Jakarta – Beredarnya film pendek yang berjudul “Kau Adalah Aku yang Lain” telah menyita perhatian publik. Berbagai komentar pro maupun kontra mewarnai fenomena film yang dianggap kontroversial tersebut.
Tak ketinggalan ahli hukum pidana dari Universitas Pancasila Rocky Marbun, SH, MH, ikut mengomentari film karya sutradara Anto Galon dan memberikan saran atau solusi untuk mengakhiri polemik ini agar Polri tidak menjadi pihak yang tersudutkan.
Rocky mengajak korps Bhayangkara untuk mengandeng ulama untuk mengakhiri masalah tersebut.
“Intinya, ulama yang paling berkompeten untuk menilai isi dari film itu,” ujar Rocky, hari ini.
Sehingga, kata dia, Polri butuh bersama-sama dengan MUI untuk menenangkan masyarakat. Dan sebaiknya Polri mengedepankan kedamaian masyarakat dengan membuka pintu komunikasi mengenai alasan-alasan mengapa film itu dinyatakan sebagai pemenang.
Sebab, dirinya juga mengaku belum valid apakah masalah itu masuk ke ranah delik pers ataukah tidak.
“Harus ada juga orang pers yang memberikan pandangan juga,” tuturnya.
Sementara itu video pemenang kategori film pendek dalam Police Movie Festival IV 2017 juga ditanggapi berbeda oleh Wakil Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Abdul Haris Ma’mum yang justru menilai video berdurasi 7 menit 41 detik itu justru sarat dengan pesan-pesan penting kemanusiaan, terutama soal toleransi antar umat beragama.
Menurut Abdul Haris, kontroversi terhadap tafsir sebuah karya, sebenarnya sah-sah saja. Meski begitu, jika ditonton dengan seksama dan utuh, sebenarnya film tersebut sangat bagus, baik dari sisi sinematrografi maupun isi cerita dan pesan yang ingin disampaikan.
“Film ini layak menang karena memang bagus. Edukatif juga. Film bagus memang selalu memiliki dimensi dialektika,” kata Abdul Haris, dalam rilis yang diterima redaksi, Jumat (30/6).
Selain itu, dia mengungkap film tersebut, seperti karya seni lainnya, terbuka untuk dikritisi. Meskipun demikian dia menyarankan agar film tersebut ditonton secara utuh.
“Tapi, untuk film ini, saya menyarankan untuk menontonnya secara utuh, jangan sepotong-sepotong. Sebab, ya nanti jadinya hanya bisa berkomentar miring bahwa film ini melecehkan Islam. Justru saya melihat film ini sarat pesan toleransinya,” tuturnya.
Abdul Harus menyebut film tersebut justru menunjukkan kebesaran Islam sebenarnya yang memayungi keberadaan agama dan keyakinan lain.
“Saya apresiasi benar film ini. Allah SWT menciptakan manusia berbeda-beda, begitu juga dengan agama dan keyakinannya. Film ini dengan jernih menggambarkan Islam yang memberi rahmat bagi semesta, Islam yang rahmatan lilalamin,” sebut Abdul Haris.
Ia tak menampik bahwa penganut agama yang terlalu fanatik dan berpikiran sempit di semua agama juga ada, baik itu Islam, Kristen, Buddha, maupun Hindu.
Selanjutnya, Abdul Haris menyayangkan bila beberapa kalangan menyebut film tersebut melecehkan Islam.
“Saya sangat menyayangkan bila beberapa kalangan mencerca film ini dengan anggapan melecehkan Islam. Apalagi menuding film sebagai bagian dari upaya pihak kepolisian memberi stigmatisasi kepada umat Islam sebagai intoleran,” tegas dia.
Namun, berbeda dengan Rocky yang mengomentari GP Ansor yang melihat film tersebut dianggap sebagai edukatif. Namun, Rocky justru mempertanyakan kompetensi GP Ansor untuk menilai substansinya?
“Kalau saya mengacu dengan keberatannya dari MUI,” katanya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan