Jakarta – Organisasi sayap partai PDI Perjuangan, Banteng Muda Indonesia (BMI) mengecam keras pengusiran paksa calon wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut 2, Djarot Saiful Hidayat usai melaksanakan sholat Jumat di Mesjid al-Atiq, Tebet, Jakarta Selatan hari ini.

Sekjen DPP BMI, Antoni Wijaya menyatakan, pengusiran terhadap Djarot dari mesjid tersebut adalah bentuk perbuatan yang sudah tidak bisa ditolerir. Menurutnya, perbuatan itu sangat tidak mencerminkan nilai-nilai islami. Apalagi hal itu dilakukan oleh umat Islam jamaah shalat Jumat di masjid tersebut.

Untuk itu, Antoni pun mendesak agar Polri bisa mengusut tuntas praktik pengusiran terhadap cawagub petahana itu.

“Itu perbuatan yang sangat biadab. Kami minta Polri mengusut tuntas kasus pengusiran paksa terhadap Pak Haji Djarot di mesjid al-Atiq, Tebet, karena pengusiran itu adalah bentuk intimidasi kepada Pak Haji Djarot,” kata Antoni di Jakarta, Jumat (14/4).

Ia juga menduga pengusiran paksa terhadap mantan walikota Blitar itu didalangi oleh aktor intelektual pendukung pasangan calon Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Apalagi diketahui jika tindakan semacam itu bukan hal yang baru dialami Djarot, sebelumnya di Masjid At-Tin saat menghadiri ulang Tahun peringatan Supersemar, Djarot juga mengalami hal serupa.

“Kami sangat yakin, pasti ada aktor intelektual di balik pengusiran itu. Karena motif pengusiran itu bukan baru kali ini terjadi, dan ini tidak bisa dibiarkan. Bentuk intimidasi yang dilakukan secara berulangkali adalah ancaman yang sangat serius,” ujarnya.

Ia menambahkan, kasus pengusiran paksa terhadap Djarot itu adalah salah satu bentuk provokasi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. yakni untuk memperkeruh suasana damai dalam pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta 19 April mendatang.

“Kami juga mengimbau seluruh warga Jakarta, khususnya pendukung Ahok-Djarot untuk menahan diri dari provokasi-provokasi jelang pemilihan ini,” pungkasnya.

Selain itu, Ia pun mendesak kepada calon gubernur nomer urut 3, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno untuk memberitahukan atau mengajarkan kepada seluruh tim sukses serta simpatisannya tentang kompetisi yang sportif, adil dan jujur dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta ini.

Sebab, lanjut Antoni, demokrasi yang sehat dalam pemilihan calon pemimpin yang sehat tidak pernah membenarkan intimidasi seperti pengusiran paksa yang dilakukan oleh pendukung Anies-Sandi itu.

“Kami minta Pak Anies dan Pak Sandiaga juga turun tangan dalam kasus ini. Kami minta mereka untuk mentertibkan para pendukungnya di lapangan, ini penting untuk menghindari benturan di lapangan,” tegas Antoni.

“Mereka harus ajarkan kepada pendukungnya tentang demokrasi, tentang kebhinekaan, tentang hak warga negara Indonesia untuk bebas menentukan pilihan politiknya,” imbuhnya.

Diketahui, usai shalat Jumat di Masjid Al-Atiq Tebet, Djarot langsung diusir oleh masyarakat. Bahkan mereka sambil mengacungkan tiga jari seperti simbol kampanye Anies-Sandi.

Temukan juga kami di Google News.