by

Teroris Masih Gentayangan, Eks Napiter Nilai BNPT dan BSSN Lemah

-Polhukam-244 views

JAKARTA – Mantan narapidana terorisme, Muhammad Sofyan Tsauri juga memiliki pandangan yang sama. Salah satu alasan mengapa maraknya kasus terorisme dan masih menjamurnya paham radikal tersebut lantaran ada kelemahan yang dialami oleh institusi negara itu.

Dalam keterangannya, ia menilai sejauh ini lembaga yang memiliki konsentrasi untuk melakukan penanggulangan terorisme seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) termasuk dengan badan baru yakni Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) masih belum menunjukkan kualitas kerjanya.

“Memang pemerintah punya keterbatasan untuk menanggulangi terorisme. Tapi menurut saya yang sebagai mantan pelaku memang kurang maksimal lembaga-lembaga itu,” kata Sofyan dalam sebuah diskusi publik bertemakan “Teroris Gentarayang, Reformasi Belum Selesai?” di uP2Yu Resto and Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (21/5/2018).

Kemudian ia juga mengrkitisi terhadap penanganan terorisme di Indonesia, dimana perlu adanya infrastruktur deradikalisasi sejak di dalam penjara.

“Sebanarnya kalau ada penangkapan haris dibarengi dengan infrastruktur. Mulai dari penjaranya sampai penangannya. Karena betul, kalau teroris dikumpulkan dalam satu penjara akan jadi universitas baru, kalau dipisahkan akan jadi virus,” tuturnya.

Kemudian dalam memberikan pemahaman dan penyadaran terhadap teroris, Sofyan pun mengatakan sebaiknya mereka adalah orang-orang yang sangat paham betul dengan seluk-beluk terorisme secara luas. Hal ini untuk meminimalisir diagnosa dan penanganan yang tepat bagi para pelaku terorisme agar segera sadar dan kembali ke jalan yang benar.

“Jangan asal orang lakukan pencerahan tapi dia gak paham terorisme sehingga salah diagnosa dan salah obat,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, aktivis senior, Lubis mengatakan bahwa memang ada persoalan yang harus dicermati oleh pemerintah khususnya dalam melihat kinerja lembaga negara yang menyangkut masalah deradikalisasi dan penanggulangan terorisme. Baginya, negara membentuk sebuah badan atau lembaga elite seperti BNPT dan BSSN tidak untuk menghambur-hamburkan uang negara melainkan bekerja semaksimal mungkin untuk mencapai target kerjanya.

Dan munculnya gerakan radikal seperti aksi teror bom bunuh diri dan penyerangan aparat oleh para teroris dewasa ini menunjukkan kinerja lembaga negara tersebut kurang maksimal.

“Banyaknya teroris ya artinya BNPT dan Sandi Negara termasuk badan-badan itu belum berhasil lah,” tutur Lubis.

Di lokasi lain, maraknya ledakan bom dan serangan para teroris di Indonesia beberapa hari yang lalu menuai kritikan serius dari berbagai kalangan, salah satunya adalah Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Dalam aksinya di depan Istana Merdeka, mereka membawa agenda yang salah satunya adalah terkait dengan maraknya terorisme di Indonesia.

Menurut koordinator aksi, Rinto Mamang mengatakan bahwa persoalan tersebut karena lemahnya lembaga negara yang mengurusi masalah penanggulangan terorisme di Indonesia. Salah satunya yang disoroti Rinto adalah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Menurutnya, dengan munculnya bom bunuh diri dan sserangan teroris di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan lemahnya kinerja lembaga yang dipimpin oleh Suhardi Alius itu.

“Dana BNPT itu ratusan miliar rupiah tapi yang digunakan raha puluhan miliar saja. Artinya ada kondisi jomplang dalam penanganan dan penanggulangan terorisme. Kami minta Jokowi copot Kepala BNPT Suhardi Alius,” kata Rinto dalam orasinya di atas mobil komando di depan taman aspirasi, Jakarta Pusat hari ini.

Ia juga mengatakan bahwa persoalan terorisme adalah persoalan serius. Termasuk juga kasus ledakan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya yang menewaskan belasan orang. Baginya, yang menjadi korban dalam insiden tersebut bukan hanya manusia saja, melainkan nilai-nilai keindonesiaan yang menjadi korban.

“Kita masih merasakan duka terhadap peristiwa-peristiwa terorisme yang bukan hanya membunuh rakyat surabaya saja, tapi juga membunuh nilai-nilai reformasi kita,” tuturnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed