by

Neraca Perdagangan Maret 2018 Positif, Jangan Gembira Dahulu

-Ekonomi-282 views

Oleh Matnoer.com l Achmad Nur Hidayat MPP
Pengamat Kebijakan Ekonomi

Setelah defisit pada Desember, Januari dan Februari, pada Maret 2018 neraca perdagangan mencatatkan surplus senilai 1,09 miliar USD. Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa surplus tersebut berasal dari surplus sektor nonmigas senilai 2,02 miliar USD, sementara sektor migas menekan dengan mencatatkan defisit sebesar 924,5 juta USD.

Namun, bila melihat dari kumulatif neraca perdagangan Januari-Maret 2018 neraca perdagangan mencatatkan surplus sebesar 282,8 juta USD, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2017 yang mencapai 4,07 miliar USD.

Kinerja perdagangan Indonesia triwulan pertama tahun 2018 jauh lebih rendah dari pada tahun 2017. Dampaknya adalah potensi depresiasi mata uang rupiah akan lebih besar lagi dibanding tahun 2017.

Kekhawatiran terhadap pelemahan nilai tukar lebih dalam dan penurunan pertumbuhan ekonomi sangat terlihat jelas di triwulan berikutnya manakala tim ekonomi pemerintah tidak antisipasi khususnya serangan AS, Inggris dan Perancis terhadap Suriah yang akan menggangu lalu lintas perdagangan.

Pada Maret 2018, Postur perdagangan Indonesia terlihat positif dengan Amerika Serikat dengan surplus mencapai 2,28 miliar USD, India sebesar 2,09 miliar USD, dan Belanda senilai 678 juta USD pada maret.

Sementara itu perdagangan Indonesia terlihat negatif dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang mencapai 3,81 miliar USD, diikuti Thailand sebesar 1,1 miliar USD, dan Australia sebesar 602 juta USD.

*Defisit Migas Memburuk*

Meskipun Maret 2018, neraca perdagangan surplus, namun defisit minyak dan gas terjadi empat bulan berturut-turut sejak Desember 2017, Januari, Februari dan Maret 2018. Bahkan Defisit yang berasal dari rekening minyak dan gas memburuk dari bulan lalu yaitu sebesar 870 juta USD pada Februari 2018, saat ini defisit migas sebesar 924,5 juta USD. Ada kekhawatiran bahwa jika defisit sektor migas lebih buruk maka harga BBM harus naik dan akhirnya menurunkan daya beli masyarakat, menekan rupiah lebih jauh, dan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

*Proteksionis dan Perang Suriah Mengkhawatirkan Perekonomian Indonesia.*

Tren kebijakan proteksionis, terutama yang melibatkan dua ekonomi terbesar, AS dan China, cukup mengkhawatirkan. Ini akan mematahkan perdagangan yang sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih tinggi. Indonesia akan mendapat dampak karena Cina dan AS adalah mitra dagang utama. Meskipun perang dagang antara AS dan China juga dapat memberi manfaat bagi Indonesia, jika tarif yang lebih tinggi berlaku untuk produk-produk Cina tidak sesuai dengan produk Indonesia yang masuk ke AS.

Perang suriah yang dipicu dari sikap agresif tiga negara barat yaitu AS, Inggris, dan Persncis menambah ancaman keamanan dunia. Resolusi keamanan yang mengutuk serangan senjata kimia diveto oleh Rusia karena Rusia selalu mendukung Pemerintahan Assad. Sekutu Assad lainnya adalah Iran, tentu tidak akan tinggal diam atas serangan 3 negara barat tersebut.

Peta geopolitik yang sangat dinamis tersebut tidak menguntungkan untuk perdagangan dunia. Ancaman perang antar benua menjadi meningkat dan potensi pertumbuhan ekonomi dari sisi perdagangan semakin berkurang.

Pemerintah harusnya aktif dalam mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi selain perdagangan dan investasi jika kondisi keamanan dunia tersebut terus menurun.

*Tidak ada investasi Baru Sektor Migas*

Upaya untuk mengurangi defisit perdagangan minyak dan gas dapat diatasi jika pemerintah serius mengembangkan energi yang dapat diperbaharui. Jangankan investasi energi yang dapat diperbaharukan, investasi sektor minyak dan gas, sejak pemerintahan Jokowi terpilih, hampir tidak ada investasi baru yang signifikan. Upaya menarik investasi melalui skema baru dari gross split tidak menarik investor. Masalah pajak untuk eksplorasi belum terselesaikan. Seolah-olah kebangkitan energi yang dapat diperbaharui hanyalah retorika yang jauh dari kenyataan.

Comment

News Feed