by

Fadli Zon: Jangan Ada Kesengajaan Benturkan Islam & Negara Soal Kontroversi Lomba BPIP

-Polhukam-4,026 views

TR – Fadli Zon, Anggota DPR RI dari Gerindra mengingatkan dalam memperingati kemerdekaan RI 76 tahun, BPIP seharusnya tidak memancing benturan antara agama dan negara. BPIP menyelenggarakan lomba dengan dua tema yaitu tema pertama adalah ‘Hormat Bendera Menurut Hukum Islam’ dan kedua, ‘Menyanyikan Lagu Kebangsaan Menurut Hukum Islam’.

“Kedua tema lomba tersebut sengaja untuk memecah belah bangsa. BPIP sengaja membenturkan Islam dan nasionalisme dengan mengangkat dua tema tersebut, Jangan lagi suasana politik 1950an orde lama diangkat kembali”, Ujar Fadli Zon dalam zoominari kebijakan publik Narasi Institute “Memaknai Kemerdekaan Di tengah tantangan pandemi” Jumat 13/8.

Fadli Zon ingatkan bahwa tujuan Indonesia bernegara menurut founding father Muhammad Hatta masih jauh dari kenyataan.

“Kalau kita berbicara memaknai kemerdekaan kita mesti melihat fakta sejarah, saat itu kita merdeka dari penjajahan, sekarang apa tujuan kita merdeka, menurut bung Hatta tujuan kemerdekaan untuk kebahagiaan masyarakat, untuk kesejahteraan rakyat ada kehadiran negara, adanya kebebasan berekspresi, ada keamanan dan kedamaian kita hidup di Indonesia. Itu semua masih lemah dewasa ini. Ujar Fadli Zon

Fadli Zon melihat pemimpin akhir-akhir ini mengalami pendangkalan pemahaman terkait tujuan bernegara sehingga kita sedang menuju negara police state.

“Saat ini ada kedangkalan tokoh-tokoh kita yang membenturkan antara Islam dan Pancasila. Bangsa kita sangat rawan akan bubar kalau pemimpin Indonesia lemah dan tidak faham sejarah. Saat ini banyak akrobat yang terjadi di bidang politik dan hukum ini berpotensi memunculkan distrust. Masyarakat masih jauh dari kesejahteraan, akebahagiaan, kebebasan dan kedamaian. Kita perlahan menuju negara Police state” ujar Fadli Zon

Fadli Zon merefleksikan 76 tahun merdeka dengan bertanya apakah kita semakin bahagia, semakin sejahtera dan semakin bebas berekpresi dan makin damai saat ini. Menurutnya Indonesia masih jauh dari cita-cita kemerdekaan.

“Saat ini apakah masyarakat kita semakin bahagia, apakah masyarakat semakin sejahtera, apakah masyarakat bebas ekspresi dan kedamaian, yang ada saat ini kita semakin jauh dari cita cita kemerdekaan” Ujar Fadli Zon

Fadli Zon mengatakan bahwa dalam beberapa indikator kesejahteraan kita mengalami penurunan. Ekonomi turun, demokrasi turun, hukum tidak tegak dan kebahagiaan, kebebasan dan kedamaian terusik, perlahan Indonesia menuju negara police state.

“Baik secara ekonomi dan demokrasi ranking kita menurun di dunia. Kita banyak pembangunan di Indonesia daripada membangun Indonesia. Indonesia dari hari ke hari semakin besar gapnya. Hukum diperlakukan sesuai selera, ini fenomena yang saat ini terjadi. Jangan sampai ada pemimpin negeri ini yang merasa negeri ini milik bapaknya, milik kakeknya.

Fadli Zon melihat Elit terlihat gagap selama masa pandemi COVID19 berlangsung, sehingga terjadi banyak salahnya daripada beresnya dalam menangani pandemi COVID19.

“Dalam situasi covid dari awal pemimpin negeri ini denial terhadap covid dari awal virus ini muncul dan menganggap enteng saat ini yang meninggal 112.000 karena covid.
Masalah data yang sangat elementer ini masih tetap bermasalah. Mesti memiliki pemimpin yang memahami secara holistik permasalahan bangsa, pemimpin yang rendah hati, Di tengah krisis kita perlu seorang pemimpin yang cakap ini ditulis Bung Hatta tahun 1932.harus dipersiapkan seorang pemimpin yang cakap dan ini tidak bisa taked for granted”, Ujar Fadli Zon.

Fadli Zon melihat Presidential Threshold perlu diturunkan agar memicu lahirnya pemimpin-pemimpin baru yang lebih berkompetensi untuk memimpin bangsa.

“Begitu banyak kasus kasus yang masuk ke MK, belum percaya kepada sistem. Pembatasan PT ini membatasi munculnya pemimpin, masyarakat dipaksa untuk memilih itu yang membuat demokrasi menjadi jauh dari harapan para founding father kita dulu”. Ujar Fadli Zon.

Comment

News Feed