Jakarta – Hadirnya pesan berantai KPK melalui pesan singkat kepada masyarakat atau SMS Blast KPK menuai banyak pro dan kontra. Lembaga Studi Anti Korupsi (LSAK) turut memberi komentar terkait hal ini.

Peneliti LSAK, Ahmad A. Hariri menilai bahwa SMS Blast KPK bukanlah hal yang harus dipermasalahkan. Baginya, konten pesan tersebut justru berisi ajakan kebaikan yang sepatutnya didukung bersama.

“Kita menghargai keterlibatan publik mengawasi kinerja KPK. Itu penting. Namun lebih terpenting lagi, kita menghormati keberadaan Dewas KPK dengan tidak memanfaatkan fungsinya hanya demi kepentingan kelompok atau hanya sekedar berlatar ketidaksukaan.”, terang Hariri.

Dewan pengawas KPK adalah kultur baik yang lahir dari amanat UU 19/19 agar kerja lembaga anti rasuah ini lebih terbuka dan konsisten menjaga marwahnya.

Hariri menjelaskan bahwa di awal pembentukannya, sebagian orang menolak kehadiran dewas. Tapi nyatanya, dewas KPK terbukti penting dan saat ini kita dapat mengawasi KPK lebih transparan.

“Sangat disayangkan bila kultur baik ini kemudian dirusak oleh kebiasaan-kebiasaan kelompok tertentu yang tidak ingin KPK lebih baik, lebih terbuka, dan hanya ingin KPK sesuai seleranya saja. Sebab sesungguhnya inilah yang melemahkan pemberantasan korupsi.”, imbuhnya.

SMS Blast yang diprogramkan KPK juga bukan hal baru. Program ini giat rutin tahunan KPK yang dilaksanakan sesuai prosedur.

“Maka jangan sekarang mencari-cari kesalahan kalau masalahnya hanya membuat orang dipersalahkan. Manusia sempurna, bukanlah manusia yang tidak pernah berbuat salah, tetapi manusia yang selalu belajar dari kesalahan.”, pungkasnya.

Temukan juga kami di Google News.