Jakarta – Ketua Umum DPP PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) Anton Medan angkat suara terkait polemik penangkapan pelaku dugaan makar otak aksi 313 Muhammad Al Khaththath alias Muhammad Gatot Saptono bersama empat aktivis lainnya.
Menurut Anton Medan, makar tidaklah boleh terjadi. Makar yang ini sepertinya berbeda dengan sebelumnya. Sebab, kata dia, jika penangkapannya waktu menjelang demo 212 itu diduga mau memanfaatkan situasi dan massa demo untuk mendesakkan keinginannya kembali kepada UUD 1945. Mendesakkan keinginannya itu kepada DPR/MPR dengan pengerahan massa.
“Bedanya ada pada keragu-raguan terkait kembali ke UUD 1945. Kalau yang penangkapannya menjelang aksi demo 313 ini terkesan enggak murni seperti itu. Kalau yang dulu kan orang-orangnya cukup jelas memang punya idealisme terkait UUD 1945. Kalau yang akhir-akhir ini orangnya mengesankan tidak begitu. Kalau yang dulu mereka yang diduga melakukan permufakatan makar bukan penggerak demo, tapi yang sekarang memang penggeraknya, malah yang ditangkap ada ketua demo 313,” beber Anton Medan hari ini.
Lebih lanjut, Anton Medan mengatakan Sekjen Forum Umat Islam (FUI) itu adalah ketua demo, sedangkan tuntutan demo 313 minta Ahok dicopot dari jabatan Gubernur DKI. Tapi dugaan makarnya terkait UUD.

“Berarti kan enggak murni soal kembali ke UUD 1945. Seperti sudah mati akal, jadi mencari cara akal-akalan,” terang dia.
Kendati demikian, Anton Medan menuturkan mewacanakan kembali kepada UUD 1945 tidak ada larangannya tapi disampaikan didalam diskusi ilmiah. Kembali seperti yang dimaksudkan itu pun memungkinkan, tetapi melalui mekanisme Sidang Umum MPR.
“Kalau bermaksud memaksa MPR atau DPR untuk tujuan itu, jelas tidak boleh,” bebernya.
Dikatakannya, meski mereka tidak mempunyai senjata tapi persoalannya adalah merongrong kewibawaan negara.
“Jangan kejauhan, ini bukan urusan perebutan kekuasaan, tapi soal merongrong kewibawaan negara,” tandasnya.
KALAU MENGENAI PERJUANGAN ISLAM?
Itu juga mengada-ada. Sesungguhnya tidak ada masalah apa-apa dengan Islam di Indonesia. Orang Indonesia yang beragama Islam tidak merasa Islam dizalimi, macam-macam. Malah ingin berbuat sebanyak mungkin untuk bangsa dan negara, bukan membuat ketakutan-ketakutan…
JADI SEHARUSNYA BAGAIMANA?
Jangan jadikan Islam sebagai alat. Ketaatan pada Nabi dengan tahu diri meyakini, bukan melampaui perannya meyakinkan. Agungkan manusia teragung dengan meyakini sepenuhnya kisah Nabi Muhammad yang tiap hari menyuapi pengemis Yahudi buta dengan penuh kasih-sayang meskipun si Yahudi selalu memaki-maki Muhammad yang ia tak tahu tengah memnyuapinya, itu adalah benar-benar terjadi. Meyakini sepenuhnya sebagai kisah yang benar-benar terjadi, ketika Nabi telah wafat tugasnya menyuapi penmgemis Yahudi buta itu diteruskan oleh sahabatnya, si Yahudi bertanya ke mana orang yang biasa menyuapinya karena kasih-sayang dan kelembutannya sangat berbeda, dan alangkah terkejut pengemis buta tersebut ketika diberitahu yang dimaksudkannya adalah Muhammad, dan beliau telah wafat.
Agungkan manusia teragung dengan meyakini sepenuhnya bahwa Muhammad Rasulullah SAW adalah nabi akhir zaman, bukan meyakinkan tentang kenabiannya. Meyakini sepenuhnya bahwa Nabi Muhammad adalah nabi semua umat manusia akhir zaman. Maka tak pantas melampaui batas dengan mengumbar-umbar kata kafir, karena hidayah milik Allah, dan kita tidak tahu siapa yang bakal mendapat hidayah dari Allah. Meyakini saja, bukan meyakinkan, karena meyakinkan itu tugas Nabi, sedangkan bagian kita adalah meyakini.
Meyakini mengandung kerendahan hati, karena haknya begitu, kewajibannya begitu. Tetapi meyakinkan yang bukan hak bukan kewajiban, menjadikan diri bergaya arogan, penuh amarah, tak punya perasaan, sempit wawasan karena otak dan hati nggak nyampe, jadi seolah-olah miskin adab-budaya. Berbeda dengan Nabi, yang akhlaknya tiada tertandingi. Maka jagalah kehormatan Nabi sebagai manusia yang berakhlak mulia dengan membawakan Islam bukan sebagai alat, melainkan jalan hidup yang menebarkan rahmat bagi sekalian alam, membahagiakan semua.



















Tinggalkan Balasan