by

GPI Desak Penyelenggara DWP Ismaya Live Ditutup

JAKARTA – Puluhan massa tergabung dalam Gerakan Pemuda Islam (GPI) Jakarta Raya berunjuk rasa di depan Gedung Gandaria 8 Jl. Sultan Iskandar Muda Kel Keb Lama Utara Keb Lama Jaksel, Minggu (15/12/2019).

Dalam aksinya, pengunjuk rasa meminta agar PT Ismaya Live ditutup karena telah melaksanakan acara Djakarta Warehouse Project (DWP) yang dituding sebagai ajang maksiat.

“DWP yang telah merusak generasi muda penerus bangsa dan meminta PT Ismaya ditutup. Apabila dalam waktu 1×24 tidak ada tanggapan, maka akan mengerahkan massa yang lebih besar lagi,” tegas Korlap aksi Rahmad Himran.

Sementara itu, Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) DKI Jakarta merekomendasikan kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk tidak memberikan izin kepada panitia Djakarta Warehouse Project (DWP) Ismaya Live tahun depan 2020.

“Musik yang sangat tajam di telinga seperti mau pecah membuat saya tak tahan mendengarnya tetapi para pengunjung berjingkrak-jingkrak terus diiringi lagu-lagu dugem. Rusak generasi bangsa kita, gak ada faedahnya,” tegas Ketua GPMI DKI Jakarta Syarief Hidayatulloh, hari ini.

“Kami GPMI merekomendasikan kepada Pemprov DKI agar event DWP tahun depan jangan keluarkan izin,” kata Syarief lagi.

Menurutnya, saat dirinya melakukan investigasi didalam penampakan suasana 11 – 12 hiburan dugem ala diskotek lampu kelap-kelip. Makanya, ia pun sependapat dengan para pendemo yang sebelumnya mendesak agar DWP tidak diberikan izin.

“Astaghfirullah, pusing tujuh keliling ketika di dalam seumur hidup saya baru masuk arena ini. Minuman beralkohol ada dimana-mana, rusak tempat maksiat. Begini ini yang bisa membuat Jakarta jauh dari berkah. Memang betul acara ini harus di tolak atau di selenggarakan di luar Jakarta Pulo Reklamasi atau jauh dari Jakarta,” demikian pengakuan Syarief.

Syarief yang hadir dilokasi berbekal beli tiket itu pun kembali menegaskan akan merekomendasikan tahun depan acara dugem tersebut wajib hukumnya untuk di tolak sekalipun mendapatkan pajak yang besar untuk Jakarta.

“Pajak bisa diambil dari sumber manapun asal bukan acara DWP. Karena banyaknya anak muda yang masa depannya bisa rusak gara-gara DWP ini. Saya hanya bertahan di dalam hampir dua jam lebih tidak sampai selesai karena tidak tahan di dalam,” jelasnya.

“Sekali lagi, DWP tidak layak di selenggarakan di Jakarta bisa merusak bangsa ini,” pungkas Syarief.

Comment

News Feed