by

Jangan Mudah Percaya Hoax, Jaga Emosi dan Hindari Kalimat Pembuka Provokatif

-Nasional-4,994 views

JAKARTA – Virus Covid-19 hampir setahun menyambangi Indonesia setelah kasus pertama terdeteksi pada 2 Maret 2020 lalu. Hingga kini, kasus Covid-19 masih terus bertambah, pemerintah sendiri telah melakukan berbagai cara untuk memperlambat laju penyebaran virus dengan menerapkan Gerakan 3M (Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak) dan juga vaksinasi secara bertahap.

Namun, pelaksanaan vaksinasi belum disambut positif sepenuhnya oleh masyarakat Indonesia karena vaccine hesitancy yang masih banyak di kalangan masyarakat.

Vaccine hesitancy sendiri merupakan keengganan dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap vaksin dan imunisasi menjadi penghambat terbesar upaya melindungi masyarakat dari berbagai penyakit berbahaya yang bisa dicegah dengan Imunisasi (PD3I).

Vaccine hesitancy muncul dari banyaknya misinformasi dan informasi hoax yang beredar dan meresahkan masyarakat terkait vaksinasi ini.

Ketua Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) DKI Jakarta H. Syarief Hidayatulloh mengajak masyarakat untuk tidak mudah termakan informasi hoax, khususnya seputar hoax covid-19 yang kian meresahkan.

“Kabar bohong yang beredar di ruang publik sangat mengkhawatirkan. Masyarakat kami harapkan bisa menggunakan ruang digital secara sehat, cerdas, dan bermanfaat,” tegas H. Syarief, Rabu (24/2/2021).

Syarief pun meminta agar Pemerintah khususnya Kemenkominfo berkalaborasi dengan Polri untuk melakukan penindakan atau sanksi agar peredaran hoax tidak melonjak. Sebab, sejak program vaksinasi Covid-19 dimulai 13 Januari lalu hoax semakin gentayangan di masyarakat.

“Semua komponen masyarakat agar bahu-membahu bekerjasama dengan Pemerintah untuk melawan oknum yang tidak bertanggung jawab dengan sengaja membuat dan menyebarkan informasi hoax. Kami GPMI komitmen memberantas penyebaran hoax, karena sudah mengganggu ketertiban umum,” jelasnya.

Syarief juga memberikan kiat untuk menangkal informasi hoax vaksinasi Covid-19, salah satunya adalah menjaga emosi. Sebab, emosi sangat memengaruhi masyarakat dalam menerima informasi.

“Setinggi apapun jabatan dan intelektual seseorang, jika menerima informasi dengan emosi maka intelektualitas mereka hilang. Jadi sangat mudah terpengaruh dengan berita yang tidak benar,” katanya.

Selanjutnya, kata dia, pahami 5W1H. Tidak hanya wartawan atau media yang harus memahami dengan benar apa itu 5W1H (What, Where, When, Why, Who & How – Apa, Dimana, Kapan, Kenapa, Siapa, & Bagaimana), tetapi sebagai masyarakat, sudah saatnya untuk memahami konsep 5W1H ini guna memperoleh informasi yang berimbah dan akurat dan tidak mudah termakan oleh hoax.

“Berikutnya, perbaiki Literasi. Jangan malas untuk membaca setiap informasi yang kamu terima. Teliti dengan sumber informasinya dan jangan hanya sekedar menyebarkan informasi tanpa menyaring dulu pesan yang ada di dalamnya,” tambah Syarief.

Dan, Cek Fakta jika mendapatkan foto, video atau tautan berita, jangan malas untuk mengecek keaslian foto dan video serta sumber berita tersebut. Dan berhati-hati dengan kalimat pembuka yang provokatif.

“Kalimat pembuka provokatif menjadi salah satu penyebab penyebaran informasi hoax semakin luas di masyarakat. Kata-kata yang marak digunakan adalah “viralkan”, “sebarkan”, “bagikan” bahkan ada yang menggunakan kata ancaman,” tukasnya.

Comment

News Feed