by

Kabaintelkam Disentil Soal Rusuh Omnibus Law, Pengamat Intelijen: Baca Situasi dengan Cerdas, Bukan Jabatan

-Nasional-3,234 views

JAKARTA – Pengamat Intelijen dan Keamanan, Stanislaus Riyanta mengatakan fungsi intelijen dalam mengantisipasi adanya potensi ancaman harus dilakukan secara dini oleh Komjen Rycko Amelza Dahniel sebagai Kepala Badan Intelijen Keamanan Polri (Kabaintelkam).

Stanislaus menyebut, intelijen memang memiliki tugas mendeteksi dini atau cegah dini yang bersifat keamanan. Menurutnya, banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah berbagai hal-hal bersifat gangguan keamanan, seperti aksi demonstrasi tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja yang berujung pada kericuhan.

Intelijen harus cerdas dalam membaca dan menangani ancaman, dengan kecerdasan (bukan kekuasaan) inilah harusnya intelijen bisa memperkecil potensi ancaman

“Jika intelijen bekerja dengan serius, berorientasi pada prinsip cegah dini, berbagai gangguan keamanan tersebut tentu dapat dicegah, minimal dapat dikurangi,” kata Stanislaus, Jumat, 23 Oktober 2020.

“Intelijen pasti dan harus mempunyai data serta koneksi ke berbagai kelompok atau organisasi massa yang terlibat dalam berbagai aksi termasuk unjuk rasa,” ujarnya menambahkan.

Dia menjelaskan, intelijen seharusnya dapat melakukan pencegahan misalnya dengan teknik penggalangan.

“Contoh praktis misalnya mendekati tokoh-tokoh dari kelompok atau organisasi, lalu mengarahkan bentuk unjuk rasa menjadi diskusi publik atau mimbar akademis yang lebih memungkinkan taat pada protokol kesehatan namun tanpa mengurangi hak menyampaikan pendapat,” kata dia.

Alumni S2 Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia (UI) ini menegaskan, Rycko sebaiknya bisa membaca situasi dengan kecerdasan, bukan dengan jabatan.

“Intelijen harus cerdas dalam membaca dan menangani ancaman, dengan kecerdasan (bukan kekuasaan) inilah harusnya intelijen bisa memperkecil potensi ancaman, menutup celah kerawanan dan menurunkan risiko karena gangguan keamanan,” ucap Stanislaus.

Comment

News Feed