JAKARTA – Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya disuarakan, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata di tengah masyarakat. Semangat inilah yang dibawa inovator Bang Jali (Bareng Jaga Lingkungan), Iptu Imam Basori atau akrab disapa Ibas, saat turun langsung menyapa warga di wilayah Sawah Besar, Jakarta Pusat.
Melalui kegiatan tersebut, Ibas mengajak masyarakat untuk menjadikan kepedulian lingkungan sebagai kebiasaan sehari-hari, terutama dalam mengelola sampah sejak dari rumah.
Bukan sekadar kunjungan, kegiatan ini menjadi ruang berbagi gagasan sekaligus membangun kesadaran bahwa lingkungan yang bersih, aman, dan sehat berawal dari keterlibatan aktif masyarakat.
Sebagai perwira Baintelkam Polri sekaligus penggerak inovasi Bang Jali di lingkungan RT 11 RW 7, Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ibas mendorong penerapan pendekatan Green Policing, yakni semangat kepedulian terhadap lingkungan yang diwujudkan melalui edukasi, pencegahan, kolaborasi, dan aksi nyata bersama masyarakat.

“Menjaga lingkungan bukan hanya tugas petugas kebersihan atau pemerintah. Ini tanggung jawab kita bersama. Saya ingin mengajak warga mulai dari hal sederhana, seperti memilah sampah dari rumah, mengolah sampah organik, dan mengurangi sampah anorganik. Kalau dilakukan bersama-sama, dampaknya akan luar biasa,” ujar Ibas.
Bang Jali, Inovasi Berbasis Empat Pilar
Dalam kesempatan tersebut, Ibas memperkenalkan Bang Jali sebagai gerakan inovasi berbasis masyarakat yang mengintegrasikan keamanan, lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi.
Pilar pertama, keamanan. Melalui berbagai inovasi seperti e-Gate 11, CCTV yang terhubung dengan ponsel, GPS 11, Alarm Panic Button, Si Jaga Warga, dan Patrolink, masyarakat didorong membangun lingkungan yang lebih aman melalui kolaborasi warga dan pemanfaatan teknologi.
Pilar kedua, lingkungan. Program Komling (Kompos Keliling) mengajak warga mengumpulkan sampah organik untuk diolah menjadi kompos. Sementara itu, KOMA (Komposter Mandiri) menjadi sarana pengolahan sampah organik rumah tangga, dan Smart Geprek membantu memadatkan botol plastik serta kaleng agar lebih mudah dikelola.
“Jangan langsung melihat sampah sebagai sesuatu yang tidak berguna. Sampah organik bisa menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik yang dipilah dengan benar bisa masuk ke rantai daur ulang. Kuncinya adalah perubahan kebiasaan dan konsistensi,” jelasnya.
Pilar ketiga, pendidikan. Melalui program RT Inggris atau Erte English, yang juga dikenal dengan Eleven Fun Speaking, Bang Jali menghadirkan pembelajaran bahasa Inggris yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.
Program ini tidak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga membuka ruang belajar bagi remaja hingga orang dewasa. Edukasi lingkungan turut diintegrasikan ke dalam kegiatan belajar, sehingga masyarakat dapat meningkatkan kemampuan berbahasa sekaligus membangun kebiasaan memilah sampah.
Dalam sesi tersebut, Mr One turut menjelaskan konsep pembelajaran yang menggabungkan praktik bahasa Inggris dengan kepedulian lingkungan.
“Belajar bahasa Inggris tidak harus selalu di dalam kelas. Kita bisa belajar dari aktivitas sehari-hari, termasuk saat memilah sampah. Misalnya, mengenalkan kosakata organic waste, plastic waste, recycle, dan compost. Jadi, warga belajar bahasa sekaligus memahami cara menjaga lingkungan,” ujar Mr One.
Pendekatan ini diharapkan membuat edukasi lingkungan terasa lebih menyenangkan, mudah dipahami, dan dapat diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Pilar keempat, ekonomi. Melalui RT11Mart, Bang Jali mendorong pengembangan aktivitas ekonomi berbasis komunitas dan pemberdayaan UMKM. Pilar ini memperkuat gagasan bahwa lingkungan yang tertata dan masyarakat yang berdaya dapat berjalan beriringan dengan tumbuhnya peluang ekonomi lokal.
Green Policing Dimulai dari Masyarakat
Menurut Ibas, kekuatan utama sebuah inovasi bukan semata-mata terletak pada teknologi atau program yang dibuat, melainkan pada sejauh mana masyarakat bersedia terlibat dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pendekatan turun langsung ke lingkungan warga menjadi penting untuk mendengar kebutuhan masyarakat, bertukar pengalaman, serta mendorong lahirnya gerakan yang sesuai dengan kondisi setempat.
“Semangat Green Policing harus bisa dirasakan masyarakat melalui tindakan nyata. Kita mulai dari edukasi, memberikan contoh, membangun kolaborasi, lalu mengajak warga bergerak bersama. Tidak perlu menunggu program besar untuk peduli lingkungan. Mulailah dari rumah sendiri,” tegasnya.
Ia juga berharap semangat Bang Jali dapat menginspirasi wilayah lain untuk mengembangkan inovasi sesuai karakteristik dan kebutuhan masyarakat masing-masing.
Bagi Ibas, keberhasilan gerakan lingkungan tidak hanya diukur dari berkurangnya sampah, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran warga, meningkatnya partisipasi masyarakat, dan terbentuknya kebiasaan baru yang berkelanjutan.
Dari Sawah Besar, pesan yang dibawa sederhana: perubahan lingkungan dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan bersama. Melalui kolaborasi keamanan, lingkungan, pendidikan, dan ekonomi, Bang Jali berupaya membuktikan bahwa sebuah kampung dapat menjadi ruang lahirnya inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sampah terpilah, lingkungan terjaga, warga berdaya. Inilah semangat Bang Jali: Bareng Jaga Lingkungan.















Tinggalkan Balasan