by

Selamat Jalan Sang Pahlawan untuk Kucing Liar “Dr.Alan Rabinowitz”

Jakarta – Presiden, CEO, sekaligus Kepala ilmuwan di Panthera Corporation organisasi konservasi kucing besar global Alan Robert Rabinowitz yang lahir di Brooklyn, New York City 31 Desember 1953 itu tutup usia pada 5 Agustus 2018 di Manhattan, New York City. Dia meninggal akibat sakit kanker yang ada di tubuhnya.

Deklarator Youth Movement Institute (YMI) Tanggon NM mengaku sangat mengagumi sosok yang inspiratif dan di senangi banyak orang itu. Sebab, kata Tanggon, semasa hidupnya, Alan banyak didedikasikan untuk mempelajari, melindungi, melestarikan binatang-binatanf diantaranya harimau, harimau sumatra, Singa, Jaguar, Cheetah, dan Macan tutul, Asiatic Macan Tutul, dan rakun.

Alan meraih banyak pengahargaan yang telah di dapatnya diantaranya:
-2004: Our Time Theatre Company Award.
-2004: Lowell Thomas Award – New York Explorer’s Club.
-2005: George Rabb Conservation Award – Chicago Zoological Society.
-2005: Flying Elephant Foundation Award.
-2006: Kaplan Big Cat Lifetime Achievement Award.
-2008: International Wildlife Film Festival Lifetime Achievement Award.
-2010: Cincinnati Zoo Wildlife Conservation Award.
-2011: Jackson Hole Lifetime Achievement Award in Conservation.

Dia pun dijuluki “Indiana Jones of Wildlife Protection” oleh majalah times.

Sekilas sepak terjang Alan, bahwa saat bekerja di Lembah Hukaung di Myanmar pada 1997, ia menemukan empat spesies mamalia baru, termasuk spesies rusa paling primitif di dunia, Muntiacus putaoensis, atau rusa daun. Karyanya di Myanmar menyebabkan terciptanya lima kawasan satwa dilindungi baru, termasuk taman laut pertama negara itu.Taman Nasional Laut Pulau Lampi; Taman Nasional Himalaya pertama di Myanmar, Taman Nasional Hkakabo Razi; suaka margasatwa terbesar di negara ini, Suaka Margasatwa Lembah Hukaung; cadangan harimau terbesar di dunia dan salah satu kawasan lindung terbesar di dunia, Suaka Harimau Lembah Hukaung, dan Taman Nasional Hponkhan Razi, daerah yang menghubungkan Lembah Hukaung dan Hkakabo Razi untuk kawasan lindung yang berdekatan dengan lebih dari 5.000 mil persegi, yang disebut Kompleks Hutan Utara.

Rabinowitz juga mendirikan tempat perlindungan jaguar pertama di dunia – Cockscomb Basin Jaguar Preserve – di Belize dan Tawu Mountain Nature Reserve, kawasan lindung terbesar di Taiwan dan bagian terakhir dari hutan dataran rendah yang utuh. Di Thailand, ia melakukan penelitian lapangan pertama tentang harimau Indocina, macan tutul Indochinese, dan kucing macan tutul Asia, yang mengarah pada penetapan Suaka Margasatwa Huai Kha Khaeng sebagai cagar biosfer dunia UNESCO.

“Salah satu prestasinya adalah konseptualisasi dan implementasi Jaguar Corridor, serangkaian koridor biologis dan genetik untuk jaguar di seluruh rentang mereka dari Meksiko ke Argentina. Rabinowitz juga memprakarsai Panthera’s Tiger Corridor Initiative, upaya untuk mengidentifikasi dan melindungi lansekap harimau besar yang saling terhubung di dunia yang masih tersisa, dengan fokus utama di wilayah Indo-Himalayan yang terpencil dan berbukit-bukit,” paparnya.

Dijelaskannya, proyeknya untuk membangun rantai habitat harimau yang dilindungi di seluruh Himalaya Selatan adalah fokus dari seri dokumenter BBC Natural History Unit tahun 2010 Lost Land of the Tiger. Tim ekspedisi menghabiskan satu bulan untuk menyelidiki status kucing besar di Bhutan, yang mengarah pada penemuan kembali harimau yang hidup di ketinggian yang jauh lebih tinggi daripada yang sebelumnya disadari.

Dia juga suka menulis, lebih dari 100 artikel ilmiah dan beberapa buku untuk audiens populer.
Ia juga ditampilkan dalam program televisi termasuk 60 Minutes dan dalam dokumenter Tiger Tiger 2015.
Majalah Konservasi Conjour mengatakan ia meninggalkan “warisan konservasi kucing besar yang inspiratif”.

Di Indonesia pernah memiliki tiga jenis harimau; Harimau Bali, Harimau Jawa, dan Harimau Sumatera. Sayangnya, Harimau Bali dan Harimau Jawa telah dinyatakan punah pada 1960-an akibat aktivitas perburuan dan penganiayaan terhadap satwa ini yang sudah kerap terjadi di zaman kolonial. Kini hanya tersisa Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), yang di habitat alaminya di Pulau Sumatera jumlahnya saat ini kurang dari 400 individu.

“Oleh sebab itu kita sebagai generasi penerus/muda juga harus mengikuti langkah positif Alan Robert Rabinowitz dalam pelestarian harimau,” kata Tanggon.

Dia melanjutkan bahwa Alan Robert rabinowitz dan Panthera pernah melakukan survei awal yang mereka jalankan di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC). Menurut Panthera dalam pernyataan resminya, “terungkap adanya jumlah populasi harimau liar yang mengejutkan di kawasan timur Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC). Kepadatan populasi mencapai enam ekor harimau per 100 kilometer persegi, hampir dua kali lipat dibandingkan dengan rata-rata kepadatan populasi harimau pulau tersebut. Temuan ini termasuk foto anak harimau yang terekam,telah membuat Tambling merupakan bagian dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang sangat penting bagi dunia, memunculkan secercah harapan pada harimau Sumatra liar yang kini tersisa antara 400-500 ekor saja.

“Tingkat kepadatan harimau luar biasa di Tambling merupakan wujud nyata, yang tidak hanya menyediakan pelestarian harimau, tetapi juga memberikan perlindungan bagi hewan ini,” ucapnya.

Lebih jauh, Tanggon mengatakan bahwa kepergian Alan Robert Rabinowitz telah meninggalkan kesedihan pula bagi kawan-kawan di TWNC.

“Terimalah penghargaan setinggi-tingginya dari kami karyawan, staf beserta seluruh jajaran dari Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) dan Artha graha peduli (AGP) menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas kepergian Alan Robert rabinowitz. Kawan-kawan di TWNC juga menyampaikan terima kasih banyak atas kontribusi Alan Robert rabinowitz terhadap peningkatan kualitas pengetahuan kami. Perjuangan mu dalam menyelamatkan populasi kucing alam liar tidak boleh berhenti dan harus terus dilanjutkan,” tandasnya.

Comment

News Feed