Lampung – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung berencana menggelar agenda Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) dengan menggandeng pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan, sebagai salah satu narasumber utama.
Langkah inovatif ini dirancang sebagai bagian dari komitmen parlemen dalam memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai dasar Pancasila, merawat persatuan, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Provinsi Lampung.
Keterlibatan Ken Setiawan dinilai memegang daya edukasi tersendiri bagi publik.
Pasalnya, Ken merupakan mantan aktivis Negara Islam Indonesia (NII) yang pernah berada dalam lingkaran ideologi radikal dan secara terbuka menolak Pancasila.

Namun perjalanan hidupnya mengalami transformasi total
Usai terbebas dari jerat doktrinasi radikal, Ken kini konsisten berada di garis terdepan menyuarakan toleransi, semangat kebangsaan, dan merangkul masyarakat yang rentan terpapar ideologi ekstremis.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Lampung, Kostiana, S.E., M.H., menilai rekam jejak transformasi Ken Setiawan dari sosok anti-Pancasila menjadi penggerak persatuan nasional akan memberikan perspektif pendidikan politik yang jauh lebih membumi dan berdampak.
“Pengalaman nyata seseorang yang pernah berada dalam lingkungan ideologi yang berseberangan dengan Pancasila, lalu menyadari pentingnya persatuan hingga kembali menerima Pancasila, dapat menjadi sarana pembelajaran kebangsaan yang sangat kuat bagi masyarakat,” ungkap Kostiana, Jumat (6/11/2026).
Kostiana menegaskan, Pancasila tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai seremoni atau slogan hafalan semata, melainkan kesepakatan bersama (common platform) yang mempersatukan keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan.
Lewat program PIP ini, DPRD Lampung berkomitmen menghadirkan metode edukasi kebangsaan yang lebih dialogis, aplikatif, dan menyentuh realitas sosial.
Pengalaman Ken Setiawan diharapkan menjadi pengingat kolektif agar masyarakat Lampung tidak mudah terpengaruh oleh paham ektremis yang berupaya mempertentangkan perbedaan, sekaligus menegaskan bahwa Pancasila adalah rumah bersama dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.














Tinggalkan Balasan