by

Media Diminta Berimbang Beritakan Pilkada

-Nasional-523 views

JAKARTA – Berbagai pemberitaan tentang Pilkada DKI Jakarta saat ini hingga mempengaruhi tensi sosial politik hingga merambah ke Jakarta, Komisioner KPU DKI Jakarta, Dahlia Umar mengingatkan kepada seluruh perusahaan media jurnalistik agar menyiarkan pemberitaan tentang pemilihan umum dengan bijak, khususnya tentang Pilkada DKI Jakarta.

Salah satu yang ditekankan Dahli adalah netralitas media terhadap seluruh pasangan calon Gubernur dan calon wakil Gubernur DKI Jakarta, sehingga media tersebut tidak dianggap sebagai media yang tidak berimbang dan berpihak.

“Dalam pemberitaan tentang kampanye, media tidak boleh memihak pada salah satu pasangan calon, mengikuti aturan kode etik jurnalistik, dan saat 3 hari masa tenang media tidak boleh menyiarkan kampanye, baik rekam jejak atau sosialisasi pada pasangan calon,” kata Dahlia di Hotel Mercure Jakarta, Senin (23/1/2017).

Ia mengatakan jika media harus memberikan ruang dan waktu yang sama terhadap seluruh pasangan calon. Hal ini lantaran mengingat adanya azas keadilan yang harus dijunjung tinggi dalam menyampaikan pemberitaan, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan apalagi sangat diuntungkan.

“Lembaga penyiaran wajib memberikan alokasi dan durasi yang sama, masing-masing calon diberikan hak sama,” pungkasnya.

“Kami menekankan agar azas keadilan dalam pelaksanaan pemilu dapat dilakukan,” lanjutnya.

KPU DKI Sentil Iklan Paslon di Media
Selain itu, Dahlia juga menyampaikan jika media tidak boleh melakukan kampanye pada pasangan calon selain yang diatur dan dibiayai oleh Komisi pemilihan Umum (KPU). Artinya, tidak boleh ada pasangan calon yang menggunakan hak frekuensi lebih dari yang ditetapkan oleh regulator yakni KPU itu sendiri.

“Kalau ada pasangan calon yang membuat iklan di luar jadwal atau pasangan calon membuat iklan sendiri dengan biaya sendiri, padahal iklan dibiayai oleh KPU, sanksinya adalah pembatasan pencalonan pasanagn calon,” pungkasnya.

Namun Dahlia juga mengingatkan agar perusahaan media jurnalistik tidak bermain curang dengan membuat alibi iklan, yang ternyata dipoles menjadi konten berita. Baginya, hal itu juga tidak boleh dilakukan karena sudah di atur dalam peraturan yang ada.

“Ada juga celah yang bisa dilakukan, yakni iklan (kampanye -red) itu tidak masuk dalam kategori iklan, tapi masuk dalam konten iklan yang dikemas dalam konten berita,” terangnya.

Untuk itu, Dahlia pun mengingatkan lagi jika publik sangat membutuhkan media yang kredibel, netral dan berimbang. Karena jika sampai publik sudah tidak memiliki kepercayaan pada media mainstream, tentu ini akan berdampak buruk karena media tersebut tidak akan diandalkan lagi oleh publik sebagai pemenuhan kebutuhan informasi mereka.

“Ingat, publik membutuhkan media yang bisa memberikan informasi yang bisa diandalkan, jangan sampai publik malah hilang kepercayaan dan media dianggap sudah tidak bisa diandalkan lagi,” tukasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Majelis Nasional KIPP, Standarkiaa Latief juga menyinggung persoalan yang sama. Ia menilai jika sebagai perusahaan pers, seharusnya media dapat memberikan konten yang sesuai dengan fungsi utama mereka.

“Konsep umum fungsi media, saya kira semua paham bahwa ada fungsi kontrol, edukasi dan entertainment. Tinggal kita lihat, proporsi pemberitaan lebih dominan dimana, apakah berfungsi sebagai kontrol atau tidak,” tandasnya.

Terkait dengan pemberitaan dan “penggorengan” isu yang sedang diangkat, Kiaa juga mengkritik beberapa media yang saat ini justru lebih mengedepankan fungsi entertaint saja, dibandingkan fungsi kontrol dan fungsi edukasi yang harus lebih menonjol jika bersentuhan dengan persoalan Pemilihan Umum seperti saat ini.

“Mohon maaf, terkadang media juga lebih meninggikan fungsi entertaint-nya dibanding fungsi edikasi dan fungsi kontrolnya, sehingga kondisi justru berbalik,” keluhanya.

Ia sangat berharap agar media kembali ke ruhnya sebagai media penyebar informasi yang memegang fungsi utama mereka juga, yakni fungsi ekukasi, fungsi kontrol.

“Saya meminta agar instan pers atau media agar kembali ke ruhnya, kembali ke khittohnya,” ujarnya.

Comment

News Feed