by

Pilwalkot Solo 2020, Survei IPI : Tren Elektabilitas Gibran Naik

-Nasional-5,808 views

Jakarta – Tren elektabilitas Putra sulung Presiden Joko Widodo sebagai calon bakal Wali Kota Surakarta, Jawa Tengah, Gibran Rakabuming Raka terus mengalami kenaikian. Elektabilitas Gibran berhasil menyalip rival terkuatnya Achmad Purnomo dan sejumlah nama bakal calon lainnya sepanjang Desember 2019 sampai Juni 2020. Hal tersebut berdasarkan hasil survei Indonesian Public Intitute (IPI) yang dilakukan pada 18 – 22 Desember 2019 dan 2 – 6 Juni 2020.

Direktur Eksekutif IPI Karyono Wibowo mengatakan, posisi elektabilitas Gibran pada bulan Juni 2020 sudah unggul di semua simulasi bakal calon yang diuji dibanding pada bulan Desember 2019.

Karyono memaparkan, dari simulasi 15 nama calon, elektabilitas Gibran pada bulan Desember 2019 berada di urutan kedua, posisinya masih di bawah Wakil Walikota Solo Achmad Purnomo yang memperoleh dukungan 41.8 persen. Sementara elektabilitas Gibran masih 29.5 persen. Sedangkan Teguh Prakosa, Muhammad Fajri, Gareng S Haryanto, Anung Indro Susanto, Achmad Sapari, Her Suprabu dan calon lainnya masih di bawah 1 persen. Jumlah pemilih rahasia/belum memutuskan/tidak tahu tidak jawab 25.6 persen.

Hasil survei di bulan Juni 2020, lanjut Karyono, situasinya sudah berbeda. Berdasarkan simulasi 5 nama bakal calon yang muncul di masyarakat, elektabilitas Gibran mencapai 37.8 persen melampaui Achmad Purnomo yang memperoleh dukungan sebesar 28.3 persen. Sementara Muhammad Ali Naharussurur 1,6 persen, Bagyo Wahyono 0,7 persen, dan Muhammad Fajri 0,2 persen. Sedangkan responden yang menjawab Rahasia/Belum memutuskan/Tidak Tau Tidak Jawab jika digabung sebesar 31.3 persen.

“Survei pada bulan Juni 2020 kondisinya sudah berbalik. Elektabilitas Gibran sudah menyalip Achmad Purnomo. Gibran naik 8 persen, sedangkan Achmad Purnomo turun 13.5 persen dari Desember 2019. Kondisi ini disebabkan selain Gibran dan timnya intensif sosialisasi, salah satu faktor signifikan karena pada bulan Mei Achmad Purnomo menyatakan mundur dari pencalonan”, papar Karyono.

Menurut Karyono yang pernah menjadi peneliti di Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) ini, elektabilitas Gibran berada di puncak ketika diuji dalam pertanyaan spontan/terbuka (Top of Mind) tentang siapa calon walikota Surakarta yang akan dipilih jika pilkada dilakukan pada saat ini. Elektabilitas Gibran Rakabuming Raka 23.7%, Achmad Purnomo 15.5%, Fx Rudyatmo 1.9%, Muhammad Ali N 0.7%, Teguh Prakosa 0.7%, dan BRA putri Wulansari 0.2%. Sedangkan yang menjawab tidak akan memilih (golput) 0.7%, Rahasia 3.2% dan yang menjawab belum ada calon yang dipilih 53.4%.

Jika ada empat nama calon walikota Surakarta, Karyono menyebut, elektabilitas Gibran semakin tinggi, 46,3 persen, Muhammad Ali Naharussurur 3,3 persen, Muhammad Fajri 1,6 persen, Bagyo Wahyono 1,4 persen dan mengatakan Rahasia/TT/TJ/Belum memutuskan sebanyak 47,4 persen.

Tak sampai di situ, tingkat keterpilihan Gibran juga paling tinggi jika hanya ada tiga nama calon Walikota Surakarta pada Pilkada 2020 mendatang. Survei menunjukkan elektabiltas Gibran mencapai 49, 5 persen, Muhammad Ali Naharussurur 3,3 persen, dan Bagyo Wahyono 1,2 persen. Sementara yang belum menentukan pilihan atau menyatakan rahasia 46,0 persen.

Posisi Elektabilitas Calon Wakil Walikota

Sementara itu, Calon Wakil Walikota Surakarta pada survei Juni 2020 dalam pertanyaan spontan (top of mind) adalah Teguh Prakosa 12,3 persen, Gibran 9,0 persen, Achmad Purnomo 5,1, BRA Poetri Woelansari 2,3 persen, Muhammad Ali N 1,6, Ginda Ferachtriawan 1,2 persen, Budi Prasetyo 0,9 persen, Fx Rudyatmo 0,5 dan Fx Supardjo 0,2 persen. Sementara yang menyatakan Golput 0,2 persen dan rahasia atau tidak memutuskan 2,3 persen
 
”Sedangkan dalam pertanyaan tertutup, dari 6 nama bakal calon wakil walikota, elektabilitas Teguh Prakosa berada paling puncak sebesar 21,2 persen, BRA Putri Woelansari 4,4 persen, Ginda Ferachtriawan 3,0 persen, Budi Prasetyo 2,1 persen FX Supardjo 1,6 persen dan Achmad Abu Jazid 0,2 persen. Rahasia/TT/TJ/Belum memutuskan 67,4 persen,” tukasnya.

Posisi Elektabilitas Pasangan

Jika diuji pasangan dari tiga pasangan Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota Surakarta, Karyono menjelaskan, elektabilitas pasangan Gibran Rakabuming-Teguh Prakosa 43,0 persen, Pasangan Bagyo Wahyono-FX Supardjo 1,2 persen dan pasangan Muhammad Ali Naharussurur – Achmad Abu Jazid 2,6 persen. Sementara yang mengatakan rahasia atau belum memutuhkan pilihan pada survei ini mencapai 53,3 persen.

”Dan apabila hanya ada dua pasangan, pasangan Gibran Rakabuming -Teguh Prakosa 41,2 persen dan pasangan Bagyo Wahyono – FX Supardjo 1,2 persen,” jelas Karyono.
 
Peta Dukungan Berdasarkan Segmen Pemilih

Dilihat dari sebaran dukungan berdasarkan segmen pemilih jenis kelamin. Dari total 37.8% pemilih Gibran, jenis kelamin laki-laki yang memilih Gibran 36.4% dan perempuan 39.3%. Sedangkan dari total 28.3% pemilih Achmad Purnomo, jenis kelamin laki-laki yang memilih Achmad Purnomo sebanyak 28.6%, perempuan 28.0%. Sedangkan Muhammad Ali Naharussurur, Bagyo Wahyono dan Muhammad Fajri masih jauh di bawah Gibran dan Achmad Purnomo. Adapun sebaran pemilih Gibran dari kategori agama terdiri dari pemilih Islam 37,1 persen, Protestan 47,6 persen, Katolik 37,5 persen, dan lainnya 0,0 persen. Sedangkan dari total pemilih Achmad Purnomo (28,3%), Achmad Purnomo mendapat dukungan dari pemilih Islam 27,9 persen, Protestan 38,1 persen, Katolik 20,8 persen, lainnya 66,7 persen.

Sementara dalam segmen pemilih berdasarkan umur dibawah 20 tahun Gibran 66.7 persen, Ahmad Purnomo 20.0 persen.

Pemilih umur 21-30 tahun elektabilitas Gibran mencapai 46,2 persen, Achmad Purnomo 14,4 persen, Muhammad Ali Naharussurur 0,0 persen, Bagyo Wahyono 2,6 persen, dan Muhammad Fajri 0,0 persen. 

Pemilih berumur 31- 40 tahun untuk Gibran 32, 3 persen, Achmad Purnomo 22.0 pesen, Muhammad Ali Naharussurur 3,4 persen, Bagyo Wahyono 1,7 persen, dan Muhammad Fajri 0,0 persen. 

Sementara itu pemilih berumur 41-50 tahun untuk Gibran mencapai 40,2 persen, Achmad Purnomo 26,5 persen, Muhammad Ali Naharussurur 1,0 persen, Bagyo Wahyono 0,0 persen, dan Muhammad Fajri 0,0 persen.

Adapun pemilih diatas 50 tahun untuk Gibran mencapai 34, 6 persen, Achmad Purnomo 33,6 persen, Muhammad Ali Naharussurur 1,9 persen, Bagyo Wahyono 0,5 persen, dan Muhammad Fajri 0,5 persen

“Dilihat dari sebaran dukungan pemilih, Gibran unggul di semua kategori. Posisi kedua adalah Achmad Purnomo. Yang menarik adalah mayoritas pemilih milenial memilih Gibran. Sedangkan kandidat lainnya masih jauh di bawah”, ujar Karyono.

Kecenderungan dukungan Gibran juga tertinggi berdasarkan segmen pemilih partai. Seperti Pemilih PDI Perjuangan ada 50,9 persen memilih Gibran. Sedangkan yang memilih Achmad Purnomo 28,8 persen. Gibran juga unggul telak dari Achmad Purnomo di pemilih PSI sebanyak 50 persen dan Golkar 37,5 persen. Namun untuk sementara ini (per Juni 2020) Gibran masih kalah dengan Achmad Purnomo di pemilih PAN, Gerindra, dan PKS. Achmad Purnomo didukung pemilih PAN 44,4 persen, sedangkan Gibran hanya 22,2 persen. Pemilih Gerindra yang mendukung Achmad Purnomo 60 persen, Gibran hanya 20 persen. Sedangkan pemilih PKS cenderung kuat mendukung Muhammad Ali Naharussurur sebanyak 50.0 persen, Achmad Purnomo 25.0 persen, Gibran masih 0.0 persen. Sementara dukungan pemilih Nasdem terhadap Gibran dan Achmad Purnomo masing-masing 33,3 persen. Sedangkan kandidat lainnya masih sangat jauh di bawah.

“Pada awal Juni 2020, tren dukungan Gibran dari segmen pemilih PDIP meningkat sebesar 17,9 persen, sebaliknya Achmad Purnomo mengalami penurunan sebesar 18,6 persen dari survei Desember 2019″, tandanya.
 
Isu Dinasti Tidak Berpengaruh Signifikan

Survei IPI ini juga menyoroti soal dinamika isu dinasti politik dalam Pilwakot Surakarta. Karyono mengatakan, sebanyak 27,5 persen responden mendukung secara penuh pencalonan Gibran. Sedangkan 43,0 persen tidak mendukung ataupun melarang karena mencalonkan adalah hak semua warga negara. Sementara 8,5 persen memberikan saran kepada Gibran untuk tidak mencalonkan diri, karena dapat menimbulkan konflik kepentingan, dan 21,1 persen responden mengatakan tidak tahu atau tidak jawab.
 
”Tapi ada sebanyak 55,8 persen yang mengatakan Gibran cukup pantas menjadi calon Walikota meskipun Jokowi sedang mejabat Presiden. 8,1pesen mengatakan sangat pantas, 3,3 persen mengatakan tidak pantas sama sekali, 14,7 persen mengatakan kurang pantas dan 18,1 persen responden mengatakan tidak tahu atau tidak jawab,” katanya.

Ketika diuji tingkat kesukaan terhadap rencana Gibran maju dalam kontestasi Pilwakot, 58,1 persen menjawab cukup suka, 12,6 persen menjawab sangat suka, 11,9 persen menjawab kurang suka, 2,1 persen mengatakan tidak suka sama sekali dan 15,3 persen mengatakan tidak tau/tidak jawab.

Perilaku Masyarakat Solo dan Tingkat Kepuasan Terhadap Penanganan Covid-19

Survei pada awal bulan Juni 2020, IPI juga meneliti perilaku masyarakat Surakarta dalam menghadapi pandemi covid-19. IPI juga mengukur tingkat keseriusan dan kepuasan kinerja penanganan covid-19 oleh walikota Surakarta.

Selama wabah Korona berlangsung, 41,6 persen masyarakat berdiam diri di rumah, 38,8 persen beraktifitas namun lebih membatasi diri, beraktifitas seperti biasanya 18,8 persen, jawaban lainnya 0,5 persen dan tidak tahu tidak jawab 0.2 persen.

Terkait dengan kebijakan kenormalan baru (new normal), ada 57,7 persen masyarakat Solo yang setuju, 28,6 persen sangat setuju, 11,2 persen kurang setuju, 0,7 tidak setuju sama sekali dan 1,9 persen tidak tau tidak jawab.

“Tingkat kepuasan masyarakat terhadap Walikota Solo FX Hadi Rudiyatmo dalam menangani wabah Covid-19 cukup tinggi. 76,6 persen mengatakan puas, 11,6 persen sangat puas, sedangkan yang mengatakan kurang puas hanya 7,2 persen, yang menjawab tidak puas sama sekali 0,2 persen dan yang mengatakan tidak tahu/tidak jawab 4,4 persen”, ucap Karyono.

Menurut Karyono, survei ini melibatkan 440 responden dengan menggunakan metode mulitisge random sampling dengan model wawancara tatap muka langsung menggunakan kuesioner. Margin of error pada survei ini 4,8 persen.

“Untuk bulan Juni 2020 karena survei dilakukan di tengah pandemi covid-19 maka pelaksanaannya menggunakan standar protokol kesehatan” pungkasnya.

Comment

News Feed