by

Oposisi Ketar-Ketir, Hoax Ratna Bakal Disidang

-Polhukam-943 views

JAKARTA – Drama kebohongan Ratna Sarumpaet soal penganiayaan di Bandung dinilai skenario yang gagal untuk menyudutkan pemerintah yang dilakukan oleh kelompok yang kontra pemerintah atau oposisi.

Kini kasus hoax Ratna memasuki babak baru yang bakal disidangkan sehingga kubu yang pernah dilingkarannya menjadi ketar-ketir.

“Masyarakat awam juga sudah tahu kok rentetan hoax ini siapa yang bermain lalu digoreng sedemikian rupa seolah-olah negara berbuat demikian. Setelah hoax Ratna, muncul lagi selang cuci darah lalu tak kalah hebohnya juga ada 7 kontainer surat suara tercoblos,” tegas Sekjen Jari 98 Ferry Supriyadi, hari ini.

Menurutnya, propaganda yang sudah dimainkan ini sengaja didesain sedemikian rupa untuk menyudutkan pemerintahan Jokowi atau menyerang integritas personal Jokowi itu sendiri. Dia mengingatkan hoax yang dulu pernah dimainkan yakni aksi kekerasan terhadap pemuka agama oleh orang gila.

“Ini kan sama aja, cek saja skenarionya diulang terus menerus dengan disebarkan di media sosial baik facebook, twitter, instagram dan youtube itu di jadikan sebagai media kampanye negatif dalam menyebarkan hoax,” jelasnya.

Dia pun menegaskan bahwa kebenaran materi propaganda tidak diperhatikan lagi, karena yang dipentingkan adalah tujuannya.

“Tujuan dari propaganda hitam tersebut adalah menciptakan keresahan masyarakat, yang ditakut-takuti seolah-olah berita yang disebarkan itu benar adanya. Apa yang mereka lakukan menghalalkan segala cara karena haus sekali dengan kekuasaan,” sebutnya.

Ferry memastikan propaganda hitam tersebut, katanya, sudah meresahkan masyarakat. Hoax yang digunakan sebagai alat propaganda tersebut oleh oposisi dan kelompok anti Jokowi ini dipercayai sebagai kebenaran.
“Penggunaan hoax sebagai alat propaganda (abu-abu dan hitam) cenderung dominan dilakukan oleh oposisi. Hal ini disebabkan kelompok penguasa atau pemerintah bisa melakukan propaganda putih melalui saluran-saluran resmi yang lebih kaya data. Bagi kelompok oposisi yang belum mempunyai bukti kinerja, mempunyai kemungkinan besar untuk menggunakan kabar-kabar negatif, bahkan bohong, sebagai materi propaganda untuk melemahkan persepsi masyarakat terhadap pemerintah atau penguasa,” pungkasnya.

Comment

News Feed