Berbagai sumber dan analisa bahwa konflik Suriah tidak terlepas dari arus politik global yang ingin membangun pipa gas bumi yang akan melintasi negara Suriah dari Qatar dan Iran ke Eropa. Untuk melancarkan rencana tersebut diperlukan pengaruh dengan cara melemahkan pemerintahan yang ada dan relatip kuat. Strategi yang digunakan adalah menyebar berbagai propaganda ideologi propaganda anti pemerintah menyulut pertentangan antar kelompok masyarakat dengan berbagai sentimen dan puncaknya terjadi perang saudara saat ini.
Indonesia yang memiliki kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk yang banyak (265 Juta) maupun pengaruhnya di Asean tentu akan menjadikan Indonesia memiliki posisi dan peran strategis dalam percaturan politik global. Tidak boleh dinafikkan bahwa banyak pihak yang tidak ingin Indonesia yang kuat, bersatu dan berkemajuan. Pertanyaan, Apakah situasi di Suriah sebelum perang dengan situasi Indonesia saat ini memiliki kemiripan?
Rasanya perlu dicermati dan diantisipasi oleh semua komponen bangsa. Bukankah saat ini sarat dengan berbagai propaganda pertentangan antar tokoh dan kelompok, menyebar fitnah, makian serta kebencian? Yang apabila bangsa ini lengah dapat ditunggangi dan ditumpangi pejuang-pejuang oportunis dari berbagai negara dan kelompok yang ingin melemahkan bangsa dan negara Indonesia serta menjadikannya sebagai objek percaturan global.
Sejarah mencatat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang dicatat oleh masyarakat dunia sebagai bangsa yang rukun dan cinta damai. Oleh karena itu Ormas Pemuda Pancasila mengajak seluruh elemen masyarakat, bangsa dan negara belajar dari konflik Suriah sekaligus mewaspadainya sehingga kerukunan, kedamaian terus bersemayam demi utuhnya persatuan dan kemajuan sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa dan negara Indonesia terdahulu. “Sekali Layar Terkembang, Surut Kita Berpantang” PANCASILA ABADI !

Gunung Hutapea
Ketua Bidang Organisasi & Keanggotaan MPN Pemuda Pancasila
















Tinggalkan Balasan