Jakarta – Sinyalemen Grace Natalie, Ketua Dewan Pembina Partai PSI, bahwa para pengeroyok Aktivis Medsos Ade Armando, pada 11/4/2022, diduga berasal dari para mantan anggota dan/atau simpatisan HTI dan FPI yang saat ini menjadi relawan Anies Baswedan, merupakan suatu peringatan akan perlunya “kewaspdaan nasional”.

Hal ini disampaikan oleh Petrus Selestinus, Koordinator Pergerakan Advokat Nusantara (Perekat Nusantara) karena melihat gejala kemerosotan terhadap kewaspadaan nasional di tengah menguatnya perilaku Intoleran, radikal dan teroris oleh sebagian orang yang mencoba menggantikan ideologi negara Pancasila dengan Ideologi Khilafah.

“Ini yang jadi momok menakutkan bagi Masyarakat karena mengamcam eksistensi NKRI. Jadi apa yang dikatakan oleh Grace Natalie adalah ajakan untuk meningkatkan kesadaran bela negara, yang mengalami kemerosotan karena pragmatisme politik yang melanda hampir semua elit parpol juga kemerosotan rasa nasionalisme di kalangan anak muda.”, jelas Petrus, hari ini.

Petrus melihat bahwa Grace Natalie menunjukkan kewaspadaan. Artinya HTI dan FPI sudah dibubarkan, akan tetapi gerakan yang mengarah kepada perilaku Intoleran, Radikal dan Teroris masih saja terjadi, sebagaimana Densus 88 telah banyak menangkap pelaku-pelakunya. 

“Jadi pernyataan Grace Natalie bahwa para pelaku pengeroyok Ade Armando diduga berasal dari para mantan anggota dan simpatisan Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sangat beralasan, apalagi HTI dan FPI adalah pendukung  Anies Baswedan ketika menjadi Calon Gubernur DKI Jakrta 2017 lalu.”, imbuh Petrus.

Anies Baswedan dalam kesempatan lain memang membantah kesan publik bahwa dirinya bukan Gubernur Ektrimis dan Radikal, akan tetapi oleh karena barisan pendukungnya disebut-sebut para mantan anggota HTI dan FPI, maka publik mulai memetakan mana calon pemimpin masa depan yang berjiwa Pancasilais dan mana yang bukan. Anies Baswedan juga memiliki kedekatan dengan kelompok yang selama ini diposisikan sebagai kelompok garis keras yang sering berperilaku intoleran dan radikal, bahkan dihubungkan dengan kelompok 212, hal itu nampak jelas sejak Anies Baswedan mulai memasuki kampanye Pilkada DKI 2017 dan memenangkan Pilkada DKI. 

“Anggota FPI dan HTI pasca pembubaran terus berkiprah dan bermetamorfosa sehingga bisa saja format yang paling sederhana adalah dengan membentuk Relawan Capres 2024, adalah yang chemistry secara ideologi adalah Anies Baswedan, dan melalui relawan Capres Anies Baswedan mereka akan dengan mudah mengkonsolidasikan kekuatan kelompoknya dalam kepentingan ke depan termasuk pendanaan.”, jelas Petrus.

Petrus menambahkan bahwa pernyataan Grace Natalie justru mengingatkan tugas Pemerintah belum tuntas dan belum cukup hanya dengan membubarkan HTI dan FPI, karena roh HTI dan FPI tetap hidup dan terkonsolidasi dalam HTI dan FPI sebagai ormas yang tidak berbadan hukum.

“Sebagai Ormas berbadan hukum HTI sudah tutup buku, FPI juga. Namun UU Ormas tidak melarang sebuah Ormas tidak berbadan hukum melakukan aktivitas keagamaan dan kemasyarakatan, meskipun tetap atas nama HTI dan FPI. Di sinilah kelemahan dan masalahnya.”, tandasnya.

Petrus menyarankan agar pemerintah mengakhiri HTI dan FPI sama dengan sikap Pemerintah ketika membubarkan PKI dan menyatakan PKI sebagai Ormas terlarang. Artinya sebagai parpol PKI dibubarkan tetapi sebagai ormas PKI dilarang melakukan kegiatan di seluruh wilayah NKRI, termasuk menyebarkan ajaran Marxisme, Leninisme dan Komunisme.

“Mestinya semua Pimpinan Partai Politik dan Kelompok Nasionalis mendukung pernyataan Grace Natalie untuk terus mewaspadai gerakan Anies Baswedan dan pendukungnya, sebagai wujud kewaspadaan nasional dalam rangka tugas bela negara dan tugas menjaga NKRI, Pancasila, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika.”, pungkasnya.