Jakarta – Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis PERSPEKTIF (LKSP) Jakarta Andre Vincent Wenas mengatakan event Formula E Jakarta sudah hampir dipastikan merugi.

Kata dia, penyelenggaraan yang tinggal seminggu ini tak mungkin bisa menggaet sponsor yang cukup untuk menutupi biaya capex (capital-expenditure) seperti pembangunan sirkuit, serta biaya opex (operational expenditure) untuk mengongkosi operasional acara balapan nanti.

“Penjualan karcis pun tak bisa diharapkan, target pembeli karcis yang berubah-ubah terus (menurun terus) jelas bakal membuat lubang potensi kerugian makin dalam,” tegas Andre, hari ini.

Menurutnya, soal audit BPK sudah pernah disampaikan untuk direvisi secara komprehensif dari jauh-jauh hari, tapi sayangnya tak pernah digubris oleh Gubernur Anies (Pemprov DKI) sebagai inisiator maupun oleh JakPro sebagai penyelenggara.

“Tinggal sekarang mereka sebaiknya mulai Menyusun draft laporan yang lengkap (operasional maupun perkiran kerugian keuangan) yang mesti dipertanggungjawabkan di depan parlemen (DPRD) secara terbuka (transparan),” sebutnya.

Andrew juga menyayangkan lambatnya kerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) soal ini memang menjadi tanda tanya besar bagi publik. Banyak sekali indikasi dugaan skandal korupsi yang sudah diangkat, mulai dari pertanggungjawaban prosedur pencairan dana lewat “surat sakti” Gubernur kepada Bank DKI, soal hilangnya pohon-pohon Mahoni di Monas dulu yang tidak pernah dipertanggungjawabkan, soal tender pembangunan sirkuit yang over-budget, soal penolakan sebagian besar fraksi di DPRD DKI Jakarta untuk sesi interpelasi soal Formula-E, sampai sekarang soal kualitas konstruksi tribun penonton di sirkuit yang ambruk.

“Kalau mau ditilik secara teliti dan jujur, sebetulnya banyak hal yang perlu disidik oleh KPK. Anggaran rakyat diduga sudah jebol digerogoti oleh konspirator rayap APBD,” katanya.

Masih kata Andrew, kegiatan sponsorship itu intinya adalah kesepakatan (deal) bisnis. Semua perusahaan sponsor kan berhitung cermat, mereka bakal dapat “keuntungan promosi” bagi merek (brand) mereka akan seperti apa?

“Mulai dari ‘awareness’ (dikenal) sampai ke ‘brand-association’ (asosiasi merek) yang positif atau negatif,” ujarnya.

Kalau merk mereka bakal dikenal serta diasosiasikan secara positif oleh sebagian besar akal sehat ‘target-audience’ maka mereka akan tanpa dipaksa-paksa ikut berlomba mensponsori event (acara) itu. Yang terjadi di event Formula-E Jakarta rupanya tidak seperti apa yang mereka harapkan.

“Terlalu banyak asosiasi negatifnya, mulai dari tahap awal yang tercium bau busuk lantaran dugaan konspirasi bancakan anggaran rakyatnya maka terbukti perusahan-perusahaan pada enggan untuk berpartisipasi,” tambahnya.

Andrew melanjutkan bahwa apa yang ada sekarang adalah para sponsor internasional dari FIA (Federation Internationale de l’Automobile) dan Organisasi Formula E pusat, bukan dari event balapan di Jakarta nanti yang diselenggarakan oleh Gubernur Anies Baswedan via JakPro.

“Soal polemik soal sponsorship lokal untuk event di Jakarta bukanlah hal yang aneh, ini adalah refleksi dari kekacauan penyelenggaraan event Formula E sejak awalnya yang penuh bau busuk konspirasi bancakan anggaran,” jelasnya.

Sehingga, kata dia, nilai promosi (promotiona value) event ini bagi perusahan sama sekali tidak ada bahkan cenderung terasosiasi negatif. Maka wajar saja tak ada perusahan lokal yang berakal sehat mau menyeponsori event seperti ini.

“Termasuk BUMN tentunya, mereka kan mesti mempertanggungjawabkan ‘profit and loss’-nya masing-masing, dan itu tidak bisa asal-asalan dalam menyalurkan dana promosi mereka,” pungkasnya.

Temukan juga kami di Google News.