Jakarta – Jelang pencoblosan putaran 2 Pilkada DKI dan berbagai lembaga survei pun berseliweran untuk memprediksi siapa sosok yang bakal menjadi orang no 1 dan 2 di Jakarta. Bahkan Prabowo Subianto sendiri pun angkat bicara dalam menyikapi fenomena tersebut.

Berikut isi pidato Prabowo Subianto yang terekam tersebar di video :

Saudara dan saudari warga Jakarta. Mari bersama kita akhiri Jakarta yang gaduh.

Kita sudahi Jakarta yang terbelah

Saya membaca aneka riset lembaga survei. Umumnya lembaga survei mengabarkan kemenangan Anies Sandi.

Bukan kemenangan itu benar yang menggugah saya. Tapi saya menangkao pesan yang lebih dalam.

Adanya kerinduhan warga Jakarta untuk perubahan. Adanya harapan warga Jakarta untuk punya Gubernur baru.

Kita semua jenuh dengan Jakarta yang gaduh. Kita semua bosan dengan Jakarta yang terbelah.

Kita kecewa karena ini semua terjadi hanya karena ulah satu orang saja.

Kita ingin Jakarta yang bersatu. Kemakmuran memerlukan Jakarta yang stabil.

Bisnis memerlukan Jakarta yang aman. Rakyat banyak menginginkan Jakarta yang berkeadilan.

Dan umat beragama memerlukan pemimpin yang menghormati keyakinan mereka.

Dst….

Menanggapi isi pidato tersebut, Sekjen Jari 98 Ir Arwandi justru menyayangkan adanya pernyataan Prabowo yang seolah-olah ada penggiringan opini bahwa “KEMENANGAN MENJADI MUTLAK” dan “KEKALAHAN TERJADI KARENA KECURANGAN”.

“Hal itu semua hanya didasarkan dari hasil “SURVEI AWAL” sebelum waktunya “PENCOBLOSAN”. Pencoblosan saja belum kok sudah senang dulu apalagi sudah bilang kemenangan menjadi mutlak, kekalahan terjadi karena kecurangan,” jelas Arwandi.

Menurut dia, pernyataan itu dianggap tidak etis didalam sistem demokrasi saat ini. Terkesan dalam pidato tersebut, kubu paslon 3 sudah yakin akan menang telak dan bisa kalah hanya karena dicurangi. Seperti juga hasil “EXIT POLLING”.

“Tidak etislah demikian, ini ada upaya penggiringan opini publik bahwa Anies Sandi sudah menang mutlak saja sebelum berperang. Nanti ternyata hasil akhir paslon 3 kalah giringnya jadi dia yang dicurangi. Ini kan settingan. Yang fair lah, pertarungan yang nyata saja belum kok sudah yakin menang. Hasil surveinya jangan-jangan pesanan, ya biarkanlah pesta rakyat ini berjalan, rakyat bisa pilih sesuai hati nurani tanpa ada intimidasi dan tekanan publik. Menang terhormat lebih baik ketimbang menang karena tekanan intimidasi,” tandasnya.

Temukan juga kami di Google News.