by

Komitmen Alumni Afganistan Bersihkan Masjid dari Kelompok Radikal

-Nasional-388 views

Jakarta – Terungkapnya sebuah masjid bernama Ibnu Sabil di bilangan Pisangan Baru, Jakarta Timur yang pernah menjadi tempat persinggahan pengajian Aman Abdurrahman, terpidana mati kasus teroris Bom Thamrin, warga dan jajaran muspida setempat baru tersadar kalau apa yang mereka curigai ternyata terbukti.

Selama ini dari pengeras suara Masjid yang berada di Jl. Pisangan Baru Tengah No.317B, Jakarta Timur memang kerap kali terdengar ceramah-ceramah agama yang dikaitkan dengan situasi politik dan ajakan berjihad. Namun warga yang mendengar enggan untuk melapor kepada ketua RT/RW setempat lantaran melihat memang di masjid tersebut sering diadakan pengajian dan ada pengurus masjid yang tentunya bertanggung jawab terhadap segala kegiatan didalamnya.

Pihaknya berusaha menelusuri kebenaran rumor itu dengan mewawancarai beberapa warga dan pengurus setempat serta tokoh mantan teroris yang bergabung kedalam Forum Komunikasi Alumni Afganistan Indonesia (FKAAI) baru-baru ini di Jakarta.

“Saya memang kerap mendengar isi ceramahnya berkaitan dengan politik dan ajakan berjihad,” terang Ketua Lembaga Masyarakat Kota (LMK) Pisangan Baru, Bambang saat ditanya kebenaran masjid Ibnu Sabil yang konon beraliran keras.

Selain dengan kisah kelompok pengajian teroris, rupanya masjid itu juga dikenal sebagai masjid yang dikenal seram (angker) meski disiang hari.

Hal itu diakui oleh Ketua RW 11, Edi Julia Basir yang mengaku demi membuktikan keangkeran itu, anaknya pernah beritikaf selama 10 hari tidur didalam Masjid Ibnu Sabil, namun tidak menemukan hal-hal yang aneh apalagi seram.

“Masjid Ibnu Sabil dulu memang boleh dibilang angker tapi sekarang tidak ada karena anak saya pernah iktikaf 10 hari di masjid, dan dia baik-baik saja,” jelasnya menepis anggapan masjid yang diisukan angker.

Isu angker dan sebagai pusat pengajian teroris sebenarnya telah tertepis dengan adanya berbagai kegiatan didalam masjid itu. Selain pengajian rutin warga dan ibadah sholat berjamaah didalam masjid yang terpusat dilantai atas, pada bagian lantai bawah juga digunakan sebagai Taman Kanak-kanak Islam Terpadu yang aktif setiap pagi.

“Dulu masjid ini memang lebih sering digunakan oleh kelompok-kelompok atau golongan pengajian tertentu, seperti kelompok pengajian jemaah asal Padang atau Aceh. Bahkan awal-awalnya masjid ini cenderung ‘dikuasai’ oleh sebuah parpol karena begitu banyak logo parpol tersebut dihampir setiap perabot masjid termasuk cangkir,” ujar Edi di kantor sekretariat RW 11, Pisangan Baru (Selasa,03/07/2018).

Ke-ekslusifan kelompok pengajian itupun lambat laun menghilang karena hadirnya peranan para pengurus masjid yang melibatkan langsung penduduk setempat.

“Aman Abdurahman memang pernah datang ke Masjid Ibnu Sabil, tapi dia tidak sempat mengajar karena ajarannya sudah tersinyalir keras, diantaranya dengan mengatakan bahwa semua kafir. Begitupun dengan Abu Jibril (pendiri Majelis Mujahidin Indonesia) yang pernah singgah ke masjid ini,” tambah Edi saat ditanya siapa saja tokoh teroris yang pernah menggelar pengajian ditempat itu.

Sedikit berbeda dengan keterangan dua pengurus masjid Ibnu Sabil, Abi Abdul Kohar (59) dan Doni Slamet (54), keduanya juga merupakan penduduk asli setempat. Menurut Doni, Aman pertama kali menginjakkan kaki ke masjid ini sekitar tahun 2010, dan beberapa kali sempat terlihat mengisi pengajian setiap malam Rabu. Jadwal pengajian yang diselenggarakan Aman berbeda dengan pengajian lainnya yang juga diselenggarakan di masjid tersebut. Pengurus masjid pernah menegur Aman manakala Aman pernah kedapatan memberikan ceramah kaidah Islamiyah dan tafsir Al Quran yang kemudian diarahkan pada adanya pimpinan yang thaghut di Indonesia, dan mengganggap semua kafir.

“Kami dulu sempat coba menegur pengurus masjid sebelumnya yang membiarkan Aman memberikan pengajian di dalam masjid, terlebih belakangan banyak sekali aparat polisi yang datang, manakala pengajian yang dia pimpin digelar,” terang Abi Abdul Kohar di Masjid Ibnu Sabil (Sabtu,30/06/2018).

Agar pihak masjid tidak lagi merasa kecolongan, maka para pengurus masjid berjanji untuk terus melakukan pengawasan terhadap berbagai kegiatan masyarakat yang dilakukan didalam area masjid. Hal ini perlu dilakukan sebab banyak kelompok pengajian dari luar wilayah yang juga turut menggunakan masjid itu sebagai tempat kegiatan. Tidak cukup sampai disitu saja, para pengurus masjid Ibnu Sabil juga akan menyeleksi dan menghentikan kelompok pengajian dari manapun yang menggunakan tempat itu apabila terindikasi melakukan pengajian/ajaran yang menyimpang, termasuk yang menyebarkan paham teroris. Tekad warga untuk memperbaiki citra dan fungsi masjid Ibnu Sabil juga mendapat respon positif dari para pengurus RT dan RW setempat, diantaranya dengan kembali mengaktifkan masjid sebagai bagian dari kegiatan masyarakat (seperti pengajian umum warga), dan  memasang pengumuman bahwa masjid Ibnu Sabil bersih dari kelompok jaringan teroris.

Untuk membuktikan adanya penyebaran pemikiran teroris melalui kelompok-kelompok pengajian, tajuktimur.com mencoba mewawancarai mantan teroris yang kini bergabung kedalam “Forum Komunikasi Alumni Afganistan Indonesia (FKAAI), ustad Farihin (53) yang pernah menjadi combatan di Afganistan.

Menurutnya teroris memang selalu mencari tempat untuk memperluas jaringannya, termasuk dengan membuat kelompok pengajian di masjid maupun rumah-rumah.

“Seperti kelompok teroris Herman di Cipayung dari Jamaah Ansharud Tauhid (JAT) yang berusaha memperluas jaringannya bukan hanya dari masjid ke masjid tapi dari rumah ke rumah, dan kegiatan mereka sekarang masih dalam pemantauan aparat kepolisian,” ungkap ustad Fahirin, disela-sela kunjungannya ke masjid Ibnu Sabil (Sabtu,30/06/2018).

Karena itu pula untuk mencegah masuknya doktrin dan sel-sel kelompok teroris ke masjid-masjid atau perkumpulan pengajian warga, hal utama yang perlu diwaspadai menurutnya adalah dalam merekrut anggota baru biasanya diberikan pemahaman khilafah amaliah (menegakkan Islam dengan jihad/perang/teror) yang kemudian dimintai sejumlah dana infak dan bahkan ajakan untuk melakukan fai (merampok) dengan alasan untuk berjihad (berjuang).

“Setelah sanggup melakukan fai, biasanya mereka yang berhasil direkrut akan diarahkan sebagai pelaku bom bunuh diri, termasuk harus sanggup menyerang aparat dengan senjata tajam (pisau dapur),” papar ustad Farihin.

Ia juga mengingatkan para pengurus masjid dan aktivis remaja yang aktif didalam organisasi keislaman untuk berhati-hati dalam menerima sebuah ajaran Islam. Mereka (para pengurus masjid) harus dilibatkan untuk sosialisasi antisipasi meluasnya jaringan teroris. Sebab para teroris itu sebenarnya bergerak berdasarkan perintah pimpinan (amir) mereka, bukan karena terzalimi. Pembelajaran yang kurang tepat dengan mengambil sumber materi dari medsos juga menambah besar jaringan teroris dengan sendirinya.

“Ideologi Islam adalah aqidah bukan khilafah. Dan Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin yang selalu membawa kedamaian bukan justru membuat kerusakan. Karena itu jika masyarakat mulai menemukan gelagat mencurigakan dari aktivitas pengajian atau lainnya didalam masjid minimal bisa melapor ke Dewan Kerja Masjid (DKM),” tutupnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua FKAAI, Ahmad Sajuli (54) yang menyatakan bahwa Islam bukan agama perusak, tapi agama yang rahmatan lil alamin. Biarpun berbeda-beda keyakinan (penduduknya), tapi jangan sampai terjadi benturan.

“Lakum diinukum wa liya diin, ini himbauan bagi yang sudah terlibat teroris. Kepada anak-anak muda saya pesan, jangan terlibat jaringan teroris. Keliru besar jika ikut kelompok yang mempunyai ajaran mengkafirkan orang lain. Jangan ikuti ajaran itu,” himbau Ketua FKAAI, Ahmad Sajuli saat berada dikawasan jl. Matraman Raya, Jakarta Timur (Selasa,03/07/2018).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed