LAMPUNG – Paham radikalisme dan intoleransi masih menjadi momok tersendiri bagi bangsa Indonesia, khususnya para kaum muda calon penerus bangsa. Berbagai seminar dan dialog kebangsaan pun digelar untuk memberikan pemahaman terhadap apa itu paham radikal dan bagaimana dampak kerusakan yang terjadi ketika paham tersebut memapar luas.

Hal inilah yang tampaknya menjadi concern bagi Gerakan Muda Mahasiswa Indonesia (GMMI). Bersama dengan PMII Lampung dan UIN Raden Intan Lampung, pihaknya menggelar dialog kebangsaan dengan tema “Peran Pemuda dalam Menangkal Radikalisme di Lampung”.

Di hadapan para Mahasiswa, Ketua GMMI Muhammad Yuda Pratama mengatakan bahwa radikalisme muncul karena beberapa kalangan mencoba mempersoalkan isu fundamentalisme yakni agama dan identitas. Menurutnya, isu agama dan ras akan direkayasa untuk mencuci otak target mereka agar sepaham dan ikut membenarkan apapun yang mereka lakukan.

“Radikalisme ini terjadi karena kaum fundamentalis yang mem-brainwash (cuci otak) terutama anak-anak muda dari lingkungan kampus,” kata Yuda di UIN Raden Intan Lampung, Senin (20/8/2018).

Labilnya Mahasiswa khususnya Mahasiswa baru dalam memahami agama akan menjadi target empuk bagi kelompok radikal ini mencari para pengikutnya.

“Pikiran mahasiswa dibatasi dan ditakut-takuti. Dan biasanya diberikan buku-buku heroik. Melihat psikologi anak-anak muda atau mahasiswa baru yang mungkin wawasannya masih kosong, itu menjadi santapan mereka,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Raden Intan Lampung, Imam Syafi’i. Ia mengatakan bahwa paham radikal akan mudah menyasar kaum intelektual yang terkesan masih labih seperti kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa bary.

“Kenapa sasaran penyebaran paham radikal dan intoleran adalah mahasiswa baru, karena masih mencari jati diri,” kata Imam Syafi’i dalam kesempatan yang sama.

Untuk itu, ia mengingatkan agar seluruh generasi muda Indonesia khususnya kaum Mahasiswa dan khususnya Mahasiswa baru agar tidak mudah dipengaruhi oleh paham-paham agama yang ekstreme. Ia mengatakan bahwa beragama sebaiknya sesuai dengan yang diajarkan oleh para guru-guru yang mengamalkan agama bersamaan dengan penanaman jati diri bangsa Indonesia.

“Saya pesan, beragama harus sesuai dengan ajaran islam pendahulu kita, harus sesuai dengan jati diri bangsa. Dan gerakan radikal yang sering menyalahkan orang pasti bertentangan dengan jati diri bangsa,” tuturnya.