“Dapat dilihat, motifnya bukan untuk kepentingan masyarakat tetapi untuk kelompok,” kata Stanislaus.

Apalagi Abdul Muis adalah aktivis HMI yang pernah didapuk sebagai Pjs Ketum PB HMI oleh Majelis Pengawas dan Konsultasi Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (MPK PB HMI). Disebut-sebut, gerbong ini menghendaki Kongres XXXI PB HMI di Makassar.

Dengan latar belakang ini pula yang dinilai bisa menjadi dugaan motif di balik seruan aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh Abdul Muis dalam misi politiknya di kepemimpinan organisasi hijau hitam itu.

Alumni Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (UI) tersebut menilai, seharusnya Abdul Muis dan teman-temannya itu tidak mementingkan pribadi dan kelompok dalam melakukan aksi, apalagi di tengah situasi seperti saat ini.

“Sebaiknya tidak perlu menggunakan motif pribadi dan kelompok untuk intervensi kebijakan negara, apalagi kebijakan yang tujuannya untuk keselamatan masyarakat,” tuturnya.

Dari pada melakukan aksi unjuk rasa yang menimbulkan kerumunan dan berpotensi menjadi ajang penyebaran Covid-19, khususnya kepada masyarakat dan peserta aksi, Stanislaus menyarankan agar PB HMI kubu Abdul Muis mendedikasikan tenaga dan pikirannya untuk membantu masyarakat dan pemerintah dalam menanggulangi pandemi Covid-19.

“Sebaiknya ikut serta membantu negara dalam kegiatan penanganan pandemi seperti organisasi-organisasi pemuda lainnya, aktif membantu negara,” saran Stanislaus.

Lebih dari itu, sikap Abdul Muis Amiruddin sebagai Pj Ketum PB HMI tersebut bisa merusak citra dan elektabilitas organisasi hijau hitamnya itu.

“Iya (bisa merusak nama besar PB HMI),” pungkasnya.