Jakarta – Delapan hari sudah Setya Novanto memimpin lembaga perwakilan rakyat, DPR, dari balik jeruji Rumah Tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Novanto, yang ditahan KPK sejak pekan lalu, tak mau melepas atau dilepas dari jabatannya sebagai Ketua DPR. Ilwan sebagai mahasiswa Ilmu Politik Universitas Bung Karno, sangat menyayangkan sikap SN tersebut.
“Sikap Setya Novanto itu sangat di sayangkan. Seharusnya setya novanto sebagai publik figur mencerminkan ketegasanya sebagai pemimpin untuk mengundurkan diri dari jabatanya sebagai ketua DPR RI dan sebagai ketua Parpol karena kasus yang menjeratnya,” ujar Ilwan saat di hubungi, 27 November 2017.
Ilwan menilai seharusnya Setya Novanto mempunyai etika politik sehingga tidak mencedari lembaga-lembaga yang di pimpinya.

“Mestinya Setya novanto membangun budaya politik yang baik dan etika politik yang baik, sehingga lembaga-lembaga yang pimpinya tidak dicederai karena ambisiusnya demi jabatan,” imbuh Ilwan.
Ilwan berharap adanya sikap tegas dari MKD untuk mengambil sikap yang baik atas kasus yang menjerat pemimpin DPR tersebut
“Saya rasa bahwa MKD harus bisa mengambil sikap yang tegas sesuai dengan payung hukum untuk memberhentikan beliau, karena ini sudah tidak sehat saya pikir. Dan harus d pastikan bahwa indonesia sebagai negara hukum maka kekuasaan harus tunduk pada payung hukum,” tegas Ilwan.
Sementara itu, Alfonsus Credo Billya Fau S.I.P sebagai alumni Sekolah Tinggi Ilmu Pemerintahan Abdi Negara (STIPAN) menilai bahwa setya novanto harus mematuhi sitem pemerintahan yang berlaku, dan sebagai perwakilan rakyat mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari jabatan DPR RI.
“Secara sistem pemerintahan DPR mempunyai kewenangan diantarnya: fungsi, tugas dan tanggung jawab, hak hak DPR dan kewajiban DPR. Maka sangat disayangkan apabila sebagai representai rakyat ( wakil rakyat) tersangkut dalam kasus korupsi E-KTP,” ucap Credo Fau.
Credo mengatakan bahwasanya politisi harus menjaga kode etikya dengan baik.
“Saya tekankan untuk seluruh politisi yang menduduki jabatan dengan disumpahkan melalui kitab kepercayaannya masing-masing maka jangan pernah bermain di areayang rawan sehingga akan merusak reputasi instansi dan reputasi pribadi sendiri,” tandas Credo.




















Tinggalkan Balasan