by

Petisi Al Quran Jadi Barang Bukti Tak Benar, Aktivis: Teroris Ahli Kompor & Provokasi !!

-Polhukam-278 views

Jakarta – Aktivis 98 tergabung dalam Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (Jari 98) Yudha Galih Banu Adjie menilai isu yang menyebutkan Alquran disita dari rumah terduga teroris dan dijadikan barang bukti rentan di politisasi.

“Kami percaya polisi tidak bermaksud mendiskreditkan umat Islam. Jangan ada politisasi atas isu ini, seperti tuntutan meminta Jenderal Tito Karnavian mundur sebagai Kapolri,” tegas pria yang akrab disapa Galih, hari ini.

“Waspadai isu tersebut dipolitisir,” kata dia lagi.

Dijelaskannya, Alquran bisa saja dijadikan barang bukti namun bergantung pada jenis kejahatannya. Contohnya Alquran diinjak, dirobek dan dipakai untuk kasus penistaan agama, tentu harus menjadi barang bukti. 

Sementara itu, Galih meminta masyarakat untuk tidak terpancing dengan petisi melalui situs change.org dengan judul ‘Alquran Bukan Barang Bukti Kejahatan’. Petisi itu tidak lugas menjelaskan identitas pembuat petisi dan menujukan petisi kepada Kapolri, Komnas HAM, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Jaksa Agung.

“Masyarakat jangan mau terprovokasi dengan petisi tersebut. Ini upaya adu domba untuk melemahkan Polri dalam upaya pemberantasan terorisme. Sekali lagi, jangan di politisir, terorisnya makin kipas-kipas nanti,” jelasnya.

“Kami yakin ada pihak-pihak yang ingin memancing di air keruh dan juga buat gaduh suasana,” tuturnya.

Dikatakan Galih, isu yang dipolitisir dan sudah jelas-jelas dibantah oleh Polisi justru semakin berdampak negatif bagi korps Bhayangkara dalam menjalankan tugasnya.

“Jangan pojokkan Polri, apalagi melemahkan mentalnya dengan membuat grand desaign untuk menyudutkan Polri. Teroris sangat ahli untuk jadi tukang kompor alias provokasi,” tukasnya.

Comment

News Feed