Oleh : Achmad Nur Hidayat MPP (Pakar Kebijakan Publik dan Ketua Pusat Studi Ekonomi Politik UPN Veteran Jakarta)
Lockdown di Shanghai sudah berlangsung dua minggu. Infeksi COVID-19 varian omicron sudah menyebar keseluruh wilayah di Shanghai.
Pusat keuangan China Shanghai melaporkan lebih dari 27.000 kasus virus corona pada Kamis 14/4, tertinggi baru, dalam sehari.
Shanghai adalah wilayah China dengan 25 juta penduduknya sebagian besar masih terkunci, meskipun pembatasan sebagian dilonggarkan di beberapa daerah.
Shanghai yang mempunyai PDB yang paling besar dimana lebih dari 70.000 perusahaan asing berkantor disana tentunya situasi lockdown ini melumpuhkan sebagian besar kegiatan ekonomi disana.
Lumpuhnya Shanghai sangat signifikan bagi terkoreksinya pertumbuhan China ke bawah. Bahkan Lockdown di Shanghai mengakibatkan turunnya permintaan minyak dunia sehingga menurunkan minyak mentah brent ke level USD 98,43 USD/barel atau turun 2.3 persen dari pekan sebelumnya.
Isu pelonggaran lockdown di Shanghai kemudian menaikan kembali minyak mentah brent ke level US$ 104,64 per barel atau naik US$ 6,16 atau 6,3%.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS untuk pengiriman Mei terangkat US$ 6,31 atau 6,7%, menjadi ditutup di US$ 100,60 per barel.
Gaya penanganan COVID-19 oleh Presiden Xi Jinping tidak berubah saat kasus Wuhan 2019 muncul. Pemerintahan Xin Jin Ping melakukan pendekatan yang ketat tanpa toleransi terhadap Covid (Zero Covid) walaupun kemarahan publik makin meningkat dan biaya penanganan yang semakin tinggi.
Indonesia harus mewaspadai situasi ini. Kemungkinan sudah ada varian baru yang harus dipantau perkembangannya.
Jika situasinya berkembang ke arah yang lebih buruk maka Indonesia harus mengendalikan akses-akses dari Shanghai harus dijaga secara ketat sehingga Indonesia tidak kecolongan oleh masuknya virus ini dari warga negara China yang datang terutama Kota Jakarta dan Bali dimana saat ini Turis Asalh China bisa langsung masuk ke Indonesia tanpa karantina.
Situasi seperti ini harusnya dimanfaatkan oleh Indonesia untuk bisa mensuplai pasokan minyak mentah lebih banyak.
Ini bisa menjawab atas tuntutan–tuntutan masyarakat khususnya yang disuarakan oleh mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI mengenai kenaikan harga BBM di Indonesia.
Semestinya harga minyak dunia yang sedang turun ini harus bisa menekan harga BBM di dalam negeri.
Jika kita tidak menggunakan momentum ini untuk memasok minyak maka saat pemberlakuan lockdown di Shanghai ini dihentikan maka kemungkinannya harga minyak mentah dunia akan kembali melambung.
Hanya saja kelemahan di Indonesia menaikan harga BBM saat harga minyak dunia lagi naik tapi tidak turun saat harga minyak dunia lagi turun. Tentunya jika pemerintah pro rakyat dalam artian keberpihakkan kepada publik ini sebagai prioritas maka tentunya harga BBM harus diturunkan. Bukan malah berbisnis dengan rakyat.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan