by

Jelang Pemilu, Kode Inisiatif: Mari Damai Tanpa Hoaks

-Polhukam-499 views

JAKARTA – 10 hari menuju Pemilu. Ibarat sepak bola, ini sudah injury time sebelum peluit akhir ditutup. Jelang pekan terakhir, menuju pencoblosan ratusan ormas tergabung dalam Konstitusi dan Demokrasi (KoDe) Insiatif menggelar aksi damai di area Car Free Day (CFD), Minggu (7/4/2019).

Aksi tersebut digelar dalam rangka memberi pendidikan dan pemahaman politik kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi, terpecah belah dan tetap menjaga persatuan serta kesatuan bangsa demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mulai menjelang, pada saat dan pasca pelaksanaan Pemilu serentak Tahun 2019.

“Mari damai tanpa hoaks, beda pilihan tetapi tetap berteman. Sukseskan Pemilu damai dan pemilih happy,” terang Koordinator aksi Ihsan.

Disela-sela aksinya, massa juga membentangkan spanduk bertuliskan “PANTAU DAN AWASI PEMILU UNTUK MEWUJUDKAN PEMILU DAMAI 2019” yang ditandatangani peserta CFD. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk menghimbau dan meminta kepada masyarakat agar ikut berperan dan mendukung kesuksesan pelaksanaan Pemilu Tahun 2019 yang damai, aman dan lancar.

Juga membagi-bagikan stiker bertuliskan “PANTAU & AWASI PEMILU 2019 UNTUK MEWUJUDKAN PEMILU DAMAI”.

Ihsan melanjutkan, pihaknya mendorong agar peserta pemilu dalam melaksanakan kampanye harus secara damai dan tertib. Berkompetisi secara sehat dan betul-betul menjadikan pemilu sebagai pesta rakyat dengan meminimalisir intervensi dan politik kotor yang bisa merusak suasana pesta. Dengan menawarkan berbagai nilai edukatif dengan penuh tanggung jawab demi kepentingan bangsa dan negara.

“Penyelenggara Pemilu khususnya KPU dan Bawaslu optimal dalam melakukan pengawasan terhadap berbagai sikap, perilaku, dan tindakan politik yang keluar dari koridor yang telah disepakati bersama,” sebut dia lagi.

Dikatakan dia, pemilih dan publik secara luas dapt berprtisipasi secara aktif. Mendatangi TPS untuk menggunakan hak pilihnya. Juga menggunakan segala daya upaya untuk memantau dan mengawasi pemilu agar berjalan secara demokratis. Dikatakannya, Pemilihan Umum mestinya menjadi pesta demokrasi, pestanya seluruh rakyat Indonesia. Dirayakan dengan sukacita, dengan berbondong bondong mendatangi TPS TPS menyuarakan aspirasinya, mewujudkan kehendaknya, kedaulatan rakyat.

“Akan tetapi, pemilu kali ini seolah olah dianggap sebagai medan peperangan, diibaratkan perang antara kebaikan dan keburukan, diibaratkan perang badar, diistilahkan pula perang total dan banyak istilah lainnya yang menyeramkan,” sesalnya.

Maka itu, tambah Ihsan, menjelang akhir masa kampanye ini, bahkan mendekati masa tenang dan pemungutan suara yang tinggal 10 hari kedepan, makna sesungguhnya pemilu mesti dikembalikan. Pemilu mesti menjadi ajang kebahagiaan, layaknya sebuah pesta – pesta demokrasi.

“Pestanya seluruh rakyat Indonesia untuk mewujudkan kehendaknya, menentukan pilihannya. Siapa wakil rakyat, siapa representasinya yang akan mewakili memimpin bangsa dan negara ini,” tukasnya.

Comment

News Feed