by

Strategi Generasi Milenial Lawan Radikalisme di Dunia Maya

-Nasional-304 views

Jakarta – Tantangan pemuda di era milenial kini kian kompleks, dunia sedang menghadapi permasalahan besar terkait terorisme dan radikalisme global.

Presidium Youth Movement Institute (YMI) Ismail Adiputra mengatakan pemuda rentan menjadi sasaran penyebaran guna diperdaya sebagai pelaku. Namun, pemuda juga memiliki potensi besar dalam upaya menangkalnya.

“Minimnya pengetahuan masyarakat, berpotensi masuknya paham radikalisme. Jangan sampai telan mentah-mentah,” ungkap Ismail.

Hal itu disampaikan saat diskusi publik bertema “Peran Generasi Milenial: Mahasiswa & Pemuda dalam Merajut Kebhinekaan Guna Membendung Radikalisme” yang diinisiasi Youth Movement Institute (YMI) di RM. Ayam Panggang Rawamangun Jakarta Timur, Rabu (31/1/2018).

Turut hadir narsum dalam acara tersebut yang dipandu moderator Trisnawingki Kiki yakni Kabag Humas dan Umum Dirjen Imigrasi Kemenkumham Agung Sampurno, Tokoh Agama/Intelektual Muda Pdt. Suarabudaya Rahadian, Peneliti Indopolling Network Jakarta Wempy Hadir, dan Ketua PC GP Ansor Jakbar Alfanny. Serta MC Marini Amalia Nasution dan ratusan peserta dari berbagai BEM, Senat, OKP dan media.

Menurut Ismail, ada faktor lainnya, yang mendorong radikalisme masuk dan berkembang yakni karena memiliki keimanan yang lemah, yang berdampak akan mudah dan cepat sekali dimasuki paham-paham baru.

“Terobosan-terobosan apa yang harus dilakukan guna mengatasi radikalisme dan terorisme?,” sebutnya.

Masih kata Ismail, di era Milenial ini bisa juga membendung radikalisme melalui dunia maya. Lanjut dia, menangkal ide-ide radikal di dunia maya membutuhkan peranan semua pihak. Masyarakat sipil dilibatkan untuk menyakinkan bahwa ini bukanlah regime of censorship. Tidak akan ada ruang untuk menyalahgunakan kewenangan terkait penanganan konten negatif di media sosial ini.

“Orang boleh bilang dunia maya dunia tanpa batas, tapi tetap ketika dia beroperasi atau digunakan orang Indonesia, yang ada di teritori Indonesia, maka dia harus patuh kepada aturan-aturan yang ada di negara ini,” ucap Ismail.

“Generasi milenial tidak boleh tinggal diam dan pasif menerima apa adanya. Generasi milenial harus aktif, kreatif dan inovatif, tapi tetap berjalan dalam rel agama dan Pancasila,” sambungnya.

Imigrasi Belum Bisa Protek Teroris Lewat Jalur Darat

Sementara itu, Kabag Humas dan Umum Dirjen Imigrasi Kemenkumham Agung Sampurno menegaskan pergerakan manusia yang datang ke Indonesia merupakan potensi yang besar melakukan radikalisme. Peristiwa keimigrasian bukan sekedar hanya membuat paspor saja namun peristiwa peradaban bagi manusia.

“Masih ada potensi besar pergerakan manusia melakukan radikalisme. Bicara imigrasi, orang masuk ke Indonesia menjadi tanggung jawab bersama,” ujar Agung Sampurno.

Disebutkan Agung Sampurno, data dalam kategori teroris ada 301 kasus, orang asing (teroris) yg dicari jumlah nya ada 142. Namun, data itu yang teridentifikasi.

“Jika lewat darat tidak bisa terdeteksi,” ujar Agung Sampurno.

Publik Diharapkan Bisa Saring Beri Hoax

Ditempat yang sama Tokoh Agama/Intelektual Muda Pdt. Suarabudaya Rahadian menuturkan bahwa fenomena yang terjadi hari ini adalah kelompok reaksioner atau reaktif dengan mengedepankan kebencian, isu sara.

“Lebih tepatnya disebut kelompok reaksioner bukan kelompok radikal,” katanya.

Bagi Rahadian, di era sosial media sentimen negatif masih berkembang biak. Sehingga, publik diharapkan bisa menyaring terlebih dulu setelah mendapatkan informasi.

“Jangan langsung sebarkan informasi yang kenyataannya belum benar atau hoax,” imbuhnya.

Kendati demikian, Rahadian mengakui adanya kegelisahan global seiring kemajuan teknologi dan informasi sehingga muncul keresahan.

“Mahasiswa harus bisa mematakan secara objektif ataupun subjektif dalam masalah yang ada,” cetusnya.

Rangkul Orangnya, Perangi Ideologi Radikalnya

Ketua PC GP Ansor Jakbar Alfanny membeberkan isu radikalisme sudah sangat lama ada, yakni sejak tahun 1990 an dan sudah ada di kampus . Isu radikalisme ini berkaitan dengan orang asing. Tahun 1980 ketika ada perang Afganistan begitu banyak orang Indonesia yang berada disana.

“Ideologinya harus kita perangi tetapi orangnya kita rangkul. Ideologi itu seperti hantu bisa masuk kemana-mana,” kata Alfanny.

Alfanny mengingatkan mahasiswa harus mewaspadai masuknya ideologi dari luar. Dia menyarankan untuk menggandeng masyarakat untuk membantu menanggulangi radikalisme.

“Jangan ragu untuk turun ke rakyat,” kata Alfanny.

Lebih Baik Belajar Sejarah Daripada Habiskan Waktu di Mall

Peneliti Indopolling Network Jakarta Wempy Hadir justru meminta kepada generasi muda untuk bisa merubah mainset agar bisa memahami dan mempelajari sejarah bangsa, Pancasila dan UUD 1945, daripada menghabiskan waktunya di mall.

“Lebih baik kunjungi tempat-tempat bersejarah daripada habiskan waktunya di Mall. Belajar sejarah biar tidak mudah dibodohi,” ujar Wempy.

Dia pun berpesan agar pemerintah bisa bekerja ekstra keras untuk menampung aspirasi masyarakat / pemuda dan merawat Indonesia dalam Kebhinnekaan.

“Adanya ketidak adilan media sosial maka muncullah perlawanan,” pungkasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed