Oleh: Ayik Heriansyah
Juni lalu Amir Hizbut Tahrir merilis analisisnya dalam segmen Soal Jawab tentang perundingan Iran dengan Amerika di bawah judul “Apakah Kebijakan Iran Menyelamatkan Trump?”. Di-repost di laman facebook Beliau pada 13/8/2026.
Analisisnya bertolak dari kenyataan bahwa Trump gagal mencapai tujuan militernya terhadap Iran. Tekanan Iran, terutama terkait Selat Hormuz, dianggap membuat biaya perang semakin berat bagi Amerika. Perundingan kemudian dipandang sebagai jalan yang dapat menyelamatkan Trump dari tekanan politik dan ekonomi. Trump disebut terjebak dalam perundingan dan memorandum kesepahaman.
Asumsi tersebut menarik, tetapi perlu dipisahkan antara perundingan sebagai exit strategy Trump dan klaim pertanyaan bahwa Iran menyelamatkan Trump. Dua hal ini tidak identik. Trump memang dapat menggunakan perundingan untuk keluar dari perang yang mahal, tetapi keputusan itu merupakan kalkulasi Trump sendiri.

Iran dapat menciptakan tekanan yang mempersempit pilihan Trump. Ancaman terhadap Hormuz, energi dan pelayaran dapat meningkatkan biaya konflik. Namun, menciptakan tekanan terhadap lawan berbeda dengan menyelamatkan lawan.
Jika Trump kemudian memperoleh keuntungan politik dari perundingan, hal itu merupakan konsekuensi dari kalkulasi Trump, bukan tujuan strategis Iran. Menurut Amir HT, Trump “telah menemukan bahwa hal tersebut merupakan sebuah keberhasilan baginya dan memberikan kepadanya sayap politik”.
Akan tetapi sebenarnya Trump berusaha mengubah perundingan menjadi keuntungan politiknya sendiri. Jadi, jika ada pihak yang sedang menyelamatkan posisi politiknya, Trumplah yang sedang melakukannya.
Oleh karena konstruksi yang lebih tepat adalah, tekanan Iran meningkatkan biaya perang, biaya perang mempersempit pilihan Trump, lalu Trump memilih perundingan sebagai jalan keluar. Iran menciptakan tekanan, tetapi Trump yang menentukan bagaimana tekanan tersebut direspons.
Bagi Iran perundingan merupakan strategi ketahanan menghadapi tekanan militer yang dikonversi menjadi bargaining power. Iran tidak harus mengalahkan Amerika secara militer jika mampu membuat biaya perang cukup tinggi sehingga Washington memilih negosiasi.
Selat Hormuz merupakan salah satu sumber asymmetric leverage Iran. Gangguan terhadap jalur energi tersebut dapat memengaruhi minyak, pelayaran dan ekonomi global. Karena itu, Hormuz dapat menjadi alat tawar yang kuat dalam menghadapi Amerika.
Namun, Hormuz bukan kartu kemenangan tanpa batas. Gangguan berkepanjangan juga merugikan Iran dan negara-negara lain. Karena itu, kemampuan Iran menggunakan Hormuz lebih tepat disebut leverage strategis, bukan bukti otomatis bahwa Iran memenangkan perang.
Kenaikan harga energi juga tidak otomatis berarti Trump akan kehilangan dukungan politik. Politik Amerika dipengaruhi banyak faktor seperti pertumbuhan ekonomi, angka inflasi, dan keamanan dalam negeri. Karena itu, hubungan antara perang dan keselamatan politik Trump tidak sesederhana yang diasumsikan.
Perundingan pun tidak selalu berarti kekalahan. Negara dapat memilih diplomasi karena menghitung biaya eskalasi lebih besar daripada manfaatnya. Trump dapat mengakhiri konflik sekaligus mengklaim bahwa tekanan Amerika berhasil membawa Iran ke meja perundingan.
Karena itu, kepentingan kedua pihak berbeda. Trump membutuhkan exit strategy, sedangkan Iran membutuhkan leverage. Trump berusaha mengubah kompromi menjadi kemenangan diplomatik, sementara Iran berusaha mengubah ketahanannya menjadi konsesi strategis.
Kesimpulannya, analisis Amir Hizbut Tahrir tepat ketika melihat tekanan Iran dapat mempersempit pilihan Trump, tetapi terlalu jauh jika menyebut perundingan sebagai bentuk kebijakan Iran menyelamatkan Trump. Bukan Iran yang menyelamatkan Trump, melainkan Trump sendiri menggunakan perundingan untuk menyelamatkan kepentingannya.

















Tinggalkan Balasan