Jakarta – Wakil Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Nahdlatul Ulama Jakarta, Husny Mubarok Amir menyatakan pihaknya kaget dengan peristiwa diusirnya calon Wakil Gubernur DKI Jakarta petahana, Djarot Saiful Hidayat seusai menunaikan shalat Jumat di sebuah masjid di Tebet, Jakarta Selatan, hari ini.

Ia berpandangan jika pengusiran Djarot tersebut adalah wujud dari buah politisasi Masjid yang selama ini digaungkan oleh pendukung paslon nomor urut 3. Bahkan ia pun menegaskan jika tindakan pengusiran itu adalah suatu kejahatan yang harus dilawan.

“Bagi kami warga NU, pengusiran Haji Djarot dari dalam masjid itu adalah satu contoh bentuk kejahatan politisasi masjid yang selama ini selalu kita tolak,” kata Husny dalam keterangannya, Jumat (14/4).

Menurutnya, pengusiran itu bagian dari radikalisme agama. Padahal, sebagai Muslim, menurut dia, Djarot punya hak yang sama untuk salat, berzikir, mengaji, atau ibadah lainnya. Pengusiran orang dari masjid adalah bentuk intimidasi fisik yang harus bersama-sama dikecam dan dilawan.

“Saya belum dapat memastikan, curiga boleh saja, bahwa jangan-jangan, model pengusiran seperti ini adalah bagian dari kampanye paslon lain agar penolakan terhadap paslon Basuki-Djarot menjadi masif dan kemudian meluas,” katanya.

Dia mengatakan siapa pun tak boleh boleh tinggal diam atas perlakuan demikian. Baginya, masyarakat yang diam harus dibangunkan dan diedukasi.

“Kemudian semua harus berani melawan intimidasi, provokasi, dan ancaman,” tegasnya.

https://youtu.be/Ixzf6kGHZHk

Temukan juga kami di Google News.