Jakarta – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Habiburrokhman bungkam terkait dengan statemen Ketua Umumnya yakni Prabowo Subianto yang melakukan penafsiran serampangan terhadap hasil beberapa lembaya survei di Indonesia.
“Siapa yang komentar, saya gak mau tanggapi itu,” kata Habib kepada wartawan di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (18/4).
Diketahui, Pengamat politik senior dari Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo memberikan komentar terkait dengan pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.
Dalam keterengannya, Karyono menilai statemen Prabowo sangat berbahaya diucapkan jelang pemungutan suara, apalagi jika dilihat dari hasil beberapa lembaga survei Indonesia, selisih antara paslon nomor 2 dan nomor 3 terbilang sangat tipis, sehingga tidak bisa serta merta ditegaskan hasil survei tersebut adalah gambaran hasil akhir.
“Padahal, sejumlah lembaga survei yang cukup terpercaya mengumumkan selisih antara pasangan nomor 3 dan nomor 2 berikisar antara 1 sampai 2 persen, masih berada dalam ambang batas margin of error antara 4 sampai 5 persen,” kata Karyono dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (17/4).
Dari tipisnya persentase tersebut, Karyono memandang masih ada sekitar 5 persen pemilih yang belum menentukan pilihan. Sehingga dari hasil survei seperti itu kesimpulannya adalah imbang, belum bisa disimpulkan siapa pemenangnya.
“Dalam posisi imbang seperti ini yang menjadi penentu kemenangan adalah suara yang belum menentukan, dan kemungkinan adanya perpindahan (migrasi) pemilih,” tukasnya.
Terlebih lagi, Karyono pun menyayangkan statemen Prabowo yang seolah-olah adanya potensi kecurangan. Pernyataan tersebut bisa menimbulkan persepsi publik bahwa Anies-Sandi pasti menang, dan jika kalah maka pasti ada kecurangan. Statemen semacam ini dinilai Karyono adalah gaya komunikasi yang cukup berbahaya di kalangan bawah.
“Ini persoalan serius, oleh karenanya, kita perlu memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat tentang pemahaman masalah hasil survei. Hasil survei jangan dijadikan untuk mempengaruhi opini publik apalagi untuk memprovokasi masyarakat,” kata Karyono.
Lebih lanjut, Karyono juga kembali menyayangkan statemen Prabowo saat menyinggung persoalan kegaduhan di Jakarta. Ia menilai apa yang disampaikan Prabowo tersebut sangat tendensius, karena seolah-olah kegaduhan dipicu oleh satu orang yaitu oleh gubernur lama. Meskipun Prabowo tidak menyebut nama secara spesifik, akan tetapi publik bisa menangkap pesan bahwa yang dimaksud Prabowo adalah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
“Dalam konteks ini, pernyataan Prabowo tendensius dan subyektif. Mestinya, ketika menyinggung masalah kegaduhan yang terjadi sepanjang tahapan pilgub DKI, Prabowo sebagai negarawan juga perlu menegaskan dan menghimbau untuk menghentikan isu SARA. Jangan hanya menyalahkan satu pihak. Hal ini perlu untuk menjaga marwah Prabowo sebagai seorang negarawan sejati,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan