JAKARTA – Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPS-TIM) kembali menggelar agenda rutinnya, Jum’at Aksi Seni (JAS), pada Jumat, 2 Oktober 2026 sore tadi di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Dengan mengusung tema “Seni Melawan Diam”, acara yang berlangsung mulai pukul 16.00 hingga 21.00 WIB ini menjadi ruang ekspresi terbuka bagi para seniman dan masyarakat umum.
Sesuai tagline-nya, “Unjuk Rasa – Unjuk Karya”, JAS menegaskan sikap bahwa ketika keadaan sosial terasa semakin bising, seniman tidak harus diam. Suara itu disalurkan melalui karya.
Pantauan di lokasi, suasana acara berlangsung intim dan egaliter. Sejumlah peserta dan pengunjung tampak duduk lesehan di atas tikar merah, melingkar dan saling menyimak penampilan. Tidak ada panggung eksklusif yang membatasi. Sesuai prinsip penyelenggara, ini bukan ruang eksklusif. Siapapun boleh hadir, siapapun bisa bergabung, dan siapapun bisa unjuk karya.

Acara diisi dengan empat medium ekspresi utama:
– Puisi: Pembacaan karya-karya yang sarat akan keresahan dan sikap.
– Akustik: Penampilan musik yang mengiringi suasana sore hingga malam.
– Rap: Sebagai medium protes dan cerita urban yang kuat.
– Diskusi: Ruang bertukar gagasan antar seniman dan audiens.
Selain itu juga menampilkan pantomim oleh anak-anak muda yang konser. Pada situasi sosial.
JAS sendiri merupakan agenda rutin yang digelar FPS-TIM setiap Jumat di minggu pertama dan minggu ketiga setiap bulannya. Konsistensi ini menjadi bagian dari upaya FPS-TIM untuk terus menjaga TIM sebagai ruang berkesenian yang hidup dan berpihak pada kebebasan berekspresi.
“Karena bagi kami, karya bukan sekadar hiburan. Karya adalah cara seniman menyampaikan suara, keresahan, gagasan, dan sikap,” tulis penyelenggara dalam keterangannya.
Dengan semangat Datang. Berkarya. Bersuara. Bergerak, JAS diharapkan terus menjadi oase bagi seniman Jakarta untuk tidak diam dan terus melawan bungkam melalui karya..
FPSTIM dibentuk oleh para penggerak seni dengan berbagai macam latar belakang komunitas yang bertujuan untuk mengembalikan marwah Taman Ismail Marzuki sebagai pusat pengembangan kebudayaan rakyat yang bebas dsri komersialisasi.















Tinggalkan Balasan