by

Politik SARA Dampaknya Lebih Dahsyat Dari Politik Uang

-Polhukam-458 views

Jakarta – Direktur Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai politik SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan) dampaknya jauh lebih dahsyat dari politik uang.

“Isu sara itu pengaruhnya lebih negatif dari politik yang. Karena bisa menimbulkan disharmoni, disintegrasi bangsa dan dissosial. Menurut saya jangan sekali-kali gunakan isu SARA sebagai alat politik,” tegas Karyono Wibowo.

Hal itu disampaikan dalam diskusi publik bertema “Pemilu Damai Tanpa Politisasi Sara” di UP2YU Cafe and Resto Cikini Menteng Jakarta Pusat, Senin (9/7/2018).

Lebih lanjut, Karyono mengatakan bahwa residu kampanye menggunakan politik identitas selalu memunculkan isu pribumi dan non pribumi. Kata dia, hal ini dianggap membahayakan keberagaman bangsa yang berbeda bahasa, suku dan agama.

“Isu sara sangat bahaya ketika digunakan dalam propaganda isu kampanye,” ucapnya.

Namun, Karyono mengaku kurang yakin jika politisasi SARA bisa hilang 100 persen di Indonesia. Karena isu itu tidak hanya di Indonesia tapi juga di beberapa negara juga ada yang memakai isu primordial.

“Bagi negara Amerika misalnya yang masyarakatnya udah maju, mungkin tidak terlalu parah. Tapi di Indonesia dimana pendidikan politik masih minim, tingkat kesadaran politik, pendidikan masyarakatnya juga masih rendah. Ini yang picu konflik horizontal,” bebernya.

Kendati demikian, peneliti senior tersebut mengatakan bahwa dua hal yakni politisasi SARA dan money politik sama-sama dilarang di pesta demokrasi.

“Didalam UU Pilkada jelas sekali mengatur dua hal itu. Tidak boleh menghina seseorang calon Kepala daerah dari sisi sara. Tapi UU Pilkada masih lemah dan belum detail tentang larangan penggunaan isu sara,” tukasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed