by

Sejumlah Tokoh Menyakini Terjadi Pengkhianatan Kaum Intelektual dalam Kasus Gerakan Mahasiswa BEM UI

-Polhukam-4,004 views

TR – Sejumlah tokoh mengatakan bahwa dalam kasus BEM UI terdapat pengkhianatan kaum intelektual. Demikian disampaikan oleh Faisal Basri Ekonom UI dan Judilherry Justam Alumni Senior HMI dalam diskusi kebijakan publik Narasi Institute yang diselenggarakan Jumat (2/7).

Faisal Basri, Ekonom senior UI mengatakan bahwa gerakan mahasiswa sejak dulu selalu dilindungi, diayomi oleh rektorat dan birokrat kampus. Baru pertama kali ini, aktivitas kemahasiswaan dipanggil dan diminta menghapus julukan king of lip service.

“Saya sejak masuk kampus UI tahun 1974 belum pernah melihat birokat UI menegur aktivitas moral mahasiswa. Dari dahulu birokrat kampus UI itu melindungi, mengayomi dan bertanggung jawab terhadap mahasiswa yang menempatkan diri sebagai orang tua bagi mahasiswa, namun saat ini terjadi kemunduran luar biasa” Ujar Faisal Basri.

Faisal menyaksikan pada tahun 1998 saat mahasiswa dan civitas akademika UI meminta Soeharto mundur, kampus UI mendiamkan aspirasi mahasiswa tersebut.

“Waktu menjatuhkan Soeharto kita berdemo di dalam kampus UI meminta Soeharto mundur kita sama sekali tidak ditegur oleh pihak kampus” Ujar Faisal basri

Faisal menilai kebebasan intelektual saat ini dihambat oleh birokrasi kampus akhirnya peran-peran intelektual menjadi tumpul. Faisal menguraikan karena dahulu rektor itu dipilih oleh para Guru Besar dan sekarang yang milih rektor UI adalah Birokrat, Teknokrat dan Konglomerat yang ada di Majelis Wali Amanat UI.

“Dulu kita menulis,mengkritik pemerintah,perusahaan pihak kampus sama sekali tidak pernah intervensi karena Ada kebebasan intelektual. Dulu yang mengangkat UI para Guru Besar sekarang yang mengangkat Rektor UI adalah Birokrat, Teknokrat dan Konglomerat. Ujar Faisal dalam Zoominari Kebijakan Publik Narasi Institute

Faisal menilai saat ini kondisi UI sudah kronis sehingga yang perlu dibina bukan mahasiswanya tetapi dosen dan Rektor yang perlu dibina.

“Keresahan itu tidak hanya dirasakan oleh BEM UI tetapi juga dirasakan oleh BEM BEM lainnya dan itu semua adalah hasil kajian”. Ujar Faisal Basri.

Faisal menilai sejak terpilihnya Rektor UI Ari Kuncoro, terjadi situasi represi dikalangan dosen UI, kebebasan kampus dan intelektualitas menurun.

“Karena situasinya represi saat ini, tidak ada dosen-dosen yang berani bicara, bahkan sudah ada yang dipecat, secara kualitas riset juga terjun bebas”. Ujar Faisal Basri

Faisal mengabarkan bahwa Rektor UI yang juga komisaris BUMN Ari Kuncoro dipilih oleh MWA dimana MWA saat ini adalah orang dekat dengan rezim

“MWA yang Ada di UI saat ini adalah orang orang yang dekat dengan rezim” Ujar Faisal Basri.

Kemerosatan intelektualitas kampus juga diakui oleh Judilherry Justam, Faldo Maldini, Bursah Zainubi dan Fuad Bawazier.

“Apa yang terjadi di UI intekektualitas merosot ini sudah terjadi 15 tahun yang lalu sejak disahkannya UU pendidikan yang baru”. Ujar Faldo Maldini

“Kampus adalah sentra intelektualitas dan kritik kepada pemerintah, watak kampus adalah watak intelektual dan watak akademik, karena itu birokrat kampus yang menghalangi adalah pengkhianatan” ujar Bursah Zarnubi

“Sejak dekrit Presiden tahun 1959 Pemerintah kita sudah mulai otoriter dan anti kritik dan dari dahulu yang mengkritik kekuasaan selalu distigma punya kepentingan, itu adalah tuduhan usang sebagaimana tuduhan terhadap BEM saat ini”. Ujar Fuad Bawazier

Judilherry Justam, Aktivis DEMA UI menyatakan bahwa kampus ditaklukan dengan memilih rektor yang sesuai keinginan penguasa.

“Cara penguasa mencampur kampus adalah dengan ikut campur dalam pemilihan Rektor” Ujar Judilherry

Judilherry Justam, Aktivis UI 1974 yang sempat ditahan orde baru menyebutkan bahwa Apa yang dilakukan BEM UI hal yang biasa saja dalam alam demokrasi bahkan ada yang terlalu berlebihan dengan mengatakan Ketua BEM UI masuk UI secara menyuap, terpapar taliban dan aktivis PKS di kampus.

“Suara dari BEM UI tentang Presiden sebagai The King of Lip Service ini sebenarnya kritik biasa namun kemudian menjadi ramai di masyarakat dan sosial media karena masyarakat kita sedang terbelah menjadi cebong dan kampret, sedang terjadi pembelahan di masyarakat sejak pilpres dan hal ini tidak sehat” Ujar Judilherry Justam yang juga Pejabat Dewan Mahasiswa 1974.

Judilherry bersaksi bahwa kritik gerakan mahasiswa 1974 dahulu lebih keras terhadap pemerintahan dibandingkan saat ini namun rektor UI tidak pernah memanggil mahasiswa UI. Ini berbentuk pengkhianatan Intelektual.

“Di masa lalu kritik aktifis DEMA UI terhadap pemerintah lebih keras tetapi Rektor UI Prof Mahar Mardjono tidak pernah memanggil DEMA UI. Di masa orde baru yang represif mahasiswa masih bisa mengktitik Orde Baru termasuk dengan karikatur terlalu berlebihan. Dulu karikatur yang dibuat mahasiswa bahkan lebih keras tetapi Rektor tidak pernah menegur mahasiswa”. Ujar Judilherry Justam dalam zoominari Narasi institute.

Leon Alvinda Putra, Ketua BEM UI menyatakan bahwa pemanggilan BEM UI oleh rektorat karena pihak kampus meminta BEM menghilangkan infografis king of lip services dan BEM UI menolaknya.

“Unggahan tersebut dinilai melanggar aturan dan harus di take out unggahannya permintaaan kampus” Ujar Leon Alvinda Putra yang juga mahasiswa FEB UI.

Leon mengatakan bahwa apa yang dilakukan BEM UI itu sudah melalui kajian dan riset dari berbagai isu seperti Omnibus Law dan UU ITE.

“Kita ini negara demokrasi tetapi ketika kita melakukan kritikan kepada pemerintah lalu tiba-tiba kita diserang buzzer. Kita BEM UI bahkan pernah ditangkap oleh Polda Metro setelah kita menyampaikan pendapat pada 1 Mei lalu”. Ujar Leon yang juga pernah menjadi asisten dosen FEB UI.

Leon berpendapat dasar kritikan tersebut karena kebijakan yang ditempuh pemerintah saat ini banyak menimbulkan korban dari masyarakat.

“Apa yang kita lakukan ini karena banyak masyarakat yang menjadi korban dari kebijakan saat ini salah satunya Bansos banyak masyarakat yang menjadi korban dari korupsi Bansos”.Ujar Leon

Faldo Maldini, Aktivis mantan BEM UI yang mendukung Jokowi menyatakan bahwa kritikan terhadap BEM biasa saja dan BEM harus siap dikomentari netizen karena sudah menyatakan sikap politiknya.

“Sebagai insan yang berpolitik adalah wajar bila ada tuduhan taliban, kadrun, tidak toleran. semuanya insan politik mengalami hal tersebut dan Leon harus lulus ujian tersebut” Ujar Faldo Maldini.

Achmad Nur Hidayat, Pakar kebijakan publik mengatakan bahwa Index Demokrasi di Indonesia dan kebebasan ekspresi sedang menurun. Karena itu pemanggilan BEM tersebut adalah indikasi kuat penurunan demokrasi nyata adanya.

“Index Demokrasi di Indonesia dan kebebasan ekspresi sedang menurun, Persoalan BEM yang dipanggil membenarkan fakta penurunan tersebut. Selain itu terdapat kecenderungan para intelektual kampus itu silence dan seolah diam akan kondisi saat ini dan dalam dunia aktivis hal ini adalah Pengkhianatan kaum intelektual”. Ujar Achmad Nur Hidayat yang juga Ketua BEM UI 2003-2004 dan pendiri Narasi Institute.

======

Comment

News Feed