Fokus Literasi Digital, Jari 98 Puji Gerakan Perangi Hoax yang Diinisiasi Kapolda Banten

TANGERANG – Perlawanan terhadap konten negatif di Indonesia makin menguat. Terbaru adalah lahirnya gebrakan literasi digital atau media sosial yang digaungkan oleh Polda Banten didukung Polresta Tangerang dengan inisiator Kapolda Banten Brigjen Pol Listyo Sigit Prabowo.

Ketua Presidium Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (Jari 98) Willy Prakarsa pun memuji gerakan tersebut untuk mengajak generasi milenial dalam memerangi konten berita negatif atau informasi hoax yang kerap disebar melalui medsos.

“Gerakan ini wajib didukung semua elemen bangsa siapa pun itu. Mulai dari akademisi, mahasiswa, aktivis, politisi, santri untuk ikut bersama-sama memerangi konten negatif,” jelasnya.

Dia mengakui bahwa peredaran konten negatif di tanah air sudah di tahap yang mengkhawatirkan dan meresahkan masyarakat. Menurutnya ada jarak yang cukup lebar antara infrastruktur teknologi dan pengetahuan masyarakat Indonesia dalam memanfaatkannya. Akibat jarak tersebut, pengguna internet jadi rentan terhadap disinformasi.

“Kita masih sangat rentan terhadap hoax, bullying, dan radikalisme digital,” bebernya.

Willy menyarankan untuk melawan arus konten negatif perlu upaya memasukkan pengetahuan literasi digital ke kurikulum sekolah dari level SD hingga universitas. Dan mengajak publik figur, para tokoh untuk bisa memberi contoh yang baik bagi generasi muda dalam berinternet.

“Jangan menjadi kompor untuk buat kegaduhan, sebaiknya para publik figur bisa memberikan contoh yang baik dalam berselancar di dunia maya. Semoga publik figur lainnya, baik itu tokoh, pejabat bisa mencontoh langkah Kapolda Banten yang komitmen berantas berita hoax,” sebutnya.

Sementara itu, Kapolda Banten Brigjen Listyo Sigit Prabowo mengatakan, program literasi digital atau literasi media sosial yang digelar ini guna menghalau penyebaran berita bohong atau hoax yang kian masif. Pihaknya berkomitmen menggencarkan program literasi ke berbagai elemen masyarakat.

“Literasi bukan sekadar membaca dan menulis. Literasi adalah upaya meningkatkan daya kritis masyarakat agar memiliki kemampuan mengidentifikasi informasi yang diterima,” ujar Sigit, di gedung serba guna komplek Pemerintahan Kabupten (Pemkab) Tangerang, Sabtu (7/4/2018 ).

Sigit menjelaskan, jika selama ini generasi milenial dianggap turut menyebarkan hoax, maka pelatihan dengan tema Garda Milenial Garda Terdepan Anti Hoax, sesuai ditujukan kepada generasi milenial saat ini.

“Dengan pelatihan ini diharapkan generasi milenial menjadi generasi terdepan memerangi hoax,” ucapnya.

Sementara itu, Kapolresta Tangerang Kombes Sabilul Alif menuturkan, ada lima jenis literasi yang dapat dilaksanakan dalam rangka meningkatkan nalar masyarakat dalam menghalau hoax. Kelima jenis literasi itu, yakni literasi membaca dan menulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi budaya dan kewargaan, dan literasi digital.

“Kegiatan yang diselenggarakan merupakan bagian dari literasi digital. Kami memang berkomitmen menggalakan kelima jenis literasi itu di masyarakat. Dan dikesempatan ini, kami melaksanakan literasi digital atau media sosial yang diperuntukkan bagi generasi muda atau generasi milenial,” jelas Sabilul.

Menurut Sabilul, literasi digital atau media sosial harus mendapat porsi yang besar. Sebab, sebaran hoax saat ini begitu masif di alam digital. Literasi digital merupakan kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer.

“Masyarakat saat ini bisa disebut sebagai gadget, proses pencarian informasi dan riset banyak dilakukan di google. Dengan modal copy paste, umumnya tanpa pikir panjang, langsung sharing tanpa disaring lalu menghujat orang,” tuturnya.

Sabilul menambahkan, pelatihan literasi media sosial akan diisi enam pemateri yang dipimpin Kapolda Banten Brigjen Listyo Sigit Prabowo dan Deputi VI Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa Kemenko Polhukam Arief Perboyo Moekiyat.

Terkait peserta pelatihan, lanjut Sabilul, akan diikuti oleh 133 peserta yang terdiri dari anggota Purna Paskibra tingkat Kabupaten Tangerang, tingkat Provinsi Banten, dan pusat. Selain itu, peserta pelatihan juga turut menyertakan anggota humas jajaran PoldaBanten, Bhayangkari Cabang Kota Tangerang, dan putra-putri Polri.

“Jumlah peserta didominasi kalangan purna paskibra. Hal itu berangkat dari kesadaran bahwa rekan-rekan di lingkungan paskibra sudah tidak diragukan lagi jiwa merah putihnya. Dengan mengikuti pelatihan ini, kami berharap jiwa merah putih itu kian terasah dengan keterampilan di bidang digital atau media sosial,” pungkasnya.