Jakarta – Saat terjadi euphoria penyambutan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud yang mengunjungi Indonesia dalam rangka menjalin hubungan erat bilateral, ada anomali-anomali yang beredar di dunia maya.

Pasalnya, banyak fitnah alias hoax yang viral, mulai dari capture pemberitaan fitnah yang berisi kecaman media Arab terhadap gaya bersalaman Presiden Jokowi yang disebut-sebut ‘tidak beretika’, sampai capture MetroTV yang dicatut memberitakan Jokowi mendapat gelar “Amirulkaddzab” (yang bisa diartikan sebagai pemimpin penuh kebohongan).

Dalam capture tersebut, MetroTV dicatut memberi judul tayangannya dengan judul “Kerajaan Saudi Berikan Gelar Amirulkaddzab kepada Periden”.

Setelah ditelusuri laman www.pwmu.co, capture tersebut dinyatakan hoax belaka. Sebab, menurut analisis dari laman ini, ada sejumlah kejanggalan yang terdapat di dalam capture pemberitaan tersebut.

Pertama, logika sederhana yang dipakai seharusnya: pihak yang memberi gelar (apapun itu) adalah kepala negara yang dikunjungi, bukan yang mengunjungi.

“Apalagi memberi gelar yang negatif ke kepala negara yang dikunjungi tentu saja sangat tidak masuk akal. Kok kurang ajar sekali, seperti tidak punya tatakrama,” tulis laman tersebut hari ini, Minggu (5/3).

Kedua, foto yang terlihat sangatlah abal-abal. Karena menampakkan dua gabungan foto yang tidak konsisten. Pada foto pertama ada judul berita “Gelar Kehormatan dari Arab”, sementara foto kedua tertulis judul “Kerajaan Saudi”.

Ketiga, penulisan ‘Amirulkaddzab’ tidak benar. Seharusnya kalau mengikuti gramatika Arab, kata itu dipisah menjadi dua kata, yakni “Amir” dan “Kaddzab”. Sebab posisi kata yang pertama menjadi mudhaf, sementara kata yag kedua menjadi mudhaf ilaih. Seharusnya dua kata itu ditulis Amir al-Kaddzab atau Amirul Kaddzab.

Keempat, pada penulisan judul di capture tersebut ditulis: Kerajaan Saudi Berikan Gelar Amirulkaddzab Kepada Periden (seharusnya Presiden).

Kelima, foto itu tidak menjelaskan peristiwa sebenarnya, alias sudah diedit dan tentu saja hoax. Foto itu bukan momen pemberian gelar, tetapi momen di mana Raja Salman menemui sejumlah ulama di Istana Negara.