by

Nyoblos: Cara Kita Mencintai Ibu Pertiwi

Nyoblos: Cara Kita Mencintai Ibu Pertiwi

Oleh : Juventus Prima Yoris Kago (Ketua Presidium PP PMKRI)

Hidup adalah pilihan, begitu kata orang. Dalam hidup setiap orang dihadapkan pada aneka rupa pilihan. Dan, setiap pilihan yang diputuskan oleh manusia mengandaikan ada kehendak bebas dalam dirinya sedemikian rupa sehingga orang tersebut bisa memilih atau yang ini atau yang itu. Setiap pilihan bebas selain mengandaikan kehendak bebas sekaligus mencirikan kedewasaan dan tanggung jawab yang menyertainya. Seseorang dapat dikatakan dewasa jika ia berani memutuskan sesuatu secara bertanggung jawab.

Dalam konteks pilihan politik hari ini, terutama pemilihan presiden yang hanya menyajikan 2 calon presiden, kita dituntut untuk memilih. Pilihannya boleh jadi tak hanya tentang atau pasangan 01 atau 02, tetapi ada opsi yang lain yakni golongan putih alias golput yang bermula pada 1971 silam. Dalam politik golput tentu saja bisa dipertanggungjawabkan secara politis. Secara politis orang memilih golput alias tidak memilih siapapun karena pertimbangan-pertimbangan tertentu seperti: tidak ada calon yang benar-benar sesuai harapan, atau dalam konteks kita calon petahana tidak mampu memberikan kepuasan selama menjabat dan calon yang lainnya punya beban masa lalu.

Namun, apakah dengan tidak memilih kedua calon yang ada, lantas bisa mengubah situasi kita hari ini? Tidak juga! Saya tidak ingin mengutak-atik pilihan seseorang tentang golput, tapi kekhawatiran saya tentang dampak yang akan dihasilkan jika kita memilih untuk tidak memilih: kita nyaris tidak punya tanggung jawab apapun tentang apa yang bakal terjadi pasca pemilihan nanti alias cuci tangan. Jika nanti dari kedua calon ternyata yang menjadi presiden adalah orang yang lebih buruk dari yang lainnya, maka yang rugi bukan hanya mereka yang memilih satu dari kedua calon yang ada, tetapi seluruhnya termasuk yang memilih golput. Apapun pilihan politik kita, sudah selalu ada dampak yang menuntut tanggung jawab kita sebagai warga negara untuk terlibat dan memberikan kontribusi bagi perubahan yang ada.

*Milenial, jangan Golput!*

Pada 2014 angka golput nyaris mendekati 30% dan pada pilpres 2019 ini hasil survei Indikator Politik mencatat angka Golput bakal mendekati angka 20% dari total 192 juta pemilih. Artinya terdapat sekitar 38 juta pemilih yang memilih untuk tidak memilih. Itu bukan angka kecil, itu angka yang sangat besar yang memilih ‘masa bodoh’ tentang masa depan Indonesia. Di samping angka golput yang tinggi, kita punya jumlah kaum milenial yang banyak. Survey Poltracking Indonesia mencatat pemilih milenial (17-35 tahun) berjumlah 40 % dari total suara atau sekitar 76 juta pemilih. Ini angka yang sangat besar dan menentukan siapa yang bakal menjadi pemimpin Indonesia lima tahun ke depannya.

Kita boleh membenci calon-calon yang ada, marah dan kecewa dengan petahana yang kurang memenuhi janji-janji politiknya pada kampanye 2014 silam atau jengkel dengan Prabowo yang terjerat oleh pelanggaran HAM masa lalu, namun kita tidak boleh kehilangan harapan untuk Indonesia yang lebih baik. Milenial, masa depan Indonesia ada pada keputusan kita untuk tetap menjatuhkan pilihan satu dari dua calon yang dengan pertimbangan di antara keduanya pasti punya keburukan yang lebih sedikit. Meski tidak ada yang lebih baik atau paling baik, paling tidak kita bisa mencari siapa dari keduanya yang punya keburukan lebih sedikit untuk kita taruh harapan dan masa depan Indonesia. Ingat, golput, meskipun itu adalah hak setiap orang, namun punya dampak pada masa depan Indonesia.

Politik itu ibarat udara yang kita hirup. Suka tidak suka, mau tidak mau, kita membutuhkan politik dan kita dipengaruhi oleh politik. Peristiwa-peristiwa kita sedikit banyak juga ditentukan oleh politik. Peristiwa politik menentukan kehidupan ekonomi, bisnis, pendidikan, budaya, sosial, dan lain sebagainya. Sedemikian besar pengaruh politik sehingga ia punya power yang menentukan segala aspek kehidupan menuntut kita untuk terlibat di dalam setiap momentum politik meski tak seideal yang kita harapkan namun kita mau tidak mau harus terlibat di dalamnya. Maka, memilih bukan saja hak kita untuk menentukan siapa yang jadi presiden, lebih dari itu, memilih adalah cara kita menentukan masa depan bangsa Indonesia. Memilih adalah cara kita mencintai Ibu Pertiwi, rahim yang melahirkan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Masa depan Indonesia sampai dengan 2045 sangat bergantung pada apa yang ditentukan oleh kaum milenial hari ini. Maju mundurnya bangsa Indonesia ke depan tergantung bagaimana milenial menentukan sikapnya hari ini, setidaknya sikap politiknya. Jika kita masa bodoh terhadap proses demokratis lima tahunan yang ada itu artinya kita juga turut andil dalam menentukan kemunduran bangsa ini. Memberikan suara dalam pemilihan nanti merupakan sumbangan besar yang dapat kita berikan kepada perkembangan demokratis Indonesia karena kita secara sadar ingin agar Indonesia dipimpin oleh putra terbaik meski tidak 100% baik sesuai harapan dan ideal-ideal yang kita patok. Golput memang hak kita sebagai pilihan politik, tetapi lebih dari itu, memilih untuk nyoblos adalah tanggung jawab kita untuk melestarikan Indonesia.

Nyoblos bukan sekedar pergi ke TPS dan memilih salah satu calon yang ada, lebih daripada itu, nyoblos adalah tanda bahwa kita masih memiliki harapan akan Indonesia yang lebih baik lagi.

Salam

Jakarta, 21 Maret 2019

Comment

News Feed