by

Heboh Ibas Terseret Pusaran e-KTP, Mahasiswa akan Sambangi KPK

Jakarta – Beberapa nama beken mulai dari Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan putra Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) sempat heboh karena namanya ikut terseret dalam kasus proyek pengadaan e-KTP.

Sehingga, kasus yang merugikan negara sebesar Rp 2,3 triliun ini pun menuai reaksi dan polemik di jagat politik Indonesia.

Aktivis mahasiswa tergabung dalam Jaringan Aktivis Mahasiswa Nasional Kerakyatan pun ikut angkat suara dengan berencana menggelar aksi turun kejalan menyambangi Gedung Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) dan DPP Demokrat untuk membuka tabir perihal fenomena tersebut, Rabu (14/2).

“Rencana Rabu besok, kami akan sambangi DPP Demokrat dan KPK. Kami minta KPK bongkar borok kasus e-KTP,” kata Koordinator aksi Aran, hari ini.

Adapun elemen yang tergabung diantaranya adalah Jaringan Aktivis Mahasiswa Nasional Kerakyatan diantaranya :Solidaritas Mahasiswa Anti Korupsi (SOMASI Indonesia), Gerakan Anak bangsa (GERBANG) dan Front Pelajar Mahasiswa Indonesia (FPMI).

Menurut dia, penyidik KPK diminta mengusut dugaan keterlibatan Ibas sebagaimana tercantum dalam catatan Novanto yang bersampul hitam tersebut. Polemik itu berawal muncul dipersidangan kasus proyek e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto. Dia disebut-sebut memerintahkan agar proyek tersebut tetap berjalan.

Semula, mantan Wakil Ketua Badan Anggaran DPR Mirwan Amir mengaku dirinya sempat menyarankan kepada SBY yang kala itu menjabat sebagai presiden, lebih baik proyek e-KTP tidak berlanjut.

Dia mengaku tidak memiliki kuasa untuk menghentikan proyek itu. Oleh karena itu, atas saran dari seorang pengusaha calon vendor e-KTP, Yusnan Solihin, Mirwan melaporkan hal tersebut kepada SBY. Namun SBY tidak menyetujui usulan dari Mirwan Amir. Pria kelahiran Pacitan, Jawa Timur ini menginginkan supaya proyek e-KTP tetap dilanjutkan. Adapun dia mengaku melaporkan hal tersebut di kediaman SBY di Cikeas pada sebuah acara.

Nama Ibas juga jadi pembicaraan karena buku hitam yang selalu dibawa Setya Novanto. Nama Ibas sebelumnya juga dicantumkan Setnov dalam buku catatannya ditulisnya dengan kata justice collaborator. Buku catatan bersampul hitam itu, Novanto buka saat akan menjalani sidang lanjutan pada Senin (5/2) lalu.

Pada salah satu halaman, tertulislah nama Nazaruddin dan Ibas. Di atas dua nama itu, tertulis justice collaborator dan nama Nazaruddin berada persis di bawah tulisan justice collaborator.

Di bawah nama Nazaruddin, Setnov menggambar dua tanda panah. Tanda panah pertama berwarna hitam dan tertulis nama Ibas dan ada juga tanda panah berwarna merah di bawah nama Ibas dan tercantum juga angka USD 500 ribu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed