by

Ada LSM Kepanjangan Tangan Asing yang Manfaatkan Kasus Novel Baswedan

JAKARTA – Di era reformasi saat ini terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan NGO ataupun LSM itu sudah bukan hal yang baru. LSM/NGO adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh perorangan ataupun sekelompok orang yang memiliki tujuan-tujuan tertentu yang bisa mempengaruhi kebijakan yang dibuat pemerintah.

Sejatinya, LSM dibuat untuk tujuan yang baik. Seperti pemberdayaan masyarakat, bantuan ke masyarakat, sampai pada fungsi kontrol terhadap pemerintah dan aparat yang ada. Tapi sangat disesalkan, saat ini banyak LSM yang sekarang tidak lebih dari sekedar alat untuk menjatuhkan pemerintah, menggulingkan lawan politik. Parahnya, LSM juga dijadikan sarana untuk melakukan pemerasan dan mencari keuntungan pribadi. Alih-alih berdemo, mengkritik menentang suatu kebijakan, nyatanya hanya kamuflasenya untuk mereguk beberapa juta, ratus juta, atau sampai miliaran rupiah dari pembuat kebijakan.

Jaringan Muda Muslim Jayakarta (JMMJ) mensinyalir LSM yang memperoleh sumber dananya dari badan-badan bantuan asing (internasional) sengaja memperkeruh suasana terkait investigasi kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

“LSM-LSM ini adalah kepanjangan tangan asing di bumi Indonesia. Mereka sengaja mengadu domba antar institusi maupun lembaga. Tudingan-tudingan tendensius dan memperkeruh suasana dengan mendramatisirnya,” tegas Ketua JMMJ Ahmad L, hari ini.

Lebih lanjut, Ahmad meminta kepada masyarakat untuk tidak terpengaruh dan terprovokasi dengan pernyataan-pernyataan LSM yang ketergantungan kepada donor luar negeri itu.

“Kami yakin masyarakat Indonesia sudah semakin cerdas melihat sepak terjang LSM-LSM yang dapat kucuran dari asing ini. Yang menikmati dana mereka, gak ada manfaatnya juga buat rakyat. Alih-alih untuk keadilan nyatanya ada kepentingan terselubung dibalik itu. Ada udang dibalik batu untuk memuluskan misi tersembunyinya itu,” tambah dia.

Maka itu, Ahmad meminta agar pemerintah agar mengevaluasi keberadaan organisasi atau LSM tersebut. Karena, kata Ahmad, LSM ini tak memiliki niat baik untuk kemajuan Indonesia justru mengganggu stabilitas nasional.

“Keberadaan LSM yang dapat kucuran asing ini perlu di evaluasi. Banyak mudharatnya ketimbang faedahnya. Kasus Novel dimanfaatkan untuk ganggu stabilitas nasional,” terang Ahmad.

Kata Ahmad, tidak bisa dipungkiri jika LSM dengan bantuan dana asing itu membawa agenda tertentu, terutama untuk merusak perekonomian bangsa. Mereka masuk melalui berbagai wajah, seperti lingkungan, demokrasi, sosial, hukum dan lainnya. Padahal, tujuan utama mereka untuk mengganggu stabilitas nasional dan menguasai sumber daya alam, sekaligus merongrong perekonomian nasional.

“Keterlibatan masyarakat untuk mengawasi LSM yang menerima dana dari asing sangat penting. Rakyat jangan mau dibodoh-bodohi dengan gerakan LSM ini,” tutur Ahmad lagi.

Selain itu, Ahmad menghimbau kepada publik tanah air agar tidak terpancing temuan investigasi kasus Novel yang dimainkan LSM tersebut. Dan kasus Novel sangatlah rentan dipolitisir oleh salah satu kubu Capres kompetitor petahana.

“Kasihan sebenarnya melihat Novel. Sudah jadi rebutan LSM yang dapat dana asing, malah jadi dagangan kampanye politik untuk 2019. Novel jangan mau dipengaruhi oleh LSM-LSM ini, percayakan saja kepada pihak Kepolisian untuk mengusutnya. Harusnya sudah mulai terang benderang malah direcokin lagi,” pungkasnya.

Comment

News Feed