JAKARTA – Perubahan lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah maupun petugas kebersihan. Kesadaran dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Pesan tersebut disampaikan Ketua RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Jakarta Selatan, IPTU Imam Basori, yang juga dikenal sebagai inovator Bang Jali (Bareng Jaga Lingkungan), saat mengajak masyarakat Manggarai Selatan untuk membangun budaya memilah dan mengelola sampah mulai dari rumah tangga.
Dengan semangat menggerakkan masyarakat, Imam Basori menyerukan sebuah pesan yang menjadi prinsip perubahan:
“JANGAN CUMA JADI PENONTON. JADILAH PELAKU PERUBAHAN!”

Menurut Imam Basori, persoalan sampah tidak akan selesai jika masyarakat masih mengandalkan pola lama, yakni membuang seluruh sampah tanpa melakukan pemilahan sejak dari sumbernya.
“Warga Manggarai Selatan, saya mau bertanya! Sampai kapan kita mau membuang sampah dengan cara yang sama, tetapi berharap lingkungan kita berubah?
Kalau ingin lingkungan bersih, perilaku kita harus berubah! Mulai dari hal sederhana, pilah sampah organik dan anorganik dari rumah.
Jangan menunggu orang lain bergerak. Jangan menunggu instruksi. Jangan menunggu lingkungan kita bermasalah baru kita sadar!
Mari kita buktikan, Manggarai Selatan bukan hanya bisa berubah, tetapi bisa menjadi contoh perubahan!
Ingat, perubahan besar tidak dimulai dari langkah besar. Perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama-sama.
Manggarai Selatan bergerak, pilah sampah mulai dari rumah!” tegas Imam Basori.
Empat Pilar Bang Jali: Membangun Ekosistem Perubahan dari Lingkungan Terkecil
Dalam penyampaiannya, Imam Basori juga memperkenalkan konsep empat pilar inovasi Bang Jali yang telah diterapkan di lingkungan RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Jakarta Selatan.
Konsep ini dirancang untuk membangun lingkungan yang tidak hanya bersih, tetapi juga aman, cerdas, produktif, dan berdaya melalui keterlibatan masyarakat.
1. Pilar Lingkungan: Sampah Menjadi Berkah
Melalui Komling (Kompos Keliling), warga didorong untuk mengumpulkan dan memilah sampah organik dari rumah. Sampah organik kemudian diolah menggunakan KOMA (Komposter Mandiri) menjadi kompos yang memiliki nilai manfaat.
Sementara itu, Smart Geprek menjadi inovasi untuk memadatkan sampah anorganik seperti botol plastik dan kaleng agar lebih mudah dikelola dan memiliki nilai ekonomi.
Pesan utamanya, sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang, tetapi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.
2. Pilar Pendidikan: Mendidik Masyarakat dengan Cara Kreatif
Bang Jali juga mengembangkan program Erte English atau RT Inggris melalui Eleven Fun Speaking.
Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah. Anak-anak, remaja, orang tua, pedagang, hingga lansia diberikan ruang untuk belajar dan meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.
Edukasi lingkungan juga dapat disisipkan melalui pembelajaran sehari-hari, sehingga kesadaran memilah sampah tumbuh sejak usia dini.
3. Pilar Keamanan: Mewujudkan Lingkungan yang Aman dan Terkoneksi
Melalui e-Gate 11 berbasis RFID, CCTV yang terkoneksi dengan smartphone, GPS 11, Alarm Panic Button, Patrolink untuk patroli berbasis QR Code, serta Si Jaga Warga melalui pengeras suara lingkungan, masyarakat dilibatkan dalam menjaga keamanan bersama.
Prinsipnya, lingkungan yang baik bukan hanya bersih, tetapi juga memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh warga.
4. Pilar Ekonomi: Membangun Kemandirian Warga
Melalui RT11Mart, Bang Jali mendorong pengembangan ekonomi lokal dan pemberdayaan UMKM warga.
Potensi ekonomi lingkungan dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi digital, pemasaran produk, serta keterlibatan masyarakat dalam membangun aktivitas ekonomi produktif.
Dengan demikian, lingkungan tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang tumbuhnya peluang usaha dan kesejahteraan masyarakat.
Mengajak Manggarai Selatan Bergerak Bersama
Imam Basori menegaskan, empat pilar Bang Jali bukan semata-mata tentang teknologi maupun fasilitas. Fondasi terpentingnya adalah perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat.
Ia mengajak warga Manggarai Selatan untuk tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadikan pemilahan sampah sebagai budaya sehari-hari.
Ajakan tersebut disampaikan dengan yel-yel penuh semangat:
Pemimpin: Manggarai Selatan?
Warga: BERUBAH!
Pemimpin: Sampah?
Warga: PILAH!
Pemimpin: Lingkungan?
Warga: BERSIH!
Bersama-sama:
MANGGARAI SELATAN BERGERAK, SAMPAH JADI BERKAH, LINGKUNGAN MAKIN INDAH!/
Suasana semakin meriah dengan pantun ajakan:
Jalan-jalan ke Manggarai Selatan, Pulangnya mampir membeli ketan.
Kalau ingin lingkungan nyaman, Yuk pilah sampah jadi kebiasaan!/
Menurutnya, keberhasilan sebuah inovasi tidak diukur dari seberapa canggih alat yang digunakan, tetapi dari seberapa besar perubahan positif yang dirasakan masyarakat.
“Jangan hanya bertanya apa yang bisa diberikan pemerintah untuk lingkungan kita. Mari bertanya, apa yang sudah kita lakukan untuk lingkungan kita sendiri?” pungkasnya.
Melalui semangat Bang Jali, Imam Basori berharap Manggarai Selatan dapat menjadi bagian dari gerakan perubahan lingkungan yang dimulai dari tingkat keluarga, RT, RW, hingga menjadi inspirasi bagi wilayah lainnya.
Karena lingkungan yang bersih bukan hanya tanggung jawab petugas kebersihan. Lingkungan yang bersih adalah tanggung jawab kita bersama.














Tinggalkan Balasan