Setelah selebaran, saat ini spanduk penulisan bubarkan RK ramai di masyarakat dan media sosial. Beberapa hari yang lalu warga diresahkan dengan selebaran RK yang mengajak masyarakat untuk mendukung Tarbiyah serta Khilafah dan mengganti sistem pemerintahan di Indonesia dengan syariat islam. RK adalah Rumah Kepemimpinan yang dulu bernama Program Pembinaan SDM Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri beralamat di Jl. Raya Lenteng Agung Blok Haji Umar No.20, RT.5/RW.1, Srengseng Sawah, Kec. Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan yang saat ini menjadi sorotan masyarakat. Lembaga yang merupakan bagian dari Nurul Fikri ini digadang-gadang melahirkan pemimpin masa depan yang telah didoktrin untuk menerapkan dauly atau kekuasaan islam.

Di tengah pandemi saat ini, masih saja ditemukan organisasi atau lembaga yang masih saja berupaya melakukan doktrinisasi melawan pemerintah. Hal senada disampaikan oleh Danang, mahasiswa Universitas Pancasila ini meyayangkan RK yang terus memprovokasi mahasiswa khususnya mahasiswa UI. “RK saya sudah tahu dari lama, semenjak 2015 RK ada dan memang kantornya di Lenteng Agung, setahu saya memang dari dulu warga menolak karena tempat itu dicap sebagai sarang mahasiswa yang ingin merubah Pancasila” tegas Danang (20 tahun) yang berambut ikal ini. Dirinya beranggapan bahwa pemerintah terkesan membiarkan berdirinya RK padahal jelas bahwa RK ini merong-rong kedaulatan RI. “Saya orang Islam tapi bukan berarti negara harus bersyariat Islam, kita ini bhineka tunggal ika, banyak suku, bahasa dan sebagainya”, tambah Danang.

Sebagaimana dilansir oleh TEMPO.com diketahui bahwa Yusuf Supendi, salah satu pendiri Partai Keadilan–cikal bakal Partai Keadilan Sejahtera–memastikan awal pendirian partai itu pada Juli 1998 dibantu oleh banyak tokoh Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Timur Tengah.

Tokoh-tokoh di awal pendirian PKS, kata Yusuf, merupakan aktivis Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Gerakan ini sendiri awalnya digagas sejumlah mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Madinah, Arab Saudi, termasuk Yusuf sendiri dan KH Hilmi Aminuddin.

Latar belakang Hilmi sebagai anak Panglima Militer Darul Islam, Danu Muhammad Hasan, menurut Yusuf, juga sudah diketahui banyak pendiri PK lainnya ketika itu. Hilmi mengenal Ikhwanul Muslimin di Arab Saudi dan mendirikan gerakan ini di Indonesia sepulangnya dia ke Tanah Air. Yusuf juga mengaku bagian dari gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hilmi itu.

Karena itulah, di awal masa perkembangannya, PKS banyak dibantu gerakan persaudaraan muslim itu. “Ketika pertama kali ikut Pemilu 1999 lalu, kami juga disokong secara pendanaan dari Timur Tengah,” kata Yusuf. Jumlahnya, kata Yusuf, sampai lebih dari 90 persen.

 

Temukan juga kami di Google News.