by

Milenialisme via Media

Oleh : Hadi Dulfikri

Dewasa ini kita dihadapkan pada sebuah pengelompokkan generasi. Ini terjadi karena perbedaan perkembangan zaman yang tentunya mempengaruhi sebuah cara pandang. Gaya hidup setiap generasi memang berbeda tergantung tantangan yang dihadapi ketika itu. Setiap generasi punya khas-nya masing-masing mulai dari gaya berpakaian, gaya berpikir, gaya hidup bahkan gaya dalam berkomunikasi juga berbeda. Perbedaan itu yang akhirnya membuat sebuah pengelompokkan tentang generasi. Salah satu hasil dari pengelompokkan generasi tersebut adalah munculnya kelompok generasi milenial.

Sebuah terminologi yang sudah sering digunakan, yaitu generasi milenial. Merupakan istilah yang sering dipakai dan sangat sering diperbincangkan pada saat ini. Generasi atau kelompok demografis yang biasa disebut Generasi Y, generasi ini muncul setelah Generasi X. Teori generasi ini dikemukakan oleh William Strauss dan Neil Howe. Berdasarkan teorinya bahwa generasi milenial (Generasi Y) adalah generasi yang lahir antara 1980 – 2000.

Generasi ini lahir pada saat kondisi dunia sudah lebih baik dan teratur dibanding sebelumnya. Namun, pada masa itu sedang terjadi perang budaya yang mengakibatkan banyak terjadinya asimilasi dan akulturasi budaya. Jika dilihat dari tahun kelahiran berarti saat ini generasi mienial adalah generasi yang berusia 15 – 34 tahun. Artinya sekitar 35% penduduk Indonesia adalah generasi milenial yang juga sedang memasuki usia produktif, hal ini seharusnya menjadi sebuah hal positif bagi Indonesia. Karena jumlah penduduk didominasi oleh usia produktif, apabila benar-benar diatur dengan baik diberikan pendidikan yang tepat dan perluasan lapangan pekerjaan tentunya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Bahkan, bukan tidak mungkin slogan bahwa Indonesia menjadi negara maju 2045 bisa diwujudkan.Milenial

Setiap generasi tentunya memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan perkembangan zaman dan salah satu keunikan generasi milenial terletak pada penggunaan teknologi yang terjadi secara massal. Tercatat sekitar 49,52 % pengguna internet Indonesia berasal dari generasi millennial. Selain itu, akses internet yang kian mudah dan disediakan oleh berbagai macam provider, serta adanya Wi-Fi yang mempermudah akses internet. Nampaknya tidak mengherankan jika penggunaan internet di Indonesia sangatmassive. Hal tersebut juga membuat generasi milenial merupakan generasi yang cepat dalam mendapatkan informasi. Arus informasi dari seluruh dunia masuk tanpa benar-benar bisa tersaring. Akibatnya banyak sekali informasi yang tidak sesuai dengan keadaan budaya di Indonesia, serta sangat mudahnya membuat informasi bohong melalui media. Oleh sebab itu peranan arus informasi melalui media sangat penting saat ini. Sehingga muncul istilah bahwa menguasai media berarti menguasai dunia. Kemajuan teknologi seperti ini tentunya membuat banyak ancaman muncul yang nantinya akan membahayakan generasi milenial ini kedepannya.

Kemajuan teknologi dapat menyebabkan munculnya sikap individualis. Generasi milenial, cenderung cuek terhadap kondisi sosial disekitarnya, mereka lebih mementingkan kehidupan pribadi. Seringkali kehidupan mereka hanya terkoneksi melalui jaringan internet.Followers di akun sosial media menjadi penentu strata hidupnya. Upload tentang keseharian menjadi sebuah kewajiban. Kehidupan yang lebih banyak dilalui lewatchatting membuat mereka cenderung lebih bersikap individual dan kurang bersosialisasi secara langsung. Fenomena yang sering kita lihat adalah ketika mereka berkumpul bersama mereka tetap memainkan gadget-nya. Tenggelam dalam dunia maya menjadi sebuah keniscayaan. Gadget bukan lagi sebagai alat, Namun seolah sudah menjadi bagian atau organ tubuhnya. Sehingga menjadi mustahil apabila bepergian tanpa membawa gadget.

Kemudian, generasi milenial lebih cenderung menyukai hal-hal yang praktis dan menganggap hal yang prosedural atau birokratis itu adalah sesuatu yang konservatif. Hal ini menyebabkan mereka apatis terhadap politik, yang notabene adalah hal yang prosedural dan birokratis. Bahkan berdasarkan survei CSIS yang dirilis pada awal November 2017, menunjukkan bahwa hanya 2,3% dari generasi milenial yang tertarik dengan isu sosial-politik. Selain itu, adanya persepsi bahwa politik adalah sesuatu yang kotor menambah ketidakpedulian mereka terhadap politik. Ini tentunya menjadi sebuah hal yang sangat miris dan membahayakan. Pasalnya, segala kehidupan yang kita lakukan semuanya tidak lepas dari politik. Kita bisa bangun, tidur, makan, beribadah, dan hidup dengan tenang semuanya dipengaruhi oleh faktor politik. Maka, menjadi riskan apabila para generasi muda (milenial) apatis terhadap hal tersebut. Jika dibiarkan sebenarnya bisa menimbulkan ancaman yag lebih besar yaitu politisasi media sebagai alat penguasa untuk menyebarkan hal yang paradoks dari kinerjanya.

Media bisa menjadi sebuah realitas semu, karena seperti yang diketahui bahwa media memegang peranan penting pada saat ini. Arus informasi yang hampir tanpa batas membuat siapa saja bisa menjatuhkan atau bahkan menaikkan citra seseorang melalui media. Bayangkan apabila yang melakukan ini adalah pemerintah, pemegang kekuasaan terhadap seluruh media valid. Sehingga politisasi media sangat rentan dilakukan oleh pemerintah. Terlebih lagi, kedepannya pada tahun 2018 dan 2019 adalah tahun politik yang disana tentunya media menjadi sasaran empuk para politisi untuk melakukan pencitraan. Pihak yang paling diuntungkan adalah pihak pemerintah (petahana). Karena bisa saja melakukan pencitraan dan manipulasi data melalui kekuasaan yang dia punya agar bisa melanjutkan kekuasaan pada periode selanjutnya. Tentunya, ini sangat bertentangan karena seharusnya media bersifat independen dan bebas dari campur tangan pihak manapun. Permasalahan ini sebenarnya sangat berbahaya, karena kita tidak mengetahui kepentingan apa dibalik strategi politik yang mereka lakukan.

Selanjutnya, generasi milenial cenderung malas untuk memvalidasi suatu berita, mereka cenderung menerima informasi hanya dari satu sumber dan enggan untuk membandingkan dengan sumber berita lain atau bahkan melakukan verifikasi terhadap kebenarannya. Sehingga keadaan seperti ini yang akan membuat media sebagai pencipta realitas semu, artinya media sebagai penyebar kepalsuan yang akan menjadi sebuah pembenaran atau doktrin. Realitas semu seperti ini tentunya harus dihindari terutama bagi kita bangsa yang masih berkembang dan situasi politik yang memiliki begitu banyak kepentingan. Karena realitas semu ini bisa menimbulkan banyak kegaduhan dan perpecahan jika terjadi dan dibiarkan.

Terlepas dari segala ancaman tentang teknologi dan media tentunya diperlukan sebuah penanggulangan terhadap ancaman tersebut. Mengubah pandangan generasi milenial sangat diperlukan. Pertama, misalnya membatasi penggunaan gadget dalam semua segi kehidupan. Lebih mengdepankan interaksi secara langsung dibanding melalui dunia maya. Nantinya akan membiasakan kita untuk tetap menjadi makhluk sosial dan tidak menjadi manusia individualis. Berikutnya, menumbuhkan sikap kritis dikalangan generasi milenial sangat dibutuhkan. Peduli terhadap keadaan bangsa, negara dan keadaan sosial, minimal mengetahui permasalahan atau isu apa yang sedang menerpa negara ini. Tindak lanjutnya adalah turut serta mengkritisi pemerintah maupun membantu mereka yang kesulitan secara kondisi sosial. Pendidikan terhadap sosial-politik tentunya sangat diperlukan disini, karena memang hal yang paling diperlukan dari setiap permasalahan adalah sebuah pendidikan. Bukan hanya sekedar memberikan sebuah pengajaran, tapi harus ada follow-upterkait dengan itu. Baik berupa tulisan rekomendasi, penyelesaian masalah, atau apapun yang sekiranya dapat membantu, mengingatkan, dan menyeselasikan masalah. Memanfaatkan media dengan sebaik-baiknya sebagai generasi milenial yang cerdas juga merupakan solusi dari permasalahan. Tidak malas untuk mencari kebenaran suatu berita, serta kedepannya menjadi pemimpin bangsa yang tidak menyalahgunakan wewenang atas kekuasaan.

Menumbuhkan kepekaan sosial, sehingga jauh dari kehidupan dan sikap hedonisme. kepekaan sosial juga diperlukan untuk setidaknya merasakan penderitaan yang mungkin dialami oleh beberapa orang. Selain itu kepekaan sosial juga menjadi modal yang bagus untuk menjadi pemimpin kedepannya agar jauh dari kepentingan pribadi dan kepentingan golongan. Berpikirlah kedepan karena setelah ini adalah tugas kalian untuk memimpin. lalu, untuk para generasi milenial tetaplah berpegang pada idealisme. Karena idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda dan hanya idealisme yang mampu membuatmu berjalan diatas kebenaran.

Comment

News Feed