by

Negara Tak Boleh Anggap Sepele Soal Penjualan Cula Badak

LAMPUNG – Tim reaksi cepat (TRC) Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) dan Polda Lampung, Senin (26/11/18), sekitar pukul 15.00 wib membongkar penjualan cula Badak Sumatera di Hotel Sempana Lima Krui, Lampung Barat.

Dalam pengungkapan kasus tersebut, petugas menahan 6 tersangka. Mereka terdiri dari M pembawa barang sekaligus pemasaran, S teman dari DM, AS anak DM, N petugas cleaning service salah satu bank pemerintah, AK sebagai calo, dan M oknum TNI Bengkulu Selatan. Diindikasi ini adalah dampak dari kejadian tahun 2014 terjadi dua atasan oknum tersebut juga diduga sebagai pelindung pembakaran pos-pos keamanan diarea TNBBS yang sudah berkali-kali dilaporkan tapi tidak mendapat respon dan baru 2 tahun kemudian diproses bahkan mereka saat itu mendapat kenaikan pangkat.

Inilah yang disebut guru kencing berdiri murid kencing berlari, hampir dapat dipastikan kejadian seperti ini tidak akan berhenti apabila kepada pelaku tidak diberikan sanksi hukum yang berat.

Menurut petugas, kasus perdagangan cula badak terbongkar setelah ada informasi dari masyarakat bahwa akan adanya transaksi. Berbekal informasi ini TRC BBTNBBS dan Polda Lampung membentuk tim dan melakukan penyelidikan.
Dari penyelidikan awal, petugas melakukan sasaran terhadap DM dengan menyamar sebagai pembeli barang. Setelah terjadi komunikiasi, DM mengatur pertemuan transaksi di hotel yang telah ditetapkan.

“Saat barang bukti diperlihatkan, bentuknya benar cula badak, lalu ke 6 orang tersangka yang ada dilokasi tersebut langsung diamankan oleh Tim Gabungan dan digiring ke Polres Tanggamus, sedangkan oknum TNI yang terlibat, diserahkan ke Korem Gatam untuk menjalani proses lebih lanjut,” Dirreskrimsus Polda Lampung, Kombespol Subakti.

Saat petugas mengidentifikasi cula badak, beratnya mencapai 200 gram dan diameter cula badak sepanjang 28 centimeter. Kuat dugaan, bahwa tersangka ini merupakan pemain lama. Ini terlihat dari cara kerja yang cukup rapi dan melibatkan oknum TNI.

Untuk mendalami peran masing-masing, petugas akan membawa cula badak ke laboratorium, serta melakukan pendalaman dan pengembangan.

Deklarator YMI Tanggon NM menegaskan bahwa badak merupakan satwa dilindungi. Dia mengingatkan bahwa memperjualbelikan satwa dan organ tubuhnya merupakan tindak pidana juga sudah di atur dalam UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

“Seharusnya kita bisa memproteksi habitat badak agar bisa berkembang dengan baik. Adanya perminta cula badak untuk pengobatan membuat cina melegalkan cula badak dan tulang harimau sebagai bahan baku obat, ini bisa memicu terjadinya perburuan liar terhadap badak di Indonesia,” jelas Tanggon.

Menurut dia, kebijakan tersebut tergolong kontorversi serta banyak kalangan yang menolak. Oleh sebab itu, tambah dia, pemerintah khususnya instansi-instansi yang terkait harus bisa memproteksi badak dari ancaman manusia nakal yang hanya mementingkan diri sendiri saja.

“Negara tidak boleh anggap sepele menangapi hal ini, negara harus hadir bersama masyarakat dalam menjaga ekosistem cagar alam Indonesia, agar hal semacam ini tidak terulang kembali,” pungkasnya.

Comment

News Feed