Jakarta — Politeknik LP3I Jakarta (PLJ) terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak lulusan yang kompeten dan siap bersaing di dunia kerja. Berdiri sejak 22 tahun lalu di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, berdasarkan SK Mendiknas No.158/D/O/2003, politeknik yang didirikan oleh Dr. Syahrial Yusuf, MBA ini sejak awal berfokus pada pendidikan vokasi sebagai fondasi utama pembelajarannya.

Fokus pada pendidikan vokasi dipilih karena pendekatan ini menekankan praktik dan pelatihan langsung, sehingga mahasiswa terbiasa menghadapi situasi nyata di industri. Dengan strategi tersebut, PLJ berharap para lulusannya memiliki kesiapan yang lebih matang, adaptif terhadap perubahan, serta mampu menunjukkan kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja.

“Salah satu inovasi yang menjadi keunggulan PLJ adalah diterapkannya 10 SKS mata kuliah Bahasa Inggris di seluruh program studi. Langkah ini dinilai sebagai solusi konkret dalam membentuk lulusan yang tidak hanya kompeten di dalam negeri, tetapi juga mampu bersaing di pasar global. Melalui penguatan kemampuan komunikasi ini, mahasiswa didorong untuk memiliki nilai lebih dalam menghadapi tantangan dunia profesional.” ujar Nasril,M.M selaku Ketua Program Studi Manajemen Informatika.

Pembagian 10 SKS tersebut dirancang secara bertahap dan terstruktur. Tahap pertama adalah 4 SKS Bahasa Inggris dasar yang menekankan pemahaman aturan penulisan dan komunikasi yang baik. Tahap kedua berupa 4 SKS Bahasa Inggris lanjutan, dengan fokus pada kemampuan komunikasi yang lebih intensif serta korespondensi. Tahap terakhir adalah 2 SKS Bahasa Inggris berbasis kebutuhan profil kerja tiap jurusan, sehingga materi yang diberikan relevan dengan industri yang akan mereka masuki.

Metode pembelajaran PLJ pun menjadi daya tarik tersendiri. Salah satunya adalah program native speaker, yaitu menghadirkan pengajar asing sebagai dosen tamu. Program ini memberi pengalaman langsung berkomunikasi dalam bahasa Inggris, baik dari sisi dialek maupun pemahaman budaya.

“Selain itu, PLJ menerapkan kebijakan English Day pada hari-hari tertentu, yang mewajibkan mahasiswa berkomunikasi dalam bahasa Inggris sehingga mereka lebih terbiasa menggunakan bahasa tersebut dalam kegiatan sehari-hari.” ujarnya.

Metode pembelajaran PLJ pun menjadi daya tarik tersendiri. Salah satunya adalah program native speaker, yaitu menghadirkan pengajar asing sebagai dosen tamu. Program ini memberi pengalaman langsung berkomunikasi dalam bahasa Inggris, baik dari sisi dialek maupun pemahaman budaya. Selain itu, PLJ menerapkan kebijakan English Day pada hari-hari tertentu, yang mewajibkan mahasiswa berkomunikasi dalam bahasa Inggris sehingga mereka lebih terbiasa menggunakan bahasa tersebut dalam kegiatan sehari-hari.

Sebagai tahap akhir penguatan kompetensi, mahasiswa PLJ diwajibkan mengikuti tes TOEIC dengan standar capaian tertentu yang ditetapkan oleh kampus. Hasil tes ini menjadi indikator objektif kemampuan bahasa Inggris mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja. Selain berfungsi sebagai syarat penempatan kerja, skor TOEIC juga menjadi bagian dari syarat kelulusan di Politeknik LP3I Jakarta.

“Melalui berbagai strategi tersebut, Politeknik LP3I Jakarta menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan vokasi berkualitas yang relevan dengan kebutuhan industri, sekaligus mempersiapkan generasi muda Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global.” pungkasnya.

Temukan juga kami di Google News.