by

Momentum Maulid, Aktifis Muda Muhammadiyah ajak Elit Penguasa dan Juru Dakwah Teladani Nabi

-Polhukam-155 views

Jakarta – Momentum Maulid Nabi Muhammad Saw, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) FKIP Uhamka dan Pusat Kajian Islam Indonesia dan Humanitarian (PUSKIIM) melaksanakan kegiatan “Milineal Mengenang Nabi”. Kegiatan yang dipusatkan di Laboratorium Seni FKIP Uhamka ini mengangkat tema Spirit Profetik untuk Keadaban Indonesia.

Dalam penjelasannya, Aktifis Muda Muhammadiyah yang juga Direktur Eksekutif PUSKIIM, Amirullah menjelaskan bahwa hari-hari ini menurutnya tak sedikit orang mengaku meneladani Nabi, mencintai Nabi, mengikuti jejak Nabi, tetapi salah kaprah. Justru perilakunya bertentangan dengan apa yang dicontohkan Nabi.

“Nabi Muhammad adalah sosok humanis, juru damai, pejuang kemanusiaan, pribadi yang penuh kasih sayang, mengedepankan kepentingan umat manusia yang beliau pimpin daripada dirinya sendiri. Nabi Muhammad juga dalam berbagai riwayat menunjukkan kepada kita tentang pentingnya keadilan dan rasa persatuan sebagai syarat membangun keadaban masyarakat,” tutur Amir saat menjadi narasumber di acara tersebut (Jumat, 08/11/2019).

Amir mengharapkan kepada para elit penguasa yang mendapat amanah rakyat melalui pemilu 2019 kemarin dapat meneladani Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan tugasnya sehingga kemajuan dan keadaban Indonesia dapat terwujud.

“Kita sebagai generasi milineal dan masyarakat Indonesia tentunya, mengajak kepada para elit penguasa yang baru dilantik beberapa waktu yang lalu, baik para anggota DPR, lebih-lebih pak Presiden dan Wakil Presiden serta para Menterinya, momentum maulid ini untuk dapat meneladani akhlak Nabi dalam menjalankan tugasnya, dengan berpegang pada prinsip-prinsip yang diteladankan Nabi yakni menjalankan tugas dengan jujur, amanah, adil, egaliter, menyatukan, mementingkan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi atau kelompok, khususnya memprioritaskan kepentingan rakyat yang betul-betul membutuhkan,” tegas mantan Ketua DPP IMM Bidang Kader 2016-2018 ini.

Selain kepada elit penguasa (pemerintah), Amir juga mengharapkan kepada juru dakwah dan elit agama untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad Saw yang mengedepankan kasih sayang, lemah lembut, dengan cara yang bijak (hikmah) dan hasanah (baik) dalam berdakwah.

“Orang justru simpati dan mau menyatakan dirinya masuk Islam karena melihat akhlak Nabi yang agung sekalipun mereka belum tahu ajarannya. Nabi adalah sosok yang lemah lembut, sosok humanis, memiliki empati yang tinggi, penuh kasih sayang sekalipun kepada non muslim, dakwahnya tidak memaksa, beliau sosok yang mendamaikan bahkan pernah sukses menyatukan suku Aus dan khazraj yang terlibat konflik ratusan tahun, Nabi juga sosok yang mudah memaafkan, menghormati perbedaan dan tidak kasar apalagi menggunakan kekerasan. Akhlak mulia Nabi seperti inilah mestinya diteladani oleh para juru dakwah di tanah air, sehingga Islam membawa kesejukan, kedamaian, melindungi semua dan membangun persatuan,” paparnya.

Untuk itulah, menurut Dosen Uhamka yang juga menjabat Kepala Devisi Integrasi Keilmuan LPP AIK Uhamka ini, bahwa tidak ada ruang umat Islam yang mengaku mengikuti Nabi untuk berlaku kasar, melakukan tindakan kekerasan, atau bahkan terorisme, karena hal tersebut sangat bertentangan dengan akhlak dan apa yang telah diajarkan Nabi

“Sangat aneh, manakala ada orang atau sekelompok orang yang mengaku pengikut nabi tetapi hilang kasih sayangnya kepada sesama, bahkan membenci perbedaan, melakukan tindakan kekerasan, hingga ke aksi terorisme. Sesuatu yang sesungguhnya tidak sesuai dengan apa yang Nabi ajarkan, baik dalam Alquran maupun contoh langsung dari Nabi Muhammad Saw sendiri,” pungkasnya.

Dalam acara “Milineal Mengenang Nabi” ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari perwakilan BEM, IMM, UKM, dan mahasiswa uhamka. Hadir sebagai narasumber juga, Sekretaris Jenderal DPP IMM, Robby Karman, dan Editor Harian Republika, Ahmad Soleh.

Comment

News Feed