Oleh: Achmad Nur Hidayat MPP | Pakar Kebijakan Publik UPN Jakarta, Ekonom & CEO Narasi Institute

Kemunculan varian baru COVID-19 yang dikenal sebagai Pirola (BA.2.86) telah menarik perhatian ilmuwan dan masyarakat global. Varian ini juga sering disebut sebagai “Pirola” di media sosial.

Varian BA.2.86 ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan para ahli karena memiliki sejumlah mutasi yang signifikan, berbeda dari varian omikron sebelumnya yang mendominasi tahun sebelumnya. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat bahkan mengungkapkan pada 23 Agustus dalam penilaian risiko mengenai varian BA.2.86 bahwa varian ini mungkin memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk menyebabkan infeksi pada individu yang sebelumnya telah terinfeksi COVID-19 atau yang telah divaksinasi COVID-19.

Gejala umum yang terkait dengan varian-varian COVID-19 sebelumnya juga termasuk gejala dari varian Pirola. Ini mencakup gejala seperti batuk, sakit tenggorokan, pilek, bersin, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, dan perubahan pada indra penciuman.

Meskipun demikian, berdasarkan informasi yang telah diberikan para frontier, tes dan obat-obatan yang telah digunakan untuk mengobati COVID-19 tidak efektif dalam menghadapi varian ini.

Perkembangan penyebaran varian BA.2.86 juga telah diidentifikasi. Per tanggal 24 Agustus, varian ini telah terdeteksi dalam tiga kasus di Denmark, dua kasus di Afrika Selatan, dua kasus di Amerika Serikat, satu kasus di Israel, dan satu kasus di Britania Raya, menurut GISAID. Di Amerika Serikat, dua kasus varian BA.2.86 telah terdeteksi di Michigan dan Virginia.

Munculnya varian baru ini juga telah memberikan dampak pada sektor kesehatan dan ekonomi di seluruh dunia. Perlu diingat bahwa pandemi COVID-19 sebelumnya telah memberikan tekanan yang signifikan pada ekonomi global. Kemunculan varian baru seperti Pirola dapat memperburuk krisis ekonomi yang sudah ada, terutama jika diperlukan langkah-langkah pembatasan yang lebih ketat untuk mengendalikan penyebaran varian ini.

*Ada tiga hal saran untuk pemerintah Indonesia*

Untuk mencegah potensi ancaman varian baru covid-19 “Pirola”, pemerintah Indonesia perlu memperhatikan langkah-langkah penting berikut,

*_Peningkatan inspeksi dan pemantauan_*
Indonesia perlu secara aktif meningkatkan pengujian dan pengawasan terhadap mutasi virus, termasuk pengurutan genom, agar dapat mendeteksi varian baru dengan cepat.

*_Transparansi informasi_*
Pemerintah harus memberikan informasi yang jelas dan akurat kepada masyarakat tentang perkembangan varian baru, risiko yang ditimbulkan, dan tindakan yang diambil untuk merespons situasi tersebut.

*_Kerjasama internasional_*
Indonesia harus menjalin kerja sama internasional untuk berbagi informasi dan sumber daya dalam upaya pengendalian varian baru, termasuk penelitian dan pengembangan vaksin dan obat-obatan.

Dalam menghadapi ancaman varian baru COVID-19 “Pirola,” penting bagi Indonesia untuk tetap waspada dan proaktif dalam mengambil langkah-langkah pencegahan. Ini mencakup peningkatan pengujian dan pemantauan, berbagi informasi secara transparan kepada masyarakat, dan menjalin kerja sama internasional untuk mengatasi tantangan ini.

Dengan demikian, upaya bersama dalam menghadapi varian baru ini tidak hanya akan melindungi kesehatan masyarakat, tetapi juga akan memitigasi dampak potensialnya pada ekonomi global.

Temukan juga kami di Google News.