anti pemerintah sekarang mereka menjadi satu barisan dalam menggulingkan pemerintah, jadi saatnya juga lawan.

“Jadikan mereka juga sebagai musuh bersama, jangan sampai keluarga kita, lingkungan kita menjadi sasaran perekrutan dan adu domba, mereka berharap Indonesia kacau dan rusuh sebagai alasan bahwa itu terjadi karena Indonesia tidak berdasar hukum dengan hukum Allah makanya terkena Azab dari Allah. Mereka ingin menjadikan Indonesia seperti Suriah.

“Kita tidak anti Islam, tapi perlu digarisbawahi bahwa Islam bukan radikal dan radikal bukan Islam. Bahwa Islam itu Rahmatan Lil Alamin, menjadi rahmat untuk kita semua,” tuturnya.

Tolok ukur ber Islam menurut Ken adalah ahlak. Sebab Nabi Muhammad SAW turun kemuka bumi untuk menyempurnakan ahlak, jadi kalau belajar Islam tolak ukurnya itu ahlaknya semakin baik, menjadi penyejuk di lingkunganya, menjadi tersenyum dan membuat orang lain tersenyum.

“Islam bukan pemarah, kalau belajar Islam kita menjadi pemarah dan hidupnya penuh kebencian, menyalahkan orang bahkan mengkafirkan orang lain berarti kita telah belajar Islam dengan orang yang salah,” tutup Ken.

Comment

News Feed