by

Jokowi dan Prabowo, Kapan Ngopi Bareng?

-Polhukam-486 views

Oleh : Juventus Prima Yoris Kago ( Ketua Umum PP PMKRI )

Tantangan terbesar bangsa Indonesia saat ini ada konsolidasi seluruh elemen masyarakat yang terbelah pasca pemilihan presiden April silam.

Pembelahan yang terbagi ke dalam dua kubu itu tak hanya berselisih soal pilihan, lebih parah dari itu mereka saling mengolok-olok, mencaci maki, bahkan yang terekstrem ketika kubu pendukung Prabowo Subianto mengepung Bawaslu (21-22 Mei) yang menimbulkan kerusuhan hebat. Tak kurang dari 8 orang meninggal dan ratusan orang luka berat akibat bentrok dengan aparat.

Siapakah yang harus bertanggung jawab atas kerusuhan itu? Mereka yang tak puas dengan hasil pemilu kemudian menuduh pemilu tersebut curang ataukah pemerintah yang tidak transparan dan adil? Saya kira ini bukan waktu yang tepat untuk saling menyalahkan pihak manapun.

Jika masih terjebak pada siapa yang salah dan siapa yang benar dalam perkara ini maka Indonesia tak akan kondusif dalam jangka waktu lama karena semua akan saling serang dan terprovokasi untuk saling babat.

*Jokowi dan Prabowo Perlu Duduk Bareng*

Ini masalah bangsa, rakyat pasti jadi korban dalam setiap laga politik yang menyajikan elit sebagai pemeran utamanya. Oleh karena itu tanggung jawab sepenuhnya ada pada elit politik yang menjadi aktor dalam laga politik tersebut. Presiden Joko Widodo perlu duduk bareng dengan rivalnya, pak Prabowo untuk membicarakan mengenai rekonsiliasi dan konsolidasi bangsa. Hanya dengan begitu suasana yang tegang akan kembali cair.

Duduk bareng untuk mencairkan situasi tak berarti kedua kubu mendiamkan soal kecurangan yang terjadi, melepasbebaskan para aktor intelektual dalang di balik kerusuhan. Tidak. Kecurangan adalah kecurangan karenanya harus dibereskan secara hukum; dalang kerusuhan tetaplah penjahat yang harus dihukum.

Kedua tokoh bangsa ini perlu duduk bareng, ngopi bareng, terlepas dari apapun warna dan kepentingan politik. Agenda dan kepentingan nasional harus diletakkan di atas warna dan kepentingan politik, agama dan ras, agar tenunan kebangsaan yang semula koyak kembali utuh terajut.

Jika kedua tokoh bangsa ini masih keukeuh pada nafsu berkuasa, maka mustahil polarisasi bangsa yang terjadi selama kurang lebih 8 bulan terakhir ini dapat disatukan dalam semangat kebhinekaan.

Sikap kenegarawanan harus diutamakan dan hanya dengan sikap kenegarawananlah dari para elit maka bangsa ini bisa move on dari kondisi kritis ini. Saya percaya di tengah defisit negarawan dan surplus politisi (gadungan), pak Prabowo dan pak Jokowi adalah negarawan yang lebih mengetengahkan kepentingan bangsa daripada hasrat kuasa.

Di tengah defisit negarawan itu maka berjamurlah para politisi gadungan yang melihat politik semata sebagai lapangan kerja, mengeruk habis kekayaan negara lewat korupsi dan transaksi – transaksi kekuasaan. Di tengah krisis negarawan, lahir banyak demagog yang kerjanya memprovokasi masyarakat, mengaduk-aduk emosi masyarakat yang bertujuan memecah-belah bangsa.

*Indonesia Butuh Pemimpin Pendidik*

“Pemimpin itu sejatinya adalah pendidik warga,” demikian sabda penyair Simonides. Kata-kata yang lahir ribuan tahun silam itu makin nyaring terdengar hari-hari ini terutama di negeri kita. Pemimpin sebagai pendidik warga adalah mereka yang hidupnya penuh dengan keutamaan, terutama kebijaksanaan, yang memandang kekuasaan sebagai jalan untuk mewujudkan keadilan bagi semua, yang memakai kekuasaan sebagai cara untuk mencerdaskan bangsa.

Negarawan adalah pemimpin pendidik warga. Ia bukan sekedar politisi medioker yang gemar menyulut perpecahan. Posisinya kontras dengan demagog yang menjadikan politik sebagai lapangan pekerjaan tempat mencari sesuap nasi. Pemimpin pendidik tak melihat kekuasaan sebagai wahana untuk memperkaya diri dan kroni, tetapi murni demi kepentingan bangsa. Itu yang hilang hari ini.

Pemimpin cum negarawan itu tidak menjadikan dirinya sebagai pusat kekuasaan, tetapi rakyat. Dia bukanlah tujuan, kekuasaan bukanlah tujuan yang dicari, tetapi rakyatlah tujuan dari kekuasaan.

Kita berharap agar ke depannya para elit pemimpin kita sungguh-sungguh menempatkan dirinya sebagai pemimpin pendidik. Saat ini Indonesia butuh pemimpin pendidik yang sedia merajut keindonesiaan yang koyak pasca pilpres.
Kita menanti Jokowi dan Prabowo ngopi bareng untuk menyejukkan bangsa ini. Akankah?

Comment

News Feed