Oleh : Achmad Nur Hidayat, Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute

Bagaimana kejadian sebenarnya meninggal nya Brigadir J,anggota Brimob yang bertugas sebagai sopir pribadi istri Kadiv Propam Ferdy Sambo masih gelap,simpang siur dan penuh teka teki. Penjelasan demi penjelasan yang disampaikan pihak Polri berubah rubah,ini yang membuat publik semakin heran, bagaimana institusi yang mengedepankan slogan presisi ini menjadi sama sekali tidak profesional.

Sejak tewasnya Brigadir Yosua dengan berbagai luka yang terdapat pada tubuhnya baik luka tembakan maupun luka sayatan benda tajam membuat publik gempar. Video Keluarga Brigadir Josua di Jambi dilarang membuka peti mayat anaknya oleh petugas kepolisian membuat publik semakin marah. Ada apa sebenarnya dengan institusi ini. Jika itu dilakukan untuk anggotanya sendiri,lalu bagaimana jika itu menimpa masyarakat sipil ?Bukankah akan semakin parah.

Suara untuk mengungkap kasus ini secara tranparan dan terang benderang langsung datang dari MenKopolhukam Mahfud MD yang sedang berada di tanah suci Saudi Arabia. Mahfud MD yang juga menjabat sebagai ketua Kompolnas meminta sekretaris Kompolnas Benny Mamoto untuk mengawasi kasus ini.

Kejanggalan dari kasus penembakan ini memang sudah tercium dari awal. Bagaimana kejadian nya dikatakan terjadi pada hari Jum’at tetapi baru diumumkan kejadiannya oleh pihak Polri pada hari Senin. Alasannya nya pun cukup aneh karena ada hari raya idul adha. Dari penjelasan waktu sudah membuat masyarakat mulai bertanya tanya.

Ketika media melakukan peliputan di sekitar TKP juga banyak hal janggal yang ditemui dari matinya CCTV baik di TKP maupun di pintu masuk komplek yang merupakan komplek Kepolisian. RT setempat yang juga merupakan seorang pensiunan Jenderal Polisi juga sama sekali tidak mengetahui terjadinya peristiwa penembakan yang menewaskan Brigadir J tersebut.

Saat media mengunjungi komplek tersebut ternyata juga mendapat intimidasi dari beberapa orang yang bahkan sampai menghapus rekaman rekaman yang diambil. Ini semakin menguatkan bahwa ada yang ingin berusaha menutup nutupi kasus ini agar tidak diketahui oleh publik.

Publik berharap bahwa kasus tewasnya Brigadir Yosua ini dibuka seterang terangnya jangan ada yang ditutup tutupi,karena yang dipertaruhkan dalam perkara ini adalah nama institusi kepolisian. Jangan sampai untuk melindungi Pati Kepolisian maka penyelesaian kasus ini dilakukan secara tidak profesional.

Jabatan seseorang akan ada batas akhirnya termasuk para pejabat kepolisian tapi institusi kepolisian selama Republik ini ada maka institusi kepolisian akan tetap ada. Publik sangat berharap kepada TGPF yang telah dibentuk agar bekerja secara jujur dan profesional,karena terlalu besar taruhannya jika harus menutup nutupi fakta yang sebenarnya terjadi hanya untuk melindungi pihak tertentu.

Temukan juga kami di Google News.