Oleh: Ayik Heriansyah
Kemenangan Taliban di Kabul pada Agustus 2021, kemenangan kelompok yang dipimpin Ahmad al-Sharaa atau al-Jolani di Damaskus pada Desember 2024, dan ekspansi Houthi di sejumlah kota di pesisir Laut Merah Yaman pekan ini cukup fenomenal. Kemenangan kilat yang menarik untuk dicermati.
Kemenangan dari proses panjang yang tidak terlihat. Taliban pasca invansi Amerika 2001, selama dua dekade membangun jaringan, basis sosial, bergerak dan bertempur di berbagai wilayah Afghanistan. Setelah Amerika Serikat menarik diri, aparat keamanan Afghanistan menjadi lemah. Provinsi-provinsi jatuh satu demi satu dan Kabul dikuasai pada 15 Agustus 2021.
Mirip tapi tidak sama persis, keberhasilan Haiah Tahrir Syam (HTS) pimpinan Al-Jaulani menduduki Damaskus pada 8 Desember 2024 setelah HTS terlebih dahulu mengonsolidasikan basis di Idlib. Selama November, HTS merangsek dari Idlib ke Aleppo, Hama, Homs kemudian masuk ke Damaskus. Serangan cepat tersebut bertemu momentum dengan rezim yang telah terkikis oleh perang panjang, krisis ekonomi, fragmentasi elite, dan melemahnya dukungan sekutu.
Adapun Houthi di Yaman berkembang melalui proses panjang pasca krisis politik 2011-2012. Dari basis di utara Yaman, mereka memperluas dan berhasil menguasai ibukota San’a 2014. Lalu perang sengit melawan pemerintah Yaman dan Arab Saudi. Mereka memanfaatkan momentum kekalahan Amerika dalam perang melawan Iran, dimana Amerika merupakan sekutu utama Arab Saudi.
Ketiga kasus menunjukkan pentingnya momentum. Kelompok bersenjata dapat membutuhkan bertahun-tahun untuk membangun kemampuan, tetapi hanya membutuhkan beberapa hari atau minggu untuk mengubah akumulasi tersebut menjadi kemenangan. Begitu kemampuan lawan mempertahankan wilayah menurun, keseimbangan dapat berubah sangat cepat. Kemenangan di satu tempat kemudian membuka jalan bagi kemenangan berikutnya.
Menurut Charles Tilly, kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh jumlah tentara dan senjata, tetapi oleh kemampuan mengorganisasi kekerasan, menguasai sumber daya, serta mempertahankan loyalitas masyarakat dan elite. Karena itu, kelompok yang lebih kecil dapat mengalahkan negara jika pemerintah kehilangan kemampuan menggunakan sumber dayanya.
Retakan pada struktur kekuasaan biasanya terbentuk jauh sebelum keruntuhan terlihat. Selama aparat masih loyal, elite masih percaya, dan masyarakat masih menganggap negara mampu bertahan, struktur tersebut terlihat kokoh. Begitu daya ikatnya hilang, perubahan dapat berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan.
Kemenangan Taliban, HTS dan Houthi tidak muncul spontan, melainkan dibangun melalui organisasi yang rapi dan solid, struktur komando, pengalaman perang, jaringan sosial, basis teritorial, dan kemampuan membaca kelemahan lawan. Negara dapat memiliki sumber daya jauh lebih besar, tetapi kehilangan keunggulan apabila tidak mampu mengubah sumber daya tersebut menjadi kekuatan yang efektif.
Karena itu, kemenangan kilat Taliban, HTS dan Houthi sesungguhnya merupakan kemenangan panjang yang baru terlihat pada tahap akhirnya. Pelajarannya, kekuatan dalam perang asimetris tidak selalu ditentukan oleh pasukan dan persenjataan, tetapi oleh kemampuan memanfaatkan momentum, dan kelemahan lawan.
Tentu tanpa mengabaikan faktor-faktor eksternal dan pengaruh dari konstelasi negara-negara besar dunia; Amerika, Cina, Inggris, Perancis dan Rusia.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan